Sudah Sebulan Air ATB di Kawasan Botania Ngadat

439
Pesona Indonesia
air tak mengalir. Ilustrasi
air tak mengalir. Ilustrasi

batampos.co.id – Batam yang katanya kota besar dan pusat industri, namun tak bisa menangani masalah air bersih. Warga sekitaran Perumahan Botania sudah satu bulan belakangan ini, tidak mendapat pasokan air yang lancar. Air hanya hidup di malam hari, sementara siang hari tak menyala sama sekali. Kondisi ini membuat beberapa warga harus membeli air dari tanki-tanki penyedia air.

“Tak hanya itu saja, kami juga harus beli air galon untuk mandi. Coba bayangkan, untuk memenuhkan bak mandi kami saja. Butuh sepuluh galon lebih,” kata Lis, salah satu warga Nadim Raya, Sabtu (10/10).

Ia mengatakan saat ini beban hidup sudah bertambah berat. Ditambah lagi dengan pengeluaran pembelian air galon. “Satu galon saja Rp 4 ribu, bayangkan satu hari 10 galon. Berapa duit yang saya harus keluarkan,” ungkapnya.

Tak pelak, hal ini membuat dirinya jengkel. Ia mengatakan bila air hidup pada malam hari. Jumlah galon yang dibelinya bisa berkurang. Sebab ia bersama suaminya, mengisi bak mandi pada malam hari. “Bila air mengalir pada malam hari, kami isi penuh bak mandi. Pengeluaran untuk pembelian galon, jadi sedikit berkurang,” ujarnya.

Hal yang sama dikatakan oleh Suwarno, ia terpaksa harus mengeluarkan biaya lebih. Dimana biasanya ia tak harus membeli air tanki, namun karena krisis air akhir-akhir ini. Ia terpaksa membeli air bersih pakai tanki.

“Saya patungan dengan tetangga belinya, jadi sedikit bisa berhemat,” ungkapnya.

Ia dan beberapa tetangganya, juga harus membali tanki air yang banyak dijual ditepi jalan. Dengan adanya tanki air ini, ia dapat mensiasati kekurangan tempat penampungan air. “Dengan ada tanki plastik itu, bisa menampung lebih banyak air. Saya beli dekat Cikitsu, harganya Rp 220 ribu saja,” tuturnya.

Sementara itu Syafliana pengusaha laoundry kiloan, juga mengeluhkan ketiadaan air pada pagi hingga siang hari. Sebab beberapa karyawannya, kesulitan mengerjakan pakaian pelangganya.

“Pelanggan banyak masukan baju, tapi air tak ada. Biasanya mengalir pada jam 12 ke atas gitu. Namun itu pun kecil kali,” ungkapnya.

Syafliana mengatakan untung saja dirinya masih memiliki tempat laundry yang lain di beberapa tempat. Sehingga pengerjaan pencucian baju, bisa dilaksanakan ditempat yang lain. Bila tidak, bisa dipastikan akan banyak pelangganya yang kabur.

“Terpaksa menambah biaya tranportasi lagi, karena harus mengantar cucian dari Botania ini ke loundry saya yang lain (berada diluar daerah Botania, red). Bila tidak seperti ini, bisa kabur pelanggan,” pungkasnya. (ska/bpos)

Respon Anda?

komentar