Pembunuh Nia Profesional, Tahu Cara Menghilangkan Jejak

Menyingkap Data dan Fakta Pembunuhan Nia (4)

4254
Pesona Indonesia
Dua anjing pelacak dari unit K-9 dikerahkan ke tempat ditemukannya mayat Nia, hutan Seiladi. Foto: Johanes Saragih/batampos
Dua anjing pelacak dari unit K-9 dikerahkan ke tempat ditemukannya mayat Nia, hutan Seiladi. Foto: Johanes Saragih/batampos

batampos.co.id – Pembunuh Nia, siswi SMAN 1 Batam diduga kuat orang profesioanal dan mengenal seluk beluk penyelidikan kepolisian. Sehingga polisi sama sekali tidak menemukan sidik jari maupun barang bukti yang mengarah kepada pelaku di lokasi kejadian. Pelaku juga tidak meninggalkan jejak dan beraksi dalam waktu cepat.

“Pelakunya profesional dan mengetahui kerja kita (polisi). Pelaku kemungkinan menggunakan sarung tangan dalam membunuh,” kata salah seorang sumber kepolisian.

Selain itu, dilihat dari kronologis kejadian, pelaku hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit menghabisi nyawa Nia. Diduga pelaku yang menyamar sebagai anggota polisi tersebut menggunakan modus dengan mengancam korban yang tak memiliki surat izin mengemudi (SIM).

Lalu pelaku membawa korbannya melewati jalan di depan GOR Bulutangkis Tiban. Di lokasi ini, pelaku meninggalkan sepeda motor korban jenis Honda Beat BP 3810 JQ dan membawa korban menuju hutan dam Seiladi.

Informasi yang dihimpun Batam Pos, di lokasi pelaku menyetop korban di Jalan Diponegoro pada Sabtu (26/9) pagi, memang terlihat beberapa anggota polisi yang melakukan penindakan terhadap pengendara sepeda motor.

“Memang ada polisi pakai rompi yang menghentikan anak sekolah. Tapi, saya tak lihat ada yang dibawa,” kata Pasca, warga sekitar lokasi.

Selasa (29/9) pagi, Batam Pos mencoba menelusuri jejak kematian Nia. Penelusuran dimulai dari jalan raya depan Perumahan Delta Villa Sekupang, Jalan Raya Sei Temiang. Di situlah, menurut teman-teman sekolahya, siswi kelas X SMAN 1 itu diberhentikan seorang pria.

Nia diberhentikan ketika hendak menuju sekolahnya di Sekupang, Sabtu (26/9), pukul 08.00 WIB. Ia berkendara seorang diri dari Batuaji dengan menggunakan Honda Beat warna oranye. Helm hijau menempel lekat di kepalanya. Ia menepikan sepeda motornya turun dari jalan aspal. Lokasi tempat ia menepikan motor itu berada tepat di depan penjual tanaman hias.

Peristiwa itu seharusnya diketahui banyak orang. Terutama pengendara kendaraan lain. Baik yang berada di jalur menuju Sekupang dari Batuaji, atau sebaliknya. Sebab, peristiwa itu terjadi di jam-jam sibuk lalulintas.

“Jam 08.00 WIB itulah waktu ramai-ramainya,” kata Cipto, pedagang tanaman hias di tepi jalan.

Dari lokasi itu, Nia dibawa ke arah Tiban. Namun, beberapa meter dari GOR Sekupang, diduga Nia diminta menepi. Ia memarkirkan sepeda motornya di jalan setapak menuju Perumahan Cipta Garden Tiban. Tepatnya di Jalan Gajah Mada.

“Motornya diparkir di dekat billboard putih di sana,” kata Sri Lestari Ningsih, penjual kue yang membuka lapak 200 meter dari lokasi sepeda motor Nia itu ditemukan.

Menurutnya, Sabtu (26/9) pagi itu, tidak ada hal yang mencurigakan. Banyak pengendara yang berlalu lalang seperti biasanya. Terutama, anak sekolah yang bonceng tiga. Ia juga tak mendengar teriakan apapun dari pengguna jalan.

Tentang pembunuhan Nia, ia baru mengetahuinya Minggu (27/9) pagi. Waktu itu, ada beberapa anak muda yang memberinya selebaran. Mereka menanyakan perihal anak yang fotonya terpampang dalam selebaran itu.

“Saya baru tahu ada yang hilang setelah melihat selebaran ini. Mereka bilang, motor korban ditemukan di situ. Makanya, nanya ke saya,” tuturnya.

Dari pantauan Batam Pos, tempat ditemukannya sepeda motor Nia itu sepi meski berada di tepi jalan raya. Sebab posisi jalan tersebut, persis berada di tikungan jalan. Adapun jalan perumahan itu masih berupa tanah. Dan rumah-rumah yang ada di perumahan itu membelakangi jalan raya.

Dari lokasi ke tempat ditemukan mayat Nia (hutan lindung Seiladi), normalnya membutuhkan waktu sekitar 20 menit. Jika pengendara melewati jalan depan SPBU Baloi, menuju Simpang Jam dan memutar arah ke Seiladi.

Namun jika pengendara memutar arah sebelum sampai lampu merah Seiladi, tepatnya di depan Resto Kak Dadut, maka hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit saja. Itupun pengendara harus melawan arah untuk sampai ke jalan raya depan lokasi penemuan mayat. Dan hanya bisa dilewati sepeda motor, mengingat ruas jalan di sana kecil.

Lokasi penemuan mayat Nia berada di dalam hutan lindung, puluhan meter dari jalan raya. Untuk bisa sampai ke lokasi bisa melewati tiga jalan setapak yang telah sering dilalui orang. Antara jalan setapak satu dengan yang lainnnya berjarak sekitar 10 meter. Satu diantaranya agak susah dilewati karena tanahnya lebih menanjak sekitar 1,5 meter dari jalan raya.

“Kuat dugaan pelaku melewati jalur tengah ini. Karena jalur dan posisinya lebih cepat sampai ke lokasi,” kata sumber kepolisian yang enggan menyebutkan namanya.

Ketika memasuki lokasi, semak belukar setinggi tubuh pria dewasa menyambut. Meski tinggi, semak tersebut tumbuh jarang sehingga bisa melihat jalan raya dari arah dalam. Namun dari luar, lokasi tersebut tak akan terlihat. Selain ada beberapa pohon kecil, kondisi tanah yang tak datar juga menjadi penghalang.

Menurut sumber, jarak jalur masuk dari jalan setapak kedua menuju lokasi penemuan mayat sekitar 89 meter. Lokasi ditemukan mayat Nia itu persis berada di bawah pohon jenis kayu putih. Pohon dengan tinggi sekitar 5 meter itu tak terlalu rindang. Namun berada di tengah lahan yang agak luas, meski kondisi tanahnya tak datar.

Tak hanya itu, lokasi juga dikeliling semak-semak. Sehingga jika tak diperhatikan dengan seksama, jasad Nia tak akan terlihat. Namun akan terlihat jelas jika seseorang menuju lokasi penemuan jasad Nia melewati jalur pertama.(cew/she/opi/cr13/bpos)

Respon Anda?

komentar