Mantan Kabid Program Dinkes Batam Disidang karena Dugaan Korupsi

582
Pesona Indonesia
Erigana duduk di kursi pesakitan Pengadilan Tipikor Tanjungpinang.  F Osias De
Erigana duduk di kursi pesakitan Pengadilan Tipikor Tanjungpinang. F:Osias De/batampos

batampos.co.id – Erigana, mantan Kabid Program Dinas Kesehatan Kota Batam, menjalani sidang perdana dalam perkara dugaan korupsi pengadaan alat kesehatan (Alkes) Puskemas se-Kota Batam tahun anggaran 2013, di Pengadilan tindak pidana korupsi (Tipikor), Senin (28/9).

Jalannya sidang perkara tersebut dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim, Dame Parulian Pandiangan, sedangkan terdakwa didampingi Penasehat hukumnya yakni Abdul Kadir. Sementara Jaksa Penuntut Umum yakni Tengku Firdaus dari Kejari Batam.

Dalam dakwaannya JPU terungkap awal mula kasus ini muncul saat Erigana yang merupakan Kabid Program Dinkes Batam diangkat oleh Walikota Batam, Ahmad Dahlan berdasarkan SK pengangkatan yang dikeluarkan saat itu untuk menduduki rangkap jabatan sebagai Kuasa Pengguna Anggaran dan sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) atas pengadaan alat-alat laboratorium kedokteran dan penyehatan lingkungan TA 2013 di Satker Dinas Kesehatan Kota Batam meski diketahui terdakwa Erigana tidak memiliki sertifikat keahlian Pengadaan Barang/Jasa.

Sehingga akibat tidak memiliki kealian yang dimaksud, muncul permasalahan dalam pengadaan tender untuk pengadaan barang yang dimaksud. Untuk proyek pengadaan alat laboratorium itu, berbagai perusahaan pun dinyatakan tidak memiliki kemampuan teknis dalam melakukan pekerjaan itu. Namun agar proyek pengadaan ini tetap berjalan, Erigana diduga melakukan persekongkolan dengan perusahaan yang mengikuti tender, sehingga Erigana selaku PPK dalam mencantumkan spesifikasi teknis dan harga semuanya berasal dari tawaran dari perusahaan peserta tender bukan dari pihak mereka selaku kuasa pemilik pekerjaan.

”Terdakwa Erigana, selaku PPK dalam menyusun dan menetapkan jenis dan spesifikasi teknis alat kesehatan sebagaian besar tidak mengacu kepada usulan puskesmas selaku penerima alat. Dan Erigana dalam menysusun spesifikasi teknis yang dicantumkan dalam dokumen tender itu hanya menyalin secara utuh dan detail spesifikasi alat kesehatan yang ditawarkan oleh distributor,” ujar JPU saat membacakan dakwaannya.

Selain itu, persekongkolan yang dilakukan oleh terdakwa Erigana adalah dalam hal penentu pemenang tender. Ada beberapa temuan dari penyidik dalam proses tender yang seharusnya lelang proyek itu gagal untuk dilanjutkan karena terdapat berbagai kesalahan. Namun lagi-lagi terdakwa dinyatakan bersekongkol dengan para rekanan untuk memenangkan salah satu perusahaan yakni PT. Dhyas Mitra Usaha sebagai pemenang.

”Berdasarkan hasil temuan itu, menandakan bahwa antara penyedia barang diduga terjadi persekongkolan dan seharusnya Panitia Pengadaan (Pokja XXIV) menyatakan pelelangan gagal,” imbuh Jaksa.

Atas perbuatan itu, JPU dalam dakwaannya Erigana dinilai telah memperkaya diri dan orang lain dalam penentuan pemenang dalam proyek yang dimaksud.

”Perbutan terdakwa diatur dan diancam pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) jo Pasal 18 ayat (1) huruf a dan b, ayat 2, dan ayat (3) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo UU No.20 Tahun 2001 tentang perubahan terhadap Undang-Undang No: 31 Tahun 1999 jo Pasal 55 Ayat (1),” tutup JPU dalam dakwaannya.

Dalam dakwaan itu juga sempat mengungkapakan kerugian negara yang timbul atas perbuatan terdakwa sebesar Rp383 juta dari pagu anggran sebesar Rp993. Angka itu didapat dari hasil perhitungan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Provinsi Kepulauan Riau.

Menanggapi dakwaan itu, Erigana melalui kuasa hukumnya Abdul Kadir, langsung menyatakan keberatan (eksepsi) atas dakwaan yang diajukan JPU terhadap kliennya.

”Kami mengajukan eksepsi yang mulia,” jawab Abdul kepada Hakim.

Terkait adanya eksepsi, majelis hakim pun akhirnya menunda sidang untuk dilanjutkan pada pekan depan dengan agenda pembacaan eksepsi dari pihak terdakwa yang digelar pada pekan depan.(Cr10/bpos)

Respon Anda?

komentar