Warga Batam Wajib Minum Obat Kaki Gajah

549
Pesona Indonesia
foto: istimewa
foto: istimewa

batampos.co.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam tengah getol mencanangkan agar warga Batam meminum obat anti-penyakit kaki gajah. Pasalnya, jika sudah tertular penyakit kaki gajah, maka peluang sembuh sangat kecil. (baca juga: http://batampos.co.id/10-09-2015/waduh-14-warga-batam-sudah-jadi-korban-filariasis/)

“Penyakit ini tak bisa disembuhkan, jadi wajib minum obat sebagai pencegahan,” kata Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kota Batam, Sri Rupiati, kemarin.

Ia mengatakan, bulan Oktober nanti merupakan Bulan Eliminasi Kaki Gajah. Pihaknya juga akan mulai membagikan obat pencegahan penyakit tersebut secara luas. Hal ini, kata ia, sebagai langkah mewujudkan target tahun 2020 Indonesia bebas dari filariasis.

“Bebas dalam artian tidak ada lagi penularan penyakit ini ke depannya,” terangnya.

Sri menjelaskan dibutuhkan waktu sampai lima tahun untuk pengobatannya karena sifatnya yang memang harus terus-menerus. Sehingga, terbentuk ketahanan tubuh badan layaknya imunisasi.

“Mata rantainya itu, mengguntingnya pakai obat. Pada 2020 Indonesia harus bebas, masa kalah sama Vietnam,” pungkasnya.

Nantinya, ada Puskesmas di empat wilayah kecamatan Kota Batam yang didahulukan dalam pembagian obat kaki gajah di tahun ketiga program eliminasi filariasis ini. Daerah yang diprioritaskan yakni Puskesmas di wilayah Kecamatan Lubukbaja, Batuaji, Bengkong, dan Kelurahan Sei Langkai.

Puskesmas di empat wilayah ini mulai membagikan obat kaki gajah atau filariasis pada bulan September. Sedangkan daerah lain baru mulai di bulan Oktober mendatang.

“Empat puskesmas didahulukan karena tahun lalu capaian di daerah ini masih rendah, hanya 18-37 persen. Padahal minimalnya 65 persen,”

Menurut Sri, setelah berjalan satu bulan, barulah dicek kembali pencapaiannya. Bila tidak memenuhi target, maka tim akan turun dari rumah ke rumah untuk memaksa warga minum obat kaki gajah ini.

“Dipaksa, harus minum. Kalau nggak kan bisa tertular nanti. Kecuali untuk yang punya riwayat penyakit asma, anak kurang dari 2 tahun, atau penyakit tua kronis,” kata dia.(rna/bpos)

Respon Anda?

komentar