Begini Aksi Mahasiswa Universitas Batam yang Menolak Wisuda Pakai Peci

986
Pesona Indonesia
Mahasiswa Unversitas Batam demo penolakan wisuda pakai peci di kampus Uniba. Kamis (8/10). Foto: Cecep Mulyana/batam Pos
Mahasiswa Unversitas Batam demo penolakan wisuda pakai peci di kampus Uniba. Kamis (8/10). Foto: Cecep Mulyana/batam Pos

batampos.co.id – Sebanyak 800 mahasiswa Universitas Batam (Uniba) berdemo di halaman parkir Gedung Utama Kampus Uniba, Kamis (8/10). Mereka memprotes kebijakan kampus yang mengganti toga dengan peci sebagai seragam ketika wisuda nanti.

“Administrasi wisuda semuanya sudah saya penuhi. Ada istilah ‘uang toga’ di sana. Kenapa yang kami dapat peci?” kata Sofumboro Laia, Mahasiswa Fakultas Hukum Uniba yang akan menjalani wisuda akhir tahun nanti.

Demo itu diikuti mahasiswa dari empat fakultas Uniba. Yakni, Fakultas Kedokteran, Fakultas Hukum, Fakultas Teknik, dan Fakultas Ekonomi. Sebagian besar akan diwisuda 14 November nanti.

Mereka telah membayar administrasi wisuda. Namun, saat pembayaran, pihak kampus tak memberitahukan perihal penggantian seragam wisuda tersebut. Pengumuman itu datang melalui surat edaran tertanggal 1 Oktober lalu. Dalam surat edaran itu, pihak kampus akan mengganti toga dengan atribut peci yang dipercantik dengan pin uniba.

“Secantik apapun peci itu, kami tidak terima. Yang kami inginkan itu toga yang segilima,” ujar Laia lagi.

Wakil Presiden Mahasiswa Uniba Alraiziq mengatakan, kebijakan penggunaan peci ketika wisuda itu sesungguhnya sudah muncul sejak tahun lalu. Namun, para calon wisudawan menolak. Dan pihak kampus mengabulkan permintaan mereka.

Tahun ini, kebijakan itu kembali muncul. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Uniba telah melakukan mediasi dengan rektorat, Senin (5/10) lalu. Dalam mediasi itu, Rektor Uniba mengatakan, peci dipilih sebagai simbol keislaman dan kemelayuan. Sebab, Batam adalah tanah melayu.

Rektorat juga berkilah telah melakukan sosialisasi melalui BEM sejak tahun lalu. Padahal pada tahun itu, BEM tengah dibekukan. Alhasil, mahasiswa tetap menolak. Mediasi itupun tak menghasilkan satu putusan penting. Pihak rektorat meminta waktu selama satu minggu untuk mendiskusikan kembali kebijakan itu.

“Tapi kami minta, waktu itu dipersingkat menjadi 2×24 jam. Kalau tetap tidak ada keputusan, kami akan demo di hari Kamis. Dan beginilah jadinya,” kata mahasiswa Fakultas Kedokteran itu.

Demo itu dimulai pada pukul 08.00 WIB. Kekesalan mahasiswa pada pihak kampus memuncak pada pukul 10.00 WIB. Mereka mulai membakar ban bahkan sampai melemparkan jas almamater mereka sendiri.

Sofumboro Laia mengaku ia yang memulai aksi itu. Ia kesal lantaran pihak rektorat seperti tidak mengindahkan permintaan mereka. Satu contohnya, rektor yang justru meninggalkan tempat ketika mereka melakukan aksi.

“Saya kesal. Saya ini sudah pernah mengharumkan nama baik Uniba di tingkat nasional. Tapi sekarang dikecewakan begini,” ujar pemuda yang pernah mewakili Uniba dalam diskusi dengan Mahkamah Agung, dua tahun lalu itu lagi.

Demo itu ditanggapi oleh Wakil Rektor I Uniba Zulkarnaen Edward. Saat menghadapi para mahasiswa, Zulkarnaen Edward mengatakan, ia tidak dapat memberikan keputusan yang pasti. Sebab, kewenangan memberikan keputusan itu bukan ada padanya.

“Rektor yang akan memutuskan,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Uniba Ngaliman menegaskan, Uniba tetap akan menggunakan peci ketika wisuda nanti. Meskipun para mahasiswa menggelar demo. Sebab, tidak ada peraturan yang Uniba langgar terkait penggantian atribut itu.

“Masing-masing universitas mempunyai kebijakan sendiri-sendiri terkait jas almamater, baju wisuda, dll,” tuturnya.

Atribut peci dipilih sebab peci merupakan simbol bagian busana Indonesia yang telah diakui dunia. Uniba, katanya, bangga dengan busana asli Indonesia yang menunjukkan simbol nasionalisme. Bukan hanya Uniba, nantinya, yang akan menggunakan peci sebagai atribut wisuda. Sebab, perguruan tinggi atau akademi lain, seperti akademi militer dan Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) juga menggunakan peci ketika wisuda.

“Toga atau segilima tak identik dengan kesarjanaan. Anak-anak TK, SD sudah banyak yang pakai busana itu,” ujar Ngaliman. (ceu/bpos)

Respon Anda?

komentar