Kayaknya yang Tahu Kasus ini Cuma Allah, Nia, Pelaku, Sama Setan

449
Pesona Indonesia
Isna, ibunda Nia. Foto: Dalil Harahap/batampos
Isna, ibunda Nia. Foto: Dalil Harahap/batampos

batampos.co.id – Kepolisian sudah memberitahukan kepada keluarga siswi SMA Negeri 1, Dian Trisna Afiefa (Nia) yang tewas di bunuh tiga pekan lalu,  bahwa minimnya bukti membuat polisi kesulitan mengunkap pembunuh Nia.

Mendengar hal itu, ibu Nia, Isna, tetap berharap pembunuh anaknya ditangkap. Pasalnya, jika tak berhasil ditangkap, bisa jatuh korban lainnya.

“Mudah-mudahan Allah menunjuk jalan supaya kasus ini terungkap,” ujar Isna.

Isna sendiri sebenarnya sedih mendengar polisi menyampaikan pihaknya sulit mengungkap kasus pembunuhan anaknya karena minim bukti.

“Tapi katanya polisi akan tetap usaha. Kayaknya yang tahu tentang kasus ini ada empat yaitu Allah, Nia, Pelaku, sama Setan,” pungkasnya.

Sementara itu, Karo Penmas Divhumas Polri, Brigjen Pol Agus Rianto mengatakan tim DVI Mabes Polri sudah dikirim ke Batam untuk memeriksa jasad korban pembunuhan tiga wanita muda di Batam. Salah satunya Nia.

Sejauh ini Mabes Polri juga belum mendapat titik terang apakah serangkaian pembunuhan itu dilakukan satu pelaku (serial killer) atau berbeda-beda.

“Memang sepertinya pembunuh berantai, tapi harus dipastikan dulu dengan melakukan penyelidikan lebih lanjut,” sambungnya.

Agus menambahkan, bisa saja kasus-kasus itu tak kunjung terungkap karena kesulitan di lapangan. Karenanya, Polresta Barelang tak dibiarkan sendirian mengusut serangkaian kasus pembunuhan itu.

“Polda Kepri juga telah membentuk tim khusus di bawah Direktorat Reserse Kriminal Umum untuk mengusut tuntas pembunuhan ini,” lanjut Agus.

Terpisah, Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) juga memberi perhatian khusus pada kasus-kasus pembunuhan di Batam. Kompolnas pun mencoba menelusuri penyebab kasus-kasus yang menjadi perhatian publik itu tak kunjung terungkap.

Anggota Kompolnas Edi Hasibuan mengatakan, pengungkapan kasus-kasus itu memang menemui kesulitan. “Ini memang memerlukan kesabaran untuk mengungkapnya. Terlebih alat bukti dan saksinya memang minim,” katanya.

Karenanya, Edi mengharapkan masyarakat bisa menjalin kerja sama dengan kepolisian setempat untuk memberikan tambahan informasi. Hal itu diperlukan untuk membantu polisi mencari pelakunya.

Meski demikian Kompolnas juga akan mendesak kepolisian bisa bekerja cepat. “Kami akan minta langsung kepada Polda Kepri agar bisa dengan segera menjawab keresahan masyarakat,” ujar mantan jurnalis ini.

Seperti diketahui, sejak Januari hingga September tahun ini, terjadi  11 kasus pembunuhan di Batam dengan korban mayoritas perempuan muda. Yang terbaru, semenjak Juli lalu ada tiga pembunuhan dengan jarak waktu yang dekat dan korbannya sama-sama mengalami luka di bagian leher. (cr13/jpnn)

Respon Anda?

komentar