ATB Akan Hentikan Penggiliran Distribusi Air Bersih di Batam

1522
Pesona Indonesia
Acin terpaksa menampung air dengan jerigen di depan rumahnya di Perumahan Bengkong Permai karena pasokan air di daerah tersebut sudah seminggu terhenti, Rabu (7/10). Foto: Cecep Mulyana/Batam Pos
Acin terpaksa menampung air dengan jerigen di depan rumahnya di Perumahan Bengkong Permai karena pasokan air di daerah tersebut sudah seminggu terhenti, Rabu (7/10). Foto: Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – PT Adhya Tirta Batam membuka peluang menghentikann sistem penggiliran pendistribusian air bersih (rationing) di Batam. Namun hal ini tak berlaku untuk pelanggan yang sumber air bersihnya dari dam Seiharapan dan Seiladi.

“Kami masih melihat dulu, karena sudah beberapa kali hujan,” kata Corporate Communication Manager ATB, Enriqo Moreno, Senin (12/10).

Padahal, kata ia, jika kondisi tak berubah seperti beberapa bulan lalu di mana tak kunjung turun hujan selama beberapa waktu yang menyebabkan debit air di beberapa dam menyusut, rationing akan dilanjutkan ke dam lain.

“Rencana rationing berikutnya ke Dam Mukakuning yang area distribusinya ke wilayah Batuaji, tapi untuk saat ini belum,” kata dia.

Meski demikian, Enriqo menyatakan pihaknya masih akan menghitung perkiraan debit air dengan kondisi cuaca. Jika kembali tak turun hujan, opsi merationing dam lain kembali menganga.

“Kalau dalam hitungan nanti dirasa (debit air) belum cukup, ya terpaksa kita rationing lagi,” kata dia.

Sebelumnya, ATB menggilir pendistribusian air ke wilayah yang terhubung dengan Dam Seiharapan dan Seiladi. Akibatnya, cakupan wilayah yang terdampak dari penggiliran penghentian produksi di Instalasi Pengolahan Air (IPA) dari dua dam tersebut akhirnya juga mengalami seret pasokan air.

Wilayah yang seret itu antara lain aliran air ke rumah-rumah warga di sekitar Tanjungriau, Sekupang, Patam, Tiban, hingga Lubukbaja tak mengalir pada hari Rabu dan Sabtu, periode rutin rationing.

Namun, kondisi itu dirasa cukup menyulitkan bagi warga yang tinggal di area dataran tinggi atau wilayah yang cukup jauh dari IPA dam tersebut. Pasalnya, ketika pada hari berikutnya saat IPA dihidupkan, air tak bisa langsung mengalir.

Seperti yang dialami Idham, warga Tiban Lama, Tiban, Sekupang. Ia mengeluhkan aliran air usai pemadaman di IPA tak bisa langsung dinikmati. Pasalnya, air baru sampai pada malam hari berikutnya. Itupun, jelang subuh air kembali mampet.

“Kalau diluar jadwal rationing, air mengalir saat malam hari saja, Kalau di Rabu dan Sabtu itu mati total,” kata Idham.

Hal serupa juga dirasakan Afa, warga Tanjungsengkuang, Batuampar. Meski wilayahnya tak terkena rationing, namun air mengalir ke rumahnya hanya saat malam hari saja.

“Sudah beberapa bulan ini seperti itu terus,” keluh wanita berjilbab tersebut.

Menanggapi itu, Anggota Komisi III DPRD Batam, Jeffry Simanjuntak mengingatkan ATB agar memperhatikan pelbagai keluhan yang datang dari masyarakat. Menurut Politisi PKB itu, keluhan dari masyarakat tak boleh lantas diabaikan.

“Kalau menyatakan air mati hanya pada hari Rabu dan Sabtu, upayakan agar masyarakat tak dapat air hanya pada hari itu saja, jangan merembet ke hari lain,” kata Jeffry.

Menurut dia, sudah semestinya perusahaan yang mendapat konsesi air bersih dari BP Batam itu mengupayakan pelbagai cara agar air bisa sampai ke rumah warga. Bukan berlindung dengan dalih rumah warga yang di dataran tinggi atau terjauh diminta maklum jika lambat menerima air.

“Mereka pelanggan juga, haknya sama, upayakan dong,” kata dia.

Dengan banyaknya keluhan tersebut, Jeffry juga meminta BP Batam agar menegur sekaligus mengevaluasi kinerja perusahaan yang awalnya merupakan konsorsium internasional tersebut.

“BP Batam jangan diam saja,” katanya. (rna/bpos)

Respon Anda?

komentar