Batam Darurat Kejahatan Anak

433
Pesona Indonesia
Setyasih Priherlina. Foto: Asrul/asrulrahmawati.wordpress.com
Setyasih Priherlina. Foto: Asrul/asrulrahmawati.wordpress.com

batampos.co.id – Setyasih Priherlina dari Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Batam menyatakan, Batam berada dalam kondisi darurat kejahatan anak. Sebab, dalam kurun waktu satu bulan ini, kejahatan terhadap anak – khususnya yang berjenis kelamin perempuan sering sekali terjadi.

“Ini bukan lagi pelecehan. Tetapi sudah kejahatan,” kata Wakil Ketua LPA Batam itu.

Lina, begitu ia biasa disapa, mengatakan, perlu kerjasama banyak pihak untuk melindungi anak-anak Batam. Mulai dari lingkungan keluarga, masyarakat, hingga pihak kepolisian.

Di tingkat keluarga, para orang tua harus mengawasi gerak-gerik anak. Hingga, sekecil apapun perubahan tingkah-laku anak, orang tua dapat merasakannya. Dan kemudian mengantisipasinya.

Orang tua juga tidak perlu memberikan fasilitas gadget yang canggih kepada anak. Alih-alih gadget pintar, orang tua memberikan hape ‘jadul’ saja pada anak. Yang penting, bisa untuk komunikasi.

“Orang tua harus mengawasi penggunaan internet anak. Kalau nonton televisi pun juga harus didampingi,” tuturnya.

Di tingkat yang lebih luas, masyarakat dapat membentuk sebuah satuan tugas perlindungan anak. Satgas ini, misalnya, dapat diketuai oleh Ketua RW. Laalu dianggotai oleh masyarakat yang paham tentang hak anak ataupun yang peduli dengan anak-anak.

“Terutama di daerah Bengkong, Sagulung, Batuaji – daerah-daerah yang, maaf, tingkat ekonominya rendah. Perangkat RT-RW-nya harus dimaksimalkan,” ujarnya.

Sementara untuk tingkat kepolisian, kondisi ini membutuhkan kerja yang luar biasa dari pihak kepolisian. Polisi di tingkat Polsek harus memaksimalkan kerjanya. Informasi sekecil apapun dari saksi mata tidak boleh diremehkan. Begitu juga dengan laporan kehilangan dan laporan percabulan.

Tambahan kekuatan dari tim laboratorium forensik juga diperlukan. Tak hanya itu, kompetensi anggota kepolisian untuk hak-hak anak juga harus ditambah. Sehingga, kasus-kasus yang menjadikan anak sebagai korban tidak terus terjadi.

“Kasus anak itu harus didahulukan. Maksimal satu minggu harus selesai,” ujar perempuan yang pernah duduk di kursi dewan Batam itu lagi.

Lina menilai, kinerja polisi terbilang sangat lambat. Kasus pembunuhan sales promotion girl Dwi Wana Julianggi yang terjadi pertengahan Juni lalu tak kunjung terungkap. Pembunuhan terhadap Chintya yang terjadi akhir Agustus lalu.

“Pelaku pembunuhan terhadap Nia (siswi SMAN 1 Batam) juga belum terungkap kan hingga sekarang? Mumpung ini masih hari kesebelas, ayolah polisi cepat bergerak!” pesannya.

Anak-anak terbilang masih rentan sebagai korban kejahatan. Itulah mengapa, konsep ‘mereka adalah anak kita’ harus dijunjung tinggi. Setiap orang dewasa wajib melindungi setiap anak yang ada di Batam. Sekalipun, anak itu bukan anak kandung mereka.

LPA bersedia memberikan penyuluhan gratis ke sekolah-sekolah. Meliputi, penyuluhan tentang pencegahan kekerasan terhadap anak juga tentang hak-hak anak.

“Sekolah yang ingin mendapatkan penyuluhan dari kami silakan mendaftar ke kantor K3S di Jalan RE Martadinata, Sekupang. Kami nanti yang akan turun ke sekolah,” tuturnya. (ceu/bpos)

Respon Anda?

komentar