100 Ribu Buruh di Batam di-PHK

810
Pesona Indonesia
Aksi buruh Batam menuntut perbaikan upah beberapa waktu lalu. Foto: cecep mulyana/batampos
Aksi buruh Batam menuntut perbaikan upah beberapa waktu lalu. Foto: cecep mulyana/batampos

batampos.co.id -Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kepri, Cahya, mengatakan Apindo menolak kenaikan upah minimum kota (UMK) Batam 2016 karena kondisi ekonomi yang sedang lesu. Jika upah dipaksakan naik, Cahya, khawatir pengusaha melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran.

“Di Batam sendiri sudah ada 100 ribu lebih karyawan yang jadi korban PHK,” sebut Cahya. Itu sebabnya ia bersikeras agar UMK tak naik.

“Daripada pengusaha harus mengurangi jumlah karyawan, lebih baik tak ada kenaikan UMK sama sekali,” Cahya memberikan pertimbangan.

Disinggung jika tak ada kenaikan UMK maka dapat dipastikan tidak akan terjadi PHK, Cahya mengatakan, pihaknya tak dapat menjamin demikian.

“Paling tidak, Apindo akan mengimbau teman-teman pengusaha agar tolong jangan mem-PHK karyawan, karena pemerintah sudah berbaik membantu (tak menaikkan UMK),” bebernya.

Meski begitu, ia tak menampik dengan angka hasil penentuan nilai kebutuhan hidup layak (KHL) bulan Oktober sebesar Rp 2.843.308 oleh Dewan Pengupahan Kota Batam.

“Mungkin realistis di lapangan memang KHL segitu,” kata dia.

Namun lagi-lagi, ia masih berharap UMK tak perlu naik dengan asumsi yang telah ia kemukakan sebelumnya. “Jangan cabut napas kami, sehingga kami masih bisa bertahan,” ujarnya. (leo/rna)

Respon Anda?

komentar