Toga Diganti Peci, Mahasiswa Uniba Demo

876
Pesona Indonesia
Tiga mahasiswa Universitas Batam (Uniba) membawa poster penolakan wisuda pakai peci saat aksi demo di Uniba, kamis (8/10).  Foto: Cecep Mulyana/Batam Pos
Tiga mahasiswa Universitas Batam (Uniba) membawa poster penolakan wisuda pakai peci saat aksi demo di Uniba, kamis (8/10).
Foto: Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id– Sebanyak 800 mahasiswa Universitas Batam (Uniba) berdemo di halaman parkir Gedung Utama Kampus Uniba, Kamis (8/10). Mereka memprotes kebijakan kampus yang mengganti toga dengan peci sebagai seragam ketika wisuda nanti.

Demo yang dimulai pada pukul 08.00 WIB itu diikuti mahasiswa dari empat fakultas Uniba. Yakni, Fakultas Kedokteran, Fakultas Hukum, Fakultas Teknik, dan Fakultas Ekonomi. Sebagian besar akan diwisuda 14 November nanti.

“Administrasi wisuda semuanya sudah saya penuhi. Ada istilah ‘uang toga’ di sana. Kenapa yang kami dapat peci?” kata Sofumboro Laia, Mahasiswa Fakultas Hukum Uniba yang akan menjalani wisuda akhir tahun nanti.

Puncak kekesalan mahasiswa pada pihak kampus terjadi pada pukul 10.00 WIB. Mereka mulai membakar ban bahkan sampai melemparkan jas almamater mereka sendiri.

“Kami sudah membayar administrasi wisuda. Namun, saat pembayaran, pihak kampus tak memberitahukan perihal penggantian seragam wisuda tersebut. Secantik apapun peci itu, kami tidak terima. Yang kami inginkan itu toga yang segilima,” ujar Laia lagi.

Wakil Presiden Mahasiswa Uniba Alraiziq mengatakan, kebijakan penggunaan peci ketika wisuda itu sesungguhnya sudah muncul sejak tahun lalu. Namun, para calon wisudawan menolak. Dan pihak kampus mengabulkan permintaan mereka.

Tahun ini, kebijakan itu kembali muncul. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Uniba telah melakukan mediasi dengan rektorat, Senin (5/10) lalu. Dalam mediasi itu, Rektor Uniba mengatakan, peci dipilih sebagai simbol keislaman dan kemelayuan. Sebab, Batam adalah tanah melayu.

Rektorat juga berkilah telah melakukan sosialisasi melalui BEM sejak tahun lalu. Padahal pada tahun itu, BEM tengah dibekukan. Alhasil, mahasiswa tetap menolak. Mediasi itupun tak menghasilkan satu putusan penting. Pihak rektorat meminta waktu selama satu minggu untuk mendiskusikan kembali kebijakan itu.

“Tapi kami minta, waktu itu dipersingkat menjadi 2×24 jam. Kalau tetap tidak ada keputusan, kami akan demo lagi. Dan beginilah jadinya,” kata mahasiswa Fakultas Kedokteran itu.

Sofumboro Laia mengaku yang memulai aksi itu. Ia kesal lantaran pihak rektorat seperti tidak mengindahkan permintaan mereka. Satu contohnya, rektor yang justru meninggalkan tempat ketika mereka melakukan aksi.

“Saya kesal. Saya ini sudah pernah mengharumkan nama baik Uniba di tingkat nasional. Tapi sekarang dikecewakan begini,” ujar pemuda yang pernah mewakili Uniba dalam diskusi dengan Mahkamah Agung, dua tahun lalu itu lagi.

Demo itu ditanggapi oleh Wakil Rektor I Uniba Zulkarnaen Edward. Saat menghadapi para mahasiswa, Zulkarnaen Edward mengatakan, ia tidak dapat memberikan keputusan yang pasti. Sebab, kewenangan memberikan keputusan itu bukan ada padanya.

“Rektor yang akan memutuskan,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Uniba Ngaliman menegaskan, Uniba tetap akan menggunakan peci ketika wisuda nanti. Meskipun para mahasiswa menggelar demo. Sebab, tidak ada peraturan yang Uniba langgar terkait penggantian atribut itu.

“Masing-masing universitas mempunyai kebijakan sendiri-sendiri terkait jas almamater, baju wisuda, dll,” tuturnya. (ceu/bpos)

Respon Anda?

komentar