Kasatlantas Janji Proses Hukum Polantas yang Tabrak Guru Ngaji di Batam

398
Pesona Indonesia
Motor korban laka tewas yang di tabrak oleh oknum Polisi di Simpang Jam, Sabtu lalu di amankan di Polresta Barelang, Selasa (22/9). Foto: Johannes Saragih/Batam Pos
Motor korban laka tewas yang di tabrak oleh oknum Polisi di Simpang Jam, Sabtu lalu di amankan di Polresta Barelang, Selasa (22/9). Foto: Johannes Saragih/Batam Pos

batampos.co.id Р Kasat Lantas Polresta Barelang Kompol Henry Andar Sibarani akhirnya merespon kasus anggota Polatnas Polresrta Barelang yang menabrak guru ngaji di Simpang Jam hingga tewas. Ia berjanji akan mengusut kasus ini secara transparan sehingga yang bersalah harus bertanggungjawab.

Saat ini, pihaknya telah menjadwalkan pemeriksaan saksi yang melihat langsung kecelakaan tersebut. Namun, karena dua diantara empat saksi merupakan pegawai negeri sipil (PNS), pemeriksaan saksi pun harus mendapat persetujuan atasan PNS tersebut.

“Ada empat saksi yang akan kita panggil. Mereka ada di lokasi. Namun karena ada dua saksi yang PNS, pemeriksaannya pun harus persetujuan atasan mereka dan itu butuh waktu empat hari,” kata Anda kepada wartawan di lobi Polresta Barelang, kemarin.

Andar mengaku beberapa waktu lalu, pihaknya sudah pernah meminta keterangan saksi tersebut. Namun keterangan itu belum dituangkan di berkas BAP, sehingga harus dipanggil ulang.

“Hanya keterangan sementara. Jadi belum sinkron karena belum dituangkan dalam BAP,” imbuhnya.

Menurut dia, pihaknya masih mempelajari keterangan lisan para saksi yang melihat kejadian. Apakah korban melaju kencang sebelum lampu hijau atau sebaliknya, mobil patroli menerobos lampu merah dalam keadaan kencang.

“Saya tak berani mengatakan mana yang salah atau benarnya. Yang jelas kita masih menyelidiki kejadian. Saya juga belum bisa beberkan hasil penyelidikan sementara,” jelas Andar.

Sementara itu, kata Andar kondisi tiga orang polisi yang berada di dalam mobil patroli itu masih trauma. pihaknya sudah pernah meminta keterangan polisi tersebut, namun belum menuangkan dalam BAP.

“Tak ada perlakuan khusus. Kita hanya mengungkap kebenaran. Kami juga tak mungkin tahan, karena belum tahu siapa yang benar atau salahnya. Yang pasti, proses hukum pasti akan berlanjut bagi yang salah,” tegas Andar. (she/bpos)

Respon Anda?

komentar