Simalikul, Eksekutor Ros Duha hanya Diupah Rp 4 Juta

823
Pesona Indonesia
Simalikul (eksekutor, baju no. 30) dan Hendra (baju no 12), tersangka pembunuhan sedang di tanyai oleh Kapolres Asep Safrudin di Polresta Barelang, Rabu (14/10). Foto: Johannes Saragih/Batam Pos
Simalikul (eksekutor, baju no. 30) dan Hendra (baju no. 12), pembunuh Ros Duha sedang di tanyai oleh Kapolres Barelang Asep Safrudin di Polresta Barelang, Rabu (14/10). Foto: Johannes Saragih/Batam Pos

batampos.co.id – Motif pembunuhan Ros Duha, 48, pengusaha catering dan tempat hiburan malam di Sintai, Tanjunguncang, telah terungkap. Salah satu pelaku, Hendra, 21, mengaku nekat menghabisi nyawa bosnya itu karena sakit hati lantaran sering dimarahi dan dimaki serta tiga bulan tak digaji.

Kesal dan dendam dengan sikap korban, Hendra kemudian merencanakan pembunuhan tersebut sejak dua hari sebelum kejadian yakni pada Selasa (6/10/2015). Pada Minggu (4/10/2015), Hendra mengambil tali jemuran dari belakang Bar Mutiara Sintai milik korban.

Untuk memperlancar niat kejinya itu, Hendra mengajak rekannya, Simalikul Mahadi, 18, yang juga karyawan korban. Setelah persiapan dirasa cukup matang, kedua pelaku akhirnya melancarkan aksinya pada Selasa (6/10/2015) sekira pukul 23.45 WIB.

Saat itu, kedua pelaku dan korban naik Toyota Rush BP 1866 DP milik korban dari Batuaji menuju Tanjunguncang. Hendra mengemudikan mobil dan Ros duduk di kursi kiri depan. Sementara Simalikul duduk di kursi tengah persis di belakang Ros.

Saat dalam perjalanan itulah kedua pelaku yang merupakan warga asal Bireuen, Aceh, ini menghabisi nyawa Ros. Simalikul bertindak sebagai eksekutor dengan cara menjeratkan tali yang sudah disiapkan ke leher Ros. Ini merupakan skenario yang sudah disiapkan oleh Hendra sebagai otak pelaku pembunuhan tersebut.

“Saya yang menjerat. Dia (Hendra, red) yang memastikannya tewas,” kata Simalikul.

Simalikul masih ingat betul reaksi Ros saat dijerat lehernya dengan tali. Tubuhnya meronta-ronta sehingga Simalikul harus mengencangkan jeratan tali di leher korban hingga tangannya terluka. Sekitar 10 menit kemudian, tubuh korban tak bergerak lagi.

Setelah Ros dipastikan tewas, Hendra memacu mobilnya ke arah Bukit Harimau, Sekupang. Di lokasi inilah keduanya membuang jasad Ros ke dalam jurang. Mayat Ros baru ditemukan pada Sabtu (10/10) petang.

Kemudian kedua pelaku mengambil uang sebanyak 6.600 dolar Singpura milik korban. Selain itu ponsel merek Samsung milik Ros juga diembat kedua pembunuh tersebut.

Keesokan harinya, Rabu (7/10/2015) kedua pelaku kabur ke Aceh melalui Bandara Hang Nadim Batam. Keduanya menggunakan mobil korban saat menuju Bandara Hang Nadim. Inilah yang kemudian menjadi petunjuk polisi untuk memburu mereka ke Aceh, dan berhasil menangkap keduanya pada Minggu (11/10/2015) dan Senin (12/10/2015) lalu.

Sebelum kabur ke kampung halamannya itu, Simalikul mengaku mendapat bagian uang hasil rampasan dari Ros. Namun Simalikul mengaku hanya mendapatkan Rp 4 juta.

Dari pengakuan Simalikul, ia sama sekali tak berniat menghabisi nyawa Ros. Dia mengaku terpaksa membunuh Ros karena dipaksa oleh Hendra. Katanya, Hendra mengancam akan membawanya pulang ke Aceh juga tak mau menuruti perintahnya

“Saya hanya diajak. Kalau masalah dengan dia (Ros) tak ada. Saya terpaksa,” tutur pria yang baru bekerja seminggu di lokasi usaha milik korban tersebut.

Simalikul juga mengaku, sebelumnya Hendra juga pernah merencanakan pembunuhan itu. Namun saat itu rencana tersebut gagal lantaran Simalikul enggan diajak bekerjasama.

“Yang pertama saya diajak juga. Tapi tidak tega dan gak sanggup,” aku Simalikul.

Menurutnya, ia terpaksa menuruti perintah membunuh itu karena Hendra yang membiayai kehidupannya selama di Batam. “Yang bawa saya ke Batam dia (Hendra). Terpaksa nurut saja,” ujarnya.

Kapolresta Barelang, Kombes Asep Safrudin, mengatakan penangkapan yang dipimpin Kapolsek Batuaji, Kompol Andi Rahmansah itu tanpa adanya perlawanan. Pihaknya turut mengamankan barang-barang milik korban berupa tas dan dokumen.

“Dari keterangan saksi dan bukti kami bergerak cepat dan mengamankan kedua pelaku,” kata Asep.

Asep menegaskan, atas perbuatannya pelaku dijerat pasal 340 Jo 338 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman mati. (she/opi/bpos)

Respon Anda?

komentar