Krisis Air Batam Akibat Pembalakan Hutan

551
Pesona Indonesia
Debit air di Dam Mukakuning tampak semakin surut dari hari ke hari, Rabu (16/9). Pada masa krisis air baku ini BP Batam menyatakan tengah mencari solusi jangka pendek untuk mengatasi penurunan produksi air akibat menyusutnya debit air di beberapa dam. Di antaranya, dengan memompa air dari Dam Duriangkang untuk dipindahkan ke Dam Mukakuning sehingga nanti distribusi air lebih merata. Foto: Iman Wachyudi/ Batam Pos
Debit air di Dam Mukakuning tampak semakin surut dari hari ke hari. Pada masa krisis air baku ini BP Batam menyatakan tengah mencari solusi jangka pendek untuk mengatasi penurunan produksi air akibat menyusutnya debit air di beberapa dam.  Foto: Iman Wachyudi/ Batam Pos

batampos.co.id – Wakil Ketua II DPRD Kota Batam, Iman Sutiawan meminta Badan Pengusahaan (BP) Batam menindak tegas aksi pembalakan hutan di sekitar DAM. Akibat terus dibiarkan, hutan menjadi gundul, debit air turun drasistis.

“Kini masyarakat Kota Batam harus merasakan krisis air. Padahal selama ini kita tak pernah mengalaminya, meskipun kemarau panjang,” ungkap Iman Sutiawan. Iman menyebutkan, selama ini BP Batam hanya mengamankan barang bukti kemudian melepaskan pelakunya.

“Tanpa ada sanksi tegas, serta menyerahkan ke aparat penegak hukum yang membuat jera pelakunya,” ungkap Ketua DPC Gerindra Kota Batam ini.

Selain menegakan ketentuan, BP Batam maupun ATB diharapkan menanam pohon serta menjaga kawasan DAM steril dari aktifitas apapun yang dapat merusak. “Bukan hanya mengeruk dan mengambil keuntungan saja. Keberadaannya juga harus dijaga,” ungkap Iman Sutiawan.

Iman juga meminta ATB tak hanya meminta masyarakat yang harus berhemat air bersih. Sedangkan penyaluran ke kapal asing serta perusahaan dalam jumlah besar tak ditelusuri. “ATB jelas-jelas mengakui ada mafia, namun hingga kini tak bisa ditelusuri dan dibuktikan atau dilaporkan,”kata Iman.

Iman mengatakan pengelola maupun pemerintah jangan mendahulukan keuntungan diatas penderitaan masyarakat. “Kepentingan masyarakat harus yang lebih utama,” ungkap Iman.

Diketahui, ATB memulai sistem baru penggiliran pasokan air dengan mematikan produksi air di instalasi pengolahan air (IPA) Seiharapan dan Seiladi mulai Kamis (17/9) lalu. Akibatnya, pelanggan yang terhubung ke IPA tersebut antara lain di Sekupang, Patam, Tanjungriau, Tiban, dan Baloi tak bisa menikmati pasokan air bersih selama mesin dimatikan. Namun tak dinyana, aliran air juga masih seret hingga hari Jumat, padahal IPA telah kembali dinyalakan.

Pola baru penggiliran pasokan air (water rationing) oleh ATB menuai protes. Pasalnya, penghentian produksi air di instalasi pengolahan air (IPA) yang dilakukan rutin setiap hari Kamis dan Minggu ternyata berimbas pada seretnya pasokan air hingga hari berikutnya. Seperti yang dialami warga Tiban Kampung Atsa, Idham yang mengaku air belum mengalir ke rumahnya hingga Jumat (18/9) petang.

“Ini kok malah dua hari air tak mengalir sama sekali, seperti ini kan menyusahkan kami,” ujar Idham, kemarin.

Menurut ia, pada pola rationing sebelumnya air tak mengalir ke wilayahnya hanya sekitar setengah hingga maksimal satu hari. Namun, saat ATB mengubah pola rationing dengan mematikan IPA setiap hari Kamis mulai pukul 00.00 dini hari dan dinyalakan lagi pada Jumat dini hari, air tak kunjung mengalir ke rumahnya yang memang berada di dataran tinggi.

“Jadi kami tidak memperkirakan, sehingga stok air pun kurang, mau mandi susah sekarang,” kata dia.

Karena itu, ia meminta pihak ATB agar meninjau ulang pola rationing yang diberlakukan tersebut. Pasalnya, ia khawatir jika mengikuti pola rationing yang baru, yakni mematikan IPA selama 24 jam penuh setiap hari Kamis dan Minggu, maka air tak mengalir ke wilayahnya selama empat hari dalam seminggu. “Kamis dan Jumat mati, lalu misalnya Sabtu mengalir, Minggu dan Senin mati lagi, jadi dalam seminggu kami cuma dialiri air tiga kali,” urainya.

Corporate Communication Manager ATB, Enrico Moreno mengatakan pihaknya sudah memperkirakan akan ada wilayah yang terdampak dengan durasi yang lebih lama dari jadwal pemadaman IPA. Meski demikian, pihaknya meminta warga yang terdampak agar bersabar sembari menunggu proses pengerjaan peningkatan kapasitas aliran air ke daerah tersebut.

“Program kami untuk menambah pipa terus berjalan, dan mungkin baru selesai sekitar dua minggu,” kata Enrico.

Bagi yang membutuhkan air bersih, ia juga mempersilakan warga yang terdampak uuntuk menghubungi call center 0778-467111 untuk meminta kiriman air lewat tanki air. ATB mengklaim menyediakan sekitar 15 kendaraan tanki air untuk menjawab kebutuhan warga yang butuh air selama periode rationing tersebut.

“Mungkin antri, tapi kami pikir bisa terlayani karena satu mobil dalam sehari bisa melayani hingga lima trip pengiriman air,” jelasnya. (hgt/bpos)

Respon Anda?

komentar