Kisah Diana Lolos dari Penculikan di Temiang

1742
Pesona Indonesia
ilustrasi
ilustrasi

batampos.co.id – Penculikan di Jalan Diponegoro, Seitemiang, Sekupang, ternyata tak hanya menimpa Dian Milenia Trista Afiefa yang akrab disapa Nia. Seorang wanita berusia 21 tahun juga nyaris menjadi korban. Beruntung dia berhasil melarikan diri dari cengkeraman para garong itu.

Sebut saja namanya Diana. Hari itu, Senin (28/9) sore saat azan Magrib akan berkumandang. Jalan masih basah habis diguyur hujan dan kabut asap masih lumayan tebal.

Diana baru saja turun dari bus kantornya yang mengantarnya pulang, dari Tanjunguncang tujuan Sekupang. Dia turun di jalan baru seberang Perumahan Delta Villa dan Tiban Koperasi.

Tapi saat akan menyeberang, tiba-tiba sedan Corolla warna hijau tua keluaran 1997 berhenti di depannya dan menghentikan langkahnya. Seorang pria yang duduk di jok belakang dengan cepat membuka pintu dan menarik tangan kiri Diana. Peristiwa itu terjadi dua hari setelah Nia dikabarkan hilang setelah sepeda motornya dihentikan seseorang di lokasi yang sama.

“Saya terkejut dan langsung teriak, kaki saya tahan bagaimana caranya saya gak masuk ke mobil itu. Tangannya terus mencengkram tapi saya bisa melepasnya,” kata Diana saat ditemui di Batuampar, Jumat (16/10).

Menurut Diana, pelaku punya ciri-ciri berbadan kurus, berwajah cekung, rambut acak-acakan, usianya tidak tua dan juga tidak muda. Setelah lepas dari cengkeraman pria itu, dia langsung berlari ke seberang jalan yang berlawan arah dan tak memperhatikan lagi mobil tersebut.

“Matanya belok (besar) gitu, merah dan lingkaran matanya seperti ada hitam-hitamnya, wajahnya cekung begini,” kedua tangannya menekan pipinya, menjelaskan pria tersebut.

Saking takutnya, dia hampir tertabrak mobil yang melaju lumayan kencang saat berlari menyeberang jalan.

“Berapa mobil ngerem mendadak,” katanya.

Ciri lain dari pria yang menariknya waktu itu adalah berkaos hitam, celana panjang jins hitam agak pudar dan bersandal kulit. Mereka bertiga di dalam Corolla hijau yang warnanya sudah agak luntur karena saat tangannya ditarik, Diana sempat melihat ke dalam mobil. Dua pria di jok depan dan satu pria di jok belakang.

“Yang duduk di depan matanya seperti melihat keadaan sekitar, seperti memastikan kondisi aman gitu,” tuturnya.

Peristiwa menegangkan yang berlangsung cepat itu, meninggalkan trauma bagi Diana. Dia terlihat emosional saat dia menceritakan peristiwa itu.

“Waktu saya ditarik, saya langsung ingat anak SMANSA itu (Nia, red). Saya pasti akan digituin juga,” katanya.

“Lebih baik saya mati ditabrak mobil, dari pada mati oleh mereka,” ucapnya tegas.

Rupanya, Diana tidak hanya mengalami hampir diculik di Jalan Dipenogoro, dia mengaku sudah dua kali melihat pria berbeda menunjukkan kemaluannya di halte lama tepatnya di depan Perumahan Tiban Housing saat menunggu bus kantornya menjemputnya.

“Yang terakhir tadi pagi,” ungkapnya.

Pria memakai baju kerja (wearpack, red) tanpa malu-malu sengaja mempertontonkan kelaminnya di hadapan Diana yang waktu itu sedang bersama teman kerjanya dan seorang pelajar SMA berjilbab.

“Awalnya saya gak curiga karena yang saya lihat dia sedang sibuk dengan ponselnya,” ujarnya.

Untung, tak lama kemudian bus kantornya segera tiba. Dia langsung berlari masuk ke dalam bus, tapi dia khawatir dengan anak SMA yang ada di sebelahnya tadi.

“Kami teriaki adik itu agar menyingkir dari halte itu juga, akhirnya orang itu kabur,” ucapnya.

Dia berharap di sekitar halte itu ada pos polisi sehingga warga sekitar terjamin keamanannya.

“Maunya ada polisi yang berjaga-jaga, di jalan itu kan memang sepi, sore aja gelap apalagi malam,” harap lajang kelahiran Batam ini. (ryh/bpos) 

Respon Anda?

komentar