Asap di Batam Kembali Pekat, Jangan Lupa Pakai Masker

514
Pesona Indonesia
Kabut asap tebal menyelimut kawasan Pelabuhan internasiponal Batam Center, Senin (5/10). Namun belum mengganggu pelayaran Batam-Singapura, Batam-Malaysia. Foto: Cecep Mulyana/Batam Pos
Kabut asap tebal menyelimut kawasan Pelabuhan internasiponal Batam Center, Senin (5/10). Namun belum mengganggu pelayaran Batam-Singapura, Batam-Malaysia. Foto: Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Munculnya 1.340 titik api di Sumatera Selatan berdampak buruk bagi Batam. Bahkan kepekatan asap kiriman itu bakal berkali-kali lipat dalam beberapa hari ke depan. Ini terjadi karena adanya pergeseran arah angin yang biasanya datang dari selatan dan tenggara kini berhembus dari barat laut.

“Selama ini angin dari selatan dan tenggara hanya membawa sedikit asap,” kata Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Hang Nadim Batam, Philip Mustamu, melalui Forechaster, Senin (5/10).

Selain itu, lanjutnya, selama Oktober ini diperkirakan akan terjadi variasi arah angin. Yakni dari timur ke selatan, serta timur ke tenggara. Kondisi ini membuat kecepatan angin menurun sehingga akan terjadi penumpukan asap yang terbawa angin dari berbagai penjuru itu.

“Itu perkiraan kami selama satu bulan (Oktober) ini,”ungkapnya.

Sementara angin dari arah barat laut yang langsung berhembus ke Batam juga dapat memicu penumpukan asap di Batam dan Singapura. Sebab angin dari barat laut itu akan membawa asap dari wilayah Sumatera Selatan.

Sementara itu untuk kondisi curah hujan, menurutnya sepanjang Oktober ini hampir sama dengan bulan lalu. Di mana akan terjadi hujan, namun dengan intensitas rendah. Dan hujan yang turun pun tidak merata.

“Hanya hujan yang bersifat lokal,” ujarnya.

BMKG memperkirakan hujan dengan intensitas cukup tinggi dan merata akan terjadi pada Desember mendatang. “Pada minggu kedua bulan Desember, saat itu hujan akan turun deras di Batam,” pungkasnya.

Kepala Kantor Pelabuhan (Kanpel) Batam, Kapten Gajah Rooseno, menyatakan asap yang menyelimuti Batam saat ini belum mengganggu aktivitas pelayaran, sebab jarak pandang masih di atas satu mil. Ini artinya, pelayaran masih aman untuk dilakukan.

“Kalau kurang dari itu sudah tidak bisa,” ujarnya, kemarin.

Pagi kemarin, kabut asap masih membayang di langit Batam. Namun, hingga pukul 10.00 WIB, Kapten Gajah belum menerima permintaan penundaan pelayaran dari pelabuhan. Dengan demikian, kapal masih berlayar seperti biasanya.

“Kalau memang jarak pandang sudah tidak memadai, mereka pasti telepon saya. Jadi walaupun saya tidak di Batam, hati dan pikiran saya tetap di sana,” ujarnya yang mengaku sedang dinas keluar ke Jakarta itu lagi.

Kantor Pelabuhan tidak akan main-main dengan izin pelayaran. Menurutnya, apabila jarak pandang belum menyentuh angka satu mil, ia tetap tidak akan mengizinkan pelayaran. Sekalipun, jarak pandangnya sudah lebih dari 900 meter.

Sebab, kapal berbeda dengan mobil. Kapal tidak bisa direm. Ia juga tidak bisa mundur begitu saja ketika berpapasan dengan kapal lain di laut. “Kalau tiga ratus meter dia baru melihat ada hitam-hitam, itu bahaya. Dia sudah tidak bisa menghindar,” tuturnya.

Kanpel Batam, kata Kapten Gajah, telah mengeluarkan surat maklumat pelayaran. Surat itu berisi imbauan kepada seluruh pihak yang terlibat dalam pelayaran untuk tetap berhati-hati saat berlayar. Serta tidak memaksakan pelayaran apabila cuaca memang buruk.

Terutama bagi para perusahaan pelayaran. Jika nakhoda dan kapten telah keberatan untuk melaksanakan pelayaran, perusahaan pelayaran dihimbau untuk tidak melanjutkan pelayaran. Kapten Gajah berani pasang badan untuk ini.

“Jangan takut. Kakanpel akan menjamin kapten dan nakhoda,” tuturnya.

Lagipula, jika perusahaan tetap memaksa berlayar, pelabuhan tidak akan mengeluarkan surat izin berlayar. Pelayaran tanpa surat izin berlayar berarti pelayaran ilegal. Pelabuhan tujuan juga berhak menolak kapal itu untuk berlabuh.

“Kalau tanpa surat izin berlayar, malah nanti kena hukuman. Jatuhnya pidana,” katanya.

Selain itu, Kanpel Batam juga menghimbau para kapten untuk berlayar dengan kecepatan yang aman. Yakni, kecepatan yang dapat dihentikan setiap saat apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di lautan.

“Kalau kabut asap tiba-tiba tebal dan jarak pandang terbatas, kapten dapat mengeluarkan semboyan bunyi,” ujarnya. (ska/cew/bpos)

Respon Anda?

komentar