Ini Kondisi Industri Shipyard Batam Disaat Ekonomi Global Belum Pulih

1274
Pesona Indonesia
ASL Marine Batam, salah satu industri shipyard di Batam yang cukup maju. Foto: http://www.offshoreenergytoday.com
ASL Marine Batam, salah satu industri shipyard di Batam yang cukup maju. Foto: http://www.offshoreenergytoday.com

batampos.co.id – Industri Shipyard atau galangan kapal Batam belum sepenuhnya bangkit usai terpuruk sejak beberapa tahun terakhir. Bahkan, kunjungan Presiden Joko Widodo ke Batam beberapa waktu lalu yang menyatakan akan turut mendorong industri shipyard Batam agar kembali jaya, ternyata belum membuahkan hasil.

Sekretaris Batam Shipyard Offshore Association (BSOA), Novi Hasni mengungkap laju nilai ekspor galangan kapal Batam tak mengalami kenaikan spesifik sejak awal tahun lalu.

“Berdasar estimasi nilai kontrak kapal, gak ada kenaikan,” kata Novi, Senin (12/10).

Termasuk, sejak kedatangan Presiden Jokowi yang menyatakan akan mendorong kementerian dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk memesan kapal buatan shipyard dalam negeri.

“Karena kalau untuk kapal-kapal pemerintah kan masih open tender, kita masih ajukan untuk verifikasi, karena yang baru mengajukan kan Kementerian Perhubungan, yang lain belum,” ujar dia.

Selain sepi order, hal lain yang juga membuat perusahaan galangan kapal kian berat menghadapi kondisi ekonomi kekinian yakni masih bergantungnya komponen pembuatan kapal Batam dengan bahan-bahan impor.

Menurut Novi, sejauh ini ketersediaan komponen lokal untuk pembuatan industri galangan kapal belum memadai. Kalaupun ada, itu harganya lebih mahal ketimbang produk impor.

Ia mencontohkan, produk komponen perakitan kapal dari PT Krakatau Posco yang berada di Cilegon, Banten, yang merupakan anak usaha BUMN, PT Krakatau Steel Tbk. Novi menyebut, komponen kapal dari Krakatau Posco harganya malah lebih tinggi karena biaya pengiriman yang juga mahal.

“Harusnya kalau mau, mereka buka di Batam, jadi harganya bisa lebih murah,” kata Novi.

Karena itu, sambung Novi, galangan kapal Batam lagi-lagi harus mengandalkan komponen dari luar negeri. Ia mencontohkan, komponen mesin utama kapal.

“Main engine (mesin utama) masih pakai merek Eropa seperti Caterpilar, atau juga dari China,” sebutnya.

Seperti diketahui, industri shipyard Batam yang sempat digadang sebagai salah satu industri manufaktur besar dengan total 110 perusahaan, terbanyak dibanding daerah lainnya di Indonesia itu mulai tersengal-sengal sejak beberapa tahun terakhir. (rna/bpos)

Respon Anda?

komentar