Alamaakkk! Simpan 10 Butir Amunisi Terancam Hukuman Seumur Hidup

461
Pesona Indonesia
Sidang Otong, dengan saksi polisi. foto:anggie/batampos
Sidang Otong, dengan saksi polisi. foto:anggie/batampos

batampos.co.id – Terdakwa Henry Alfree Bakari alias Otong bin Hengky menjalani persidangan atas dakwaan kepemilikan 10 butir amunisi karet aktif yang disembunyikan di rak piring belakang rumahnya. Persidangan dilanjutkan dengan agenda mendengarkan keterangan saksi yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Johanes Mandowali, Selasa (13/10).

Saksi tersebut yaitu Surya dan Nasib Hutasoit yang merupakan anggota Kepolisian Sektor (Polsek) Belakangpadang selaku saksi penangkap terhadap Otong, juga saksi dari terpidana Irfan Syarifunizam. Dalam keterangannya, saksi Nasib mengatakan melakukan penangkapan terhadap Otong setelah mendengar informasi dari terpidana Irfan yang juga ditangkap sebelumnya karena memiliki sepucuk senjata api jenis Revolver tanpa izin.

“Setelah mendengar informasi dari Irfan, kita langsung melakukan pengintaian dan penggeledahan di rumah terdakwa Otong. Sebanyak 6 orang polisi berpakaian preman turun,” ujar Nasib.

Petugas Polsek Belakangpadang melakukan penggeledahan di rumah terdakwa Otong, Selasa (5/5) lalu. Saat itu hanya ada isteri Otong, Amah Handayani, yang berada di dalam rumah. Dalam penggeledahan tersebut, tim kepolisian berhasil menemukan 10 butir amunisi karet yang masih aktif dan disimpan di rak piring belakang rumahnya.

Selain itu, saat persidangan turut terungkap bahwa Otong mendapat peluru dari almarhum Wak Jek, lalu ia menyembunyikannya di rak piring belakang rumahnya dengan alasan ingin mengkoleksi 10 butir amunis? tersebut. “Terdakwa melakukan kesalahan, karena menyimpan amunisi tanpa hak,” terang saksi Surya.

Ia menerangkan, tindakan terdakwa jelas tanpa memiliki hak, izin, dan melawan hukum. “Amunisi tersebut bisa menyebabkan kematian jika dilepaskan ke objek hidup. Saat ini yang memiliki izin kepemilikan amunisi itu hanyalah anggota Kepolisian dan TNI saja,” tegasnya.

Sementara, saksi dari terpidana Irfan menjelaskan bahwa Otong juga pernah ingin mencoba fungsi dari amunisi tersebut dengan senjata api yang dimiliki Irfan, namun Irfan langsung mengatakan bahwa kaliber peluru tidak cocok dimasukkan ke senjata api miliknya. “Otong dapat amunisi itu dari Wak Jek, dan pernah mau dicobakan ke senjata saya tapi saya bilang itu tidak cocok dengan senpi yang saya punya yang mulia,” ungkap Irfan kepada majelis hakim.

Terdakwa Otong, didalam dakwaan Penuntut Umum dikenakan dengan Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Darurat Republik Indonesia Nomor 12 tahun 1951 tentang Kepemilikan Senjata Api, yang terancam pidana penjara minimal 12 tahun dan maksimal seumur hidup.

Usai mendengarkan keterangan saksi, Ketua majelis hakim Vera Yetti Simanjuntak, didampingi Hakim Anggota Alfian, dan Syahrial, akan kembali melanjutkan persidangan pada pekan depan, Senin (19/10) dengan agenda mendengarkan keterangan saksi Amah Handayani yang merupakan isteri terdakwa sekaligus pemeriksaan terdakwa. (cr15/bpos)

Respon Anda?

komentar