Gara-Gara Ingin Koleksi 10 Butir Amunisi Plastik, Otong Malah Dipenjara

442
Pesona Indonesia
Otong saat menjalani sidang di PN Batam, Selasa (13/10). Foto: anggie/batampos
Otong saat menjalani sidang di PN Batam, Selasa (13/10). Foto: anggie/batampos

batampos.co.id – Gara-gara menyimpan 10 butir amunisi karet aktif di belakang rumahnya di Belakangpadang, Henry Alfree Bakari alias Otong Bin Hengky terancam hukuman penjara seumur hidup. Kini ia berharap vonis hakim bisa lebih ringan.

Pada persidangan Selasa (13/10) kemarin di PN Batam, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Johanes Mandowali menghadirkan saksi, Surya dan Nasib Hutasoit yang merupakan anggota Kepolisian Sektor (Polsek) Belakangpadang yang penangkap Otong, juga saksi dari terpidana Irfan Syarifunizam.

Dalam keterangan saksi penangkap, Nasib mengatakan menangkap Otong setelah mendengar informasi dari terpidana Irfan yang juga ditangkap sebelumnya karena memiliki sepucuk senjata api jenis Revolver tanpa izin.

Para saksi mengatakan, saat menggeledah rumah Otong pada Selasa (5/5/2015) lalu, tim kepolisian berhasil menemukan 10 butir amunisi karet yang masih aktif dan disimpan di rak piring belakang rumahnya.

“Setelah mendengar informasi dari Irfan, kita langsung melakukan pengintaian dan penggeledahan di rumah terdakwa Otong. Sebanyak 6 orang polisi berpakaian preman turun dan akhirnya menemukan 10 butir peluru di rak piring belakang rumah terdakwa,” ujar Nasib.

Selain itu, saat persidangan juga terungkap bahwa Otong mendapat peluru dari almarhum Wak Jek, lalu ia menyembunyikannya di rak piring belakang rumahnya dengan alasan ingin mengkoleksi 10 butir amunisi tersebut.

“Terdakwa melakukan kesalahan, karena menyimpan amunisi tanpa hak,” terang saksi Surya.

Ia menerangkan, tindakan terdakwa jelas tanpa memiliki hak, izin, dan melawan hukum. “Amunisi tersebut bisa menyebabkan kematian jika dilepaskan ke objek hidup. Saat ini yang memiliki izin kepemilikan amunisi itu hanyalah anggota Kepolisian dan TNI saja,” tegasnya.

Sementara, saksi dari terpidana Irfan menjelaskan bahwa Otong juga pernah ingin mencoba fungsi dari amunisi tersebut dengan senjata api yang dimiliki Irfan, namun Irfan langsung mengatakan bahwa kaliber peluru tidak cocok dimasukkan ke senjata api miliknya.

Terdakwa Otong, dalam dakwaan Penuntut Umum dikenakan dengan Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Darurat Republik Indonesia Nomor 12 tahun 1951 tentang Kepemilikan Senjata Api, yang terancam pidana penjara minimal 12 tahun dan maksimal seumur hidup.

Usai mendengarkan keterangan saksi, Ketua majelis hakim Vera Yetti Simanjuntak, didampingi Hakim Anggota Alfian, dan Syahrial, akan kembali melanjutkan persidangan pada pekan depan, Senin (19/10) dengan agenda mendengarkan keterangan saksi Amah Handayani yang merupakan isteri terdakwa sekaligus pemeriksaan terdakwa. (cr15/bpos)

Respon Anda?

komentar