Dituding Jual Air ATB ke Kapal Asing, Pengelola Pelabuhan Bilang Pakai Air Sumur Bor

639
Pesona Indonesia
Pelabuhan Batuampar. Foto: istimewa
Aktivitas bongkar muat di pelabuhan Batuampar. Foto: istimewa

batampos.co.id – Pelabuhan Batuampar menepis tudingan menjual air dari Adhya Tirta Batam (ATB) kepada kapal asing yang lego jangkar. Pengelola menyebut air bersih untuk kapal asing yang jangkar di perairan Batuampar diambil dari air sumur bor, yang setiap hari dipasok puluhan tangki oleh tiga perusahaan swasta.

Namun, hal ini tidak membuat anggota dewan Batam puas. Mereka malah pertanyakan, karena keberadan sumur bor ini dilarang di Batam,” ungkap Anggota Komisi III DPRD Kota Batam, Yunus Muda, Jumat (25/9).

Hal tersebut diketahui Komisi III DPRD Batam ketika melakukan Inspeksi Mendadak (Sidak) ke Pelabuhan Batuampar belum lama ini. Terkait kecurigaan adanya penjualan air bersih ATB ke kapal-kapal asing yang bersandar di pelabuhan itu. “Namun alasan mereka (Pelabuhan) airnya didapat dari sumur bor,” kata Yunus.

Dalam waktu dekat Komisi III akan menggelar Rapat Dengar Pendapatr (RDP) bersama pihak pelabuhan, BP Batam, serta tiga perusahaan swasata yang mensuplai air. “Apa landasan hukum menggunakan sumur bor,” kata Yunus lagi.

Bila benar begitu keadaannya, Politisi Partai Golongan Karya (Golkar) ini mengaku sangat miris. Sekelas Pelabuhan Batuampar tak memiliki fasilitas air bersih, bahkan mengunakan air dari sumber yang dilarang.  “Gimana kita mau bersaing dan mempromosikan ke negara luar, jika air bersihnya ada tak ada. Sumber air dari sumur bor, patut dipertanyakan kebersihannya,” ungkap Yunus lagi.

Pihak ATB sendiri menegaskan tidak lagi menjual air bersih ke pelabuhan Batuampar maupun Sekupang, kecuali pelabuhan Beton di Sekupang. Tapi jika ada transaksi air dari kran ATB ataupun tangki air (water tank) dapat dipastikan bahwa itu dilakukan secara ilegal oleh oknum-oknum tidak bertanggungjawab.

Bahkan Coorporate Communication Manager ATB, Enriqo Moreno menyatakan oknum-oknum ini mirip mafia air. “Kalau itu ada maka ini mafia dan bisa saja ada oknum ATB yang ikut bermain. Tapi secara resmi tidak ada,” ujar Enriqo.

Di pelabuhan kata dia ada banyak pihak termasuk aparat keamanan yang memiliki kepentingan dan tugas di setiap pelabuhan. Air yang disalurkan ke kapal-kapal di dua pelabuhan itu hampir pasti hasil produksi ATB. Sejak tahun 2011 akhir, ATB tidak lagi menjual air kepada kapal-kapal di pelabuhan Batuampar maupun Sekupang. Enriqo mengklaim harga air yang dipatok saat itu tergolong mahal. “Kalau pelabuhan Beton kami distribusikan dan sangat kecil jumlahnya,” katanya.

Anggota Komisi III DPRD Batam Jeffry Simanjuntak membenarkan ATB tidak lagi menjual air dari tangki mereka ke dua pelabuhan tersebut. “Pertanyaannya kebutuhan air di pelabuhan Batuampar dan Sekupang itu sekitar 22.000 kubik per bulan itu diambil darimana?” ujar Jeffry tadi malam.

Lebih lanjut ia mengatakan jika tidak dari ATB lalu diambil dari sumur bor, danau atau sungai maka higienitas air ke kapal-kapal itu sangat diragukan karena tidak layak untuk dikonsumsi.

“Berarti air itu ilegal dan diragukan higienitasnya. Masa pelabuhan sekelas Batuampar dan Sekupang distribusikan air yang diragukan higienitasnya?” imbuhnya.

Agar tidak terjadi saling tuding, Jeffry mengatakan Komisi III DPRD Batam dalam waktu dekat akan memanggil dan memintai pendapat kepala pelabuhan Batam.
“Pelabuhan memang punya kewenangan khusus untuk bagaimana pelabuhan itu maju dan mandiri tapi air bersihnya saja bermasalah,” pungkasnya. (hgt/bpos)

Respon Anda?

komentar