Banyak Kasus Kriminal Anak, Penghargaan Batam Kota Layak Anak Jadi Pertanyaan

605
Pesona Indonesia
Nia, saat masih hidup. Foto: facebook Nia
Dian Milenia Trista Afiefa alias Nia (15 tahun), saat masih hidup. Siswi SMAN 1 Batam ini menjadi korban pembunuhan yang kasusnya belum terungkap. Foto: facebook Nia

batampos.co.id – Komunitas pegiat isu perempuan dan anak mempertanyakan predikat Kota Layak Anak (KLA) yang disandang Batam, sejak Agustus 2015 lalu. Tepatnya ketika Pemerintah Kota Batam melalui Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (BPPPA-KB) mendapatkan penghargaan KLA Pratama dari Pemerintah Pusat.

“Masa iya dapat? Kasus kekerasan anak saja banyak kok,” kata Setyasih Priherlina, Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Batam.

Jikapun iya, Setyasih menilai, penghargaan itu harus dikembalikan. Sebab, predikat itu tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Terlebih dengan kondisi kekerasan yang belakangan ini banyak menjadikan anak-anak sebagai korban.

“Batam sudah darurat kekerasan anak saat ini,” ujarnya.

Tak hanya Setyasih Priherlina yang menyayangkan predikat itu. Direktur Yayasan Embun Pelangi (YEP), Irwan, juga menilai, Batam tak layak mendapat penghargaan KLA Pratama. Sebab, jumlah anak yang terlibat dengan hukum dan kriminal di Batam ini tak bisa dibilang sedikit.

Mengutip data dari Balai Pemasyarakatan, jumlah anak sebagai pelaku kriminal di Batam hingga bulan September lalu mencapai 150 anak. Belum lagi dengan banyaknya jumlah perceraian di kota Batam. Setiap tahun, tercatat, ada 1.700 kasus perceraian di Batam.

“Kok bisa Batam dapat KLA?” tanyanya.

Batam juga kiblat perlindungan anak lho? (ceu/bpos)

Respon Anda?

komentar