Asap Kacaukan Penerbangan dan Pelayaran

374
Pesona Indonesia
Pesawat parkir di Hang Nadim. Sepuluh penerbangan ke berbagai daerah di Indonesia kemarin dibatalkan akibat kabut asap. Foto: cecep mulyana/batampos
Pesawat parkir di Hang Nadim. Sepuluh penerbangan ke berbagai daerah di Indonesia dibatalkan akibat kabut asap. Foto: cecep mulyana/batampos

batampos.co.id – Dampak asap kiriman yang menyelimuti Kota Batam makin meluas, Kamis (24/9). Tak hanya mengganggu kesehatan warga, paparan asap juga mulai mengacaukan aktivitas penerbangan dan pelayaran di kota industri ini.

Di Bandara Internasional Hang Nadim Batam, setidaknya ada 10 penerbangan yang dibatalkan akibat kabut asap, kemarin. Tak hanya itu, ada dua penerbangan yang terpaksa dialihkan (divert), serta tiga penerbangan ditunda atau delay.

“Jarak pandang di bawah normal tadi pagi,” kata Kabag Umum Bandara Internasional Hang Nadim Batam, Suwarso, saat dihubungi kemarin.

Kata Suwarso, berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Hang Nadim jarak pandang pada Kamis (24/9) pukul 08.00 hanya 600 meter. Ini merupakan jarak pandang terendah sejak terjadi kabut asap dalam sebulan belakangan.

Suwarso menjelaskan, penerbangan yang mengalami divert adalah penerbangan Lion Air dan Citilink rute Jakart-Batam. Namun karena situasi yang tak memungkinkan, dua pesawat tersebut tak bisa mendarat di Hang Nadim dan terpaksa dialihkan ke Medan.

Sementara penerbangan yang mengalami delay yakni penerbangan Garuda dan Citilink dari Batam tujuan Medan, Jakarta, dan Palembang. Lama penundaan beragam, antara satu jam hingga dua jam.

“Jarak pandang yang pendek tidak memungkinkan untuk take off,” katanya.

Sedangkan 10 penerbangan dari Hang Nadim yang dibatalkan kemarin lebih dikarenakan kondisi cuaca di daerah tujuan. Namun penyebabnya sama, yakni akibat kabut asap.

Maskapai yang membatalkan penerbangan dari Batam kemarin antara lain Lion Air rute Jambi-Batam-Jambi, Batam-Pekanbaru, Batam-Medan, Batam-Lampung, dan Batam-Semarang. Kemudian maskapai Citilink membatalkan penerbangan Batam-Pekanbaru dan Batam-Padang.

“Sedangkan Sriwijaya (Air) membatalkan penerbangan Jambi-Batam-Medan pulang pergi,” ucapnya.

Jarak pandang di Bandara Hang Nadim berangsur normal jelang siang. Sekitar pukul 09.00 WIB jarak pandang sudah mencapai 2.500 meter, pada pukul 09.30 naik 4.500 meter.

Sementara itu di daerah lainnya seperti Pekanbaru jarak pandang pada pukul 08.00 WIB hanya 100 meter, pukul 09.00 WIB 2.000 meter, pukul 11.00 WIB 3.000 meter. Sedangkan di Jambi pada pukul 08.00 WIB jarak pandang hanya 300 meter, pukul 14.00 WIB naik menjadi 500 meter saja.

Kekacauan akibat kabut asap juga terjadi di Pelabuhan Domestik Sekupang (PDS). Bahkan pelayaran kapal penumpang tujuan Dumai dan Buton terpaksa ditunda, Kamis (24/9).

Kepala Syahbandar Sekupang, Komarudin, melalui staf syahbandar PDS, Aba Eban mengaku jarak pandang sudah masuk tingkat bahaya yakni 200-250 meter. Ini merupakan, tingkat tidak aman dan sangat membahayakan bagi pelayaran dan keamanan penumpang.

“Kami tidak mau mengambil risiko dan menunda keberangkatan kapal Batam Jet dan Dumai Land jurusan ke Dumai dan Button,” kata Aba Eban, di kantornya di Sekupang.

Menurutnya, pekat asap kali ini yang terparah selama terjadinya kebakaran lahan dan hutan di daratan Sumatera. Ia mengaku, untuk jarak pandang normal pelayaran berkisar satu mil (1.600 meter) atau minimal 600 meter.

“Setelah 50 menit tunda, jarak pandang kembali membaik di angka 500-600 meter dan kami baru bisa mengizinkan kapal berlayar kembali,” terangnya.

Meskipun begitu, pihak syahbandar tetap mewanti-wanti para kapten kapal untuk tetap berhati-hati dan memperhatikan standar keselamatan pelayaran dengan penyesuaian kondisi yang ada. Kapal diminta tetap menyalakan lampu navigasi, menyiagakan radio, dan mengurangi kecepatan.

Sementara itu, Akil, seorang kapten kapal Feri Srikandi yang melayani rute Batam-Kuala Tungkal mengaku lebih ekstra hati-hati. Fokus pandangan mata menjadi hal yang utama dalam menjalankan tugas sebagai kapten kapal.

“Di sana lebih parah lagi karena kami lewati area titik api. Jarak pandang hanya 100 meter,” kata Akil.

Ia mengaku, sudah lebih dari 39 tahun menjadi kapten kapal. Pengalaman menjadi modal penting dalam mengarungi laut. “Yang penting jeli dengan mata, bisa melihat situasi dan tidak mendahului Tuhan,” sebut bapak tiga anak tersebut. (ska/rng/rna)

 

Respon Anda?

komentar