Birokrasi Pengurusan Perizinan Masih Berbelit

273
Pesona Indonesia
Syamsul Bahrum, Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan (Ekbang) Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepri. Foto: dok. batampos
Syamsul Bahrum, Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan (Ekbang) Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepri. Foto: dok. batampos

batampos.co.id – Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan (Ekbang) Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepri, Syamsul Bahrum menilai saat ini Kepri, khususnya Batam, kekurangan lahan untuk berkembang, sehingga menghambat investor yang akan masuk.

Hambatan lainnya, pengurusan perizinan lahan dan peruntukannya yang harus sesuai tata ruang, masih terlalu berbelit. Setiap investor harus melalui tiga institusi, yakni Badan Pengusahaan (BP) Batam, Pemerintah Kota (Pemko) Batam, dan Badan Pertanahan Nasional (BPN).

”Untuk mengurus itu saja sudah banyak menghabiskan waktu. Belum membangun dan mengisinya,” kata Syamsul dalam acara silaturahmi dan ramah tamah Pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dengan Pengurus Kadin Provinsi Kepri di Hotel Harmoni One, Batamcenter, Selasa (13/10) malam.

Ketua Kadin Indonesia, Suryo Bambang Sulisto yang turut hadir di acara tersebut, mengatakan saat ini perekonomian Indonesia penuh tantangan dan terjadi penurunan tingkat pertumbuhan. Dimana saat ini banyak perusahaan yang merasakan kesulitan dan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) para pekerjanya.

”Penurunan itu juga terasa pada kinerja ekspor. Jadi kita harus melakukan pembenahan,” kata Suryo.

Menurutnya, banyak faktor eksternal yang mempengaruhi ekonomi Indonesia, seperti ketergantungan ekspor komuditi. Selain itu, Indonesia tak pernah fokus mengembangkan industrinya.

”Padahal di Indonesia banyak industri yang mudah dipetik (dikelola). Seperti industri berbasis bahan baku. Bahan bakunya tanpa diimpor, ada kelapa, karet, dan kopi,” terangnya.

Ia menambahkan, pembenahan selanjutnya pada industri subtitusi impor. ”Jika sudah berkembang dengan baik, maka kelebihan hasil produksi dapat diekspor guna memperoleh tambahan devisa,” terangnya.

Suryo optimis dengan langkah tersebut bisa terus mengalirkan investasi dan menghasilkan visa. Selain itu, menciptakan lapangan pekerjaan. (opi/bpos)

Respon Anda?

komentar