BMPS: Larangan Membawa Kendaraan ke Sekolah Bukan Solusi Atasi Kejahatan

356
Pesona Indonesia
Imbalo Iman Sakti (tengah), Ketua Harian Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS) Batam. Foto: dok imbalo/imbalo.wordpress.com
Imbalo Iman Sakti (tengah), Ketua Harian Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS) Batam. Foto: dok imbalo/imbalo.wordpress.com

batampo.co.id – Ketua Harian Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS) Imbalo Iman Sakti tidak sepakat dengan larangan membawa kendaraan yang dikeluarkan Dinas Pendidikan bagi para siswa sekolah. Terlebih jika dikaitkan dengan maraknya kejahatan yang terjadi belakangan ini.

“Ini seperti kejadian ‘padi dimakan tikus, tapi lumbungnya yang dibakar’. Harusnya kan tikusnya yang dibunuh,” kata Imbalo Iman Sakti.

Seharusnya, bukan anak-anak yang dibatasi menggunakan kendaraan ke sekolah. Melainkan, pelaku kejahatan itulah yang diberantas. Para polisi harus bekerja ekstra keras untuk segera menangkap pelakunya.

Larangan membawa kendaraan tidak akan menjadi solusi meminimalisir kejahatan. Sebab, Batam masih belum dilengkapi dengan sarana dan prasarana transportasi yang layak. Padahal, sebagian besar sekolah itu tidak berlokasi tepat di tepi jalan. Melainkan, harus masuk ke pelosok-pelosok daerah.

Tentu diperlukan alat transportasi khusus yang bisa mengantar anak-anak hingga tepat di pintu gerbang. Dan sebaliknya, menjemput mereka kembali dari sekolah.

“Sampai sepuluh tahun juga, moda transportasi di sini tak akan siap untuk itu. Yang paling efektif itu ya sepeda motor,” ujarnya.

Pria yang sekaligus menjadi pemilik Yayasan Pendidikan Hang Tuah itu mengatakan, sebagian besar orang tua siswa pun menolak larangan itu. Sebab, mereka merasa kesulitan jika harus mengantar anak-anak mereka pergi sekolah. Beruntung yang memiliki satu anak. Kalau anaknya empat bagaimana?

Selain itu, sekolah pun kini mulai memberlakukan kegiatan belajar mengajar dua shift. Orang tua yang bekerja akan kesulitan mengantar anak-anak yang mendapat bagian jam belajar siang hari.

“Di Hang Tuah ini, 70 persen orang tua siswa bekerja, anaknya sekolah,” tuturnya.

Menanggapi adanya surat edaran pelarangan itu, Imbalo mengaku telah menyampaikan surat edaran itu kepada para siswa. Namun, ia dan pihak sekolah tak memaksa para siswa untuk mematuhinya.

“Himbauan itu sekadar disampaikan saja,” ujarnya.

Terhitung sejak Selasa (6/10) lalu, Dinas Pendidikan Batam mengeluarkan larangan bagi para siswa untuk membawa kendaraan ke sekolah. Larangan itu berlaku di semua jenjang sekolah. Mulai dari SD hingga SMA.

Sebagian sekolah menyambut baik larangan ini. Sebab, larangan ini diyakini dapat meminimalisir kejahatan terhadap anak-anak sekolah. Namun, sebagian lainnya masih belum berani memberlakukan larangan itu. Penyebabnya, tidak semua siswa tinggal di daerah yang dekat dengan sekolah. (ceu/bpos)

Respon Anda?

komentar