Pahami Hubungan Industrial, demi Jaga Kemitraan

446
Pesona Indonesia
Buruh saat demo. foto: dokumen batampos.co.id
Buruh saat demo.
foto: dokumen batampos.co.id

batampos.co.id – Direktur Jenderal (Dirjen) Pembinaan Industrial Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker), Haiyani Rumondang mengatakan tenaga kerja harus paham dengan hubungan industrial yang baik di tempat kerja. Baik itu antara pekerja dan pengusaha, maupun dengan pemerintah yang bertindak sebagai regulator pelbagai kebijakan dalam dunia usaha di tanah air. Hubungan industrial itu juga harus dipahami oleh calon pekerja seperti pelajar yang nantinya akan masuk ke dunia kerja.

“Diharapkan lulusan dunia pendidikan apabila memasuki dunia kerja atau dunia industri baik sebagai pekerja atau sebagai pengusaha, sudah memahami peran, hak dan kewajiban dalam hubungan kerja yang merupakan bagian dari hubungan industrial,” ujar Haiyani Rumondang saat membuka kegiatan Pemasyarakatan Hubungan Industrial bagi Dunia Pendidikan di Hotel Nagoya Plaza, Batam, Sabtu (26/9).

Menurut Dirjen, para siswa yang merupakan calon pengusaha atau calon wirausaha penting untuk memahami beberapa hal. Selain hubungan pekerja dan pengusaha, juga dijaminnya kebebasan berserikat merupakan hak asasi manusia dan keberadaannya merupakan wujud kemitraan dalam proses produksi, berbagi keuntungan dan bertanggungjawab, sepanjang dilakukan dengan cara-cara yang tidak mengganggu kebebasan dan hak asasi orang lain serta tidak melanggar hukum.

Haiyani menyambung, pemahaman dan kesiapan calon pekerja itu dinilai penting karena Indonesia akan memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN yang akan membuka persaingan di kawasan ASEAN pada sektor perdagangan, jasa dan tenaga kerja profesional dalam kawasan ASEAN yang lebih bebas dan kompetitif. Pasalnya, kata ia, daya saing Indonesia diantara negara-negara dalam kawasan ASEAN dalam hal daya saing global, fleksibilitas pasar kerja, Produk Domestik Bruto, Indeks Pembangunan Manusia, dan daya inovasi global, jauh dibawah negara-negara tetangga.

“Peringkat kita di bawah negara Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam dan Thailand,” jelas dia.

Ia melanjutkan, dengan penerapan teknologi industri untuk efisiensi produksi dan permintaan kompetensi kerja tertentu telah menjadikan kondisi pasar kerja semakin sulit bagi mayoritas tenaga kerja Indonesia untuk bekerja di dalam negeri dengan kualitas pendidikan dasar atau memiliki keahlian yang sudah terlalu banyak tersedia di pasar kerja.

“Tantangan bagi tenaga kerja muda di Indonesia untuk kedepannya juga semakin berat dengan proyeksi terjadinya bonus demografi yang puncaknya diprediksi tahun 2028-2031,” kata dia. (rna)

Respon Anda?

komentar