Kualitas Udara Batam di Level Terburuk

380
Pesona Indonesia
Batam kembali berselimut asap kiriman. Kepekatan sampai level terburuk dan sangat tidak sehat. Foto: cecep/batampos
Batam kembali berselimut asap kiriman. Kepekatan sampai level terburuk dan sangat tidak sehat. Foto: cecep/batampos

batampos.co.id  – Kondisi udara di Batam makin mengkhawatirkan. Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) dari Stasiun Simpang Jam menunjukkan angka 247, Angka tersebut merupakan yang tertinggi selama musim kabut asap tahun ini.

“Itu artinya kualitas udara sangat tidak sehat. Ini yang terparah,” ujar Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Kota Batam, Dendi N Purnomo, Rabu (23/9.

Berdasarkan pantauan Bapedalda Batam, kualitas udara terus turun sejak siang hingga sore, kemarin. Pada Rabu pagi, ISPU sempat rendah, yaitu 62, pada pukul 12.00 WIB meningkat menjadi 144, pukul 14.00 WIB turun lagi menjadi 122 dan pada pukul 16.00 WIB naik kembali menjadi 129, dan pada pukul 17.00 WIB ISPU kembali melonjak hingga 172. Puncaknya, pada pukul 18.00 WIB ISPU menunjukkan angka tertinggi 247.

Dendi menerangkan, angka ISPU yang berada di kisaran 0-50 berarti baik, 51-100 berarti sedang, 101-199 berarti tidak sehat, 200-299 sangat tidak sehat dan di atas 300 artinya berbahaya.

Data serupa juga didapat dari Balai Teknis Kesehatan Lingkungan (BTKL) milik Kementerian Kesehatan yang dipasang di Bandara Hang Nadim Batam dan di wilayah Sagulung. Data ISPU dari dua stasiun itu juga menunjukkan angka yang tinggi saat hari beranjak petang.

“Pada pukul 19.00 WIB, angka ISPU 241, masih Sangat Tidak Sehat,” kata Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kota Batam, Sri Rupiati, tadi malam.

Tak bosan-bosannya dia mengimbau agar warga Batam tidak keluar rumah jika tidak ada kepentingan mendesak. Pasalnya, paparan asap dikhawatirkan berimbas terhadap kesehatan warga. Jika terpaksa keluar rumah, Sri wanti-wanti agar warga mengenakan masker.

“Masker yang baik itu jenis N-95 yang bahannya lebih padat, karena bisa mencegah dan mengurangi molekul zat kimia berbahaya yang ada di asap masuk ke paru-paru,” kata dia.

Ia juga menganjurkan agar warga memperbanyak minum air putih. Jika mendapati keluhan kesehatan seperti sesak nafas atau gejala Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) agar segera memeriksakan diri ke palayanan kesehatan terdekat.

Sebelumnya, Wali Kota Batam, Ahmad Dahlan juga meminta warga mengenakan masker agar terhindar dari paparan kabut asap yang mengganggu kesehatan.

“Kalau tidak penting jangan keluar rumah,” kata Dahlan beberapa waktu lalu.

Wali Kota juga mengatakan pihaknya telah bersiap dengan berbagai kondisi, termasuk yang terburuk sekalipun. Di antaranya, membagikan masker secara cuma-cuma bagi warga, dan bahkan langkah evakuasi jika diperlukan.

Namun kabut asap ini tidak terlalu menganggu aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Hang Nadim Batam. Sebab jarak pandang tidak aman untuk penerbangan adalah di bawah 800 meter.

Sementara berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Hang Nadim menyebutkan jarak pandang kemarin masih di kisaran 2.000 meter. Kabut asap terlihat semakin pekat karena angin bertiup dengan kecepatan rendah. Sehingga terjadi penumpukan asap.

“Anginya kalem, sehingga kabut asapnya numpuk,” kata Kabag Umum Bandara Internasional Hang Nadim Batam, Suwarso, saat dihubungi, Rabu (23/9).

Namun Suwarso mengakui ada penerbangan dari Hang Nadim yang dibatalkan, kemarin. Yakni penerbangan tujuan Jambi. Akan tetapi pembatalan ini dikarenakan kondisi cuaca di Jambi yang tak memungkinkan untuk penerbangan sipil.

