Pijat Om…, Eh… Tempat Massage di Batam ini Pekerjakan Anak Bawah Umur dari Bandung

1835
Pesona Indonesia
Lince Rahmi, saksi dari P2TP2A memberikan keterangan terkait prostitusi anak bawah umur di Pengadilan Negeri Batam, Selasa (29/9), Foto:  Fitri Hardiyanti untuk Batam Pos
Lince Rahmi, saksi dari P2TP2A memberikan keterangan terkait prostitusi anak bawah umur di Pengadilan Negeri Batam, Selasa (29/9), Foto: Fitri Hardiyanti untuk Batam Pos

batampos.co.id -Sidang prostitusi berkedok panti pijat (massage) dengan mempekerjakan anak di bawah umur asal Bandung, kembali digelar di Pengadilan Negeri Batam, Selasa (29/9). Kali ini menghadirkan saksi Lince Rahmi dari Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Batam.

Duduk sebagai terdakwa Neni Herni, pemilik Flamboyan Massage; Devi Oktviani selaku kasir; dan Deni Iskandar selaku room boy.

Di hadapkan Majelis Hakim dengan Hakim Ketua Sarah Louis didampingi Hakim Anggota Arief Hakim dan Tiwik, serta JPU Bani I Ginting, saksi Lince membeberkan bahwa Flamboyan Massage telah mempekerjakan anak-anak dibawah umur untuk melayani laki-laki hidung belang.

“Waktu penggerebekan, ada 9 orang wanita yang didatangkan dari Bandung untuk dipekerjakan sebagai wanita penghibur. Tiga diantaranya anak dibawah umur dan 1 tanpa memiliki identitas,” sebut Lince.

Ia menuturkan, laporan yang diterima P2TP2A berawal dari pihak kepolisian atas permintaan Waka Reskim yang saat itu sedang melakukan patroli di Nagoya Newton, tempat Flamboyan Massage berada.

“Waka Reskim melihat wanita-wanita muda itu berdiri di depan pintu masuk Flamboyan Massage, jadi kami diperintahkan untuk melakukan pantauan,” ujarnya.

Setelah tim kepolisian melakukan penyamaran, dan ternyata benar ditemukan tempat tersebut sebagai tempat prostitusi. “Waktu masuk, kesembilan wanita duduk di lobi-nya, nanti dipilih sama tamu,” terang Lince.

Akhirnya penggerebekan dilakukan. Saksi mendapatkan pengakuan dari kesembilan wanita tersebut tentang pekerjaan yang harus mereka lakoni. “Mereka nanti dipilih tamu, kemudian ada yang dibooking keluar ada juga yang melayani di kamar-kamar yang tersedia di Flamboyan Massage,” sebutnya.

Selain itu, lanjut Lince, hasil yang didapatkan oleh para wanita itu memakai sistem bagi hasil dengan perbandingan 60:40. Pihak Flamboyan Massage mendapatkan 60 persen, dan para pekerja 40 persen. “Tarifnya beragam tergantung long time atau short time. Tapi kalau yang ledih muda juga lebih mahal tarifnya,” paparnya lagi.

Usai memberikan keterangan, terdakwa Neni menyatakan keberatan dengan kesaksian yang diberikan. “Saya keberatan Yang Mulia, karena saya mempekerjakan mereka sebagai pekerja massage dan melarang keras terjadinya tindak asusila, tapi jika pekerja saya dibawa keluar oleh tamu itu terserah mereka untuk melakukan apa,” bantahnya.

Mendengar keberatan terdakwa, spontan Hakim Ketua Sarah Louis menjawab. “Ya kalau itu sama saja kamu memberikan kesempatan kepada pekerja kamu untuk melakukan asusila,” tegas Sarah.

Kemudian, Majelis Hakim mengetuk palu untuk perkara ini dilanjutkan pada pekan depan Selasa (6/9) dengan agenda yang sama, mendengar keterangan saksi. (cr15/bpos)

Respon Anda?

komentar