Ini Dia Desersi TNI AL yang Jadi Kurir Sabu

340
Pesona Indonesia
Frits Welem Ibo, desersi TNI AL saat akan disidang di PN Batam terkait kasus Sabu. Foto: yashinta/batampos
Petugas membuka borgol Frits Welem Ibo, desersi TNI AL saat akan disidang di PN Batam terkait kasus Sabu. Foto: yashinta/batampos

batampos.co.id – Desersi TNI Angkata Laut (AL) yang mengaku pernah bertugas di wilayah Jakarta rela jadi kurir sabu demi imbalan upah Rp 10 juta. Pria bernama lengkap Frits Welem Ibo ini pun kini menjadi terdakwa kasus narkotika di Pengadilan Negeri Batam.

Kepada majelis hakim yang dipimpin Wahyu Prasetyo Wibowo dan didampingi Budiman Sitorus dan July Handayani, pada persidangan, Rabu (7/10), membenarkan keterangan saksi yang dihadirkan jaksa.

“Benar, sabu itu diberikan kepada saya dalam bentuk kotak. Setahu saya beratnya satu kilo,” ujar pria berusia 29 tahun ini.

Ia mengaku nekat menjadi kurir sabu karena butuh uang pulang kampung ke Jayapura. Apalagi, ia sudah cukup lama berada di Batam tanpa pekerjaan yang jelas. “Saya desersi TNI AL dan sebelumnya tugas di Jakarta. Namun saya lari ke Batam dan menyewa kos-kosan di Harbourbay,” terang Frits.

Menurut dia, sabu itu didapat dari Botak (DPO) warga negara Malaysia yang menjadi teman nongkrong dan minum-minumnya di Batam. Botak menawarkan pekerjaan membawa sabu dari Harbourbay ke kawasan Nagoya dengan imbalan Rp 10 juta, jika berhasil mengantarkan sabu seharga Rp 700 juta itu.

“Saya disuruh¬† mengantarkan sabu dan mengambil uang Rp 700 juta. Saya dapat upah Rp 10 juta. Namun belum sempat saya nikmati uang,¬† saya sudah ditangkap polisi,” bebernya.

Usai mendengarkan keterangan terdakwa, majelis hakim menunda sidang hingga pekan depan dengan agenda tuntutan.

“Pemeriksaan terdakwa sudah cukup sidang dilanjutkan pada pekan depan dengan agenda pembacaan tuntutan,” ujar Wahyu dipersidangan

Diketahui Frits ditangkap pada 4 Juli 2015 lalu karena membawa kotak yang ternyata berisi dua paket sabu seberat 820,9 gram. Jaksa Penuntut Umum (JPU) Andi Akbar mengganjal terdakwa dengan pasal 114 ayat 2 atau 112 ayat 2 UU No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Fritspun terancam hukuman mati atau seumur hidup. (she/bpos)

Respon Anda?

komentar