“Penerbangan ke Jambi masih belum normal,” ungkap Suwarso.

Sementara itu, Kasi Data dan Informasi BMKG Batam, Agus Tri mengatakan bahwa kecepatan angin berhembus 20 Km per jam. Ia mengungkapkan kabut asap ini masih berasal dari daerah Sumatera Selatan.

“Arah angin datangnya dari selatan,” ucapnya.

Pantauan BMKG di Batam, jarak pandang pada pukul 09.00 WIB sejauh 10 ribu meter. Kemudian turun menjadi 5 ribu meter pada pukul 11.00 WIB. Jarak pandang ini akan terus turun, bila kecepatan angin masih pelan.

Jarak pandang untuk daerah lain yakni Medan 8.000 meter, Pekanbaru 4.000 meter, Jambi 800 meter, Padang 7.000 meter dan Palembang 2.000 meter. Sementara itu titik panas yang ada di Sumatera sebanyak 867 titik.

Pekatnya kabut asap ini membuat Polair Polda Kepri menambah durasi patroli di laut. Meskipun begitu, kondisi ini dinyatakan masih aman untuk pelayaran di Kepulauan Riau (Kepri).

Kasat Patroli Polair Polda Kepri, AKBP Danu Waspodo, mengaku penambahan durasi patroli ini dilakukan mengingat aktivitas transportasi laut di Batam cukup padat. Mobilitas masyarakat menggunakan kapal juga tak berkuran meski udara diselimuti asap tebal.

“Hingga saat ini belum ada laporan dari nelayan terjadi kecelakaan di laut. Namun untuk itu, kita tetap mencegah sebelum adanya kejadian yang tidak diinginkan,” ujar Danu di kantornya, Sekupang, kemarin.

Ia mengaku, penambahan durasi patroli ini nantinya akan difokuskan pada wilayah-wilayah laut yang menjadi jalur transportasi laut. “Upaya ini agar kapal-kapal tertib dan mematuhi aturan perlalulintasan laut saat kondisi seperti ini,” sebutnya.

Ia menambahkan, petugas di lapangan nantinya akan mengimbau kepada sejumlah kapal yang belum menyalakan lampu navigasi, untuk segera menyalakanya. Karena ini penting bagi keselamatan dan kontrol pemberitahuan kepada kapal-kapal di sekitarnya.

Danu juga menghimbau, kepada kapal transportasi atau kapal penumpang untuk dapat mengurangi laju kecepatannya. Baik domestik maupun internasional. “Imbauan, kami selalu hidupkan lampu navigasi dan turunkan kecepatan,” imbuhnya.

Pada kesempatan ini, Polair Polda Kepri juga ikut membagikan masker ke warga hiterland. Di antaranya warga Tanjungpinang, Karimun, dan Belakangpadang. Di sana, anak-anak sekolah serta warga yang bepergian dengan menggunakan kapal terbuka diberi masker.

“Kami harapkan dapat melindungi pernapasan warga,” pungkasnya.

Sementara itu, sejumlah warga Kota Batam mulai merasakan dampak dari kabut asap yang kiat tebal Rabu (23/9) sore. Mulai dari mata perih, sesak napas, tenggorokan kering, hingga batuk. Namun begitu, masih banyak masyarakat yang enggan menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan.

Seperti yang terlihat di daerah kawasan Batamcenter. Kabut asap tampak sudah menganggu jarak padang pengendara hingga pejalan kaki. Kabut asap kian pekat mulai dirasakan sekitar pukul 14.00 WIB.

Enny, warga Batamcenter mengeluhkan dampak dari kabut asap saat keluar dari salah satu pusat perbelanjaan di kawasan Batamcenter. Menurutnya, kabut tersebut membuat tenggorokannya kering dan mata perih.

“Tadi saya pergi kabutnya tak setebal ini, jadi saya lupa membawa masker,” terang Enny.

Hal yang sama juga diutarakan Rahman, pengendara sepeda motor. Ia mengaku merasakan langsung dampak dari asap sore itu yang semakin tebal.

“Dada jadi sesak dan terasa sakit,” terang Rahman. (rna/ska/rng/she)

Respon Anda?

komentar