Hanya 54 Persen Warga Batam Minum Obat Anti-Kaki Gajah

1322
Pesona Indonesia

Proses-Penularan-Penyakit-Kaki-Gajahbatampos.co.id – Warga Batam ternyata tak terlalu berminat meminum obat anti-kaki gajah yang dibagikan Dinas Kesehatan Kota Batam secara cuma-cuma. Kondisi ini bisa jadi dipicu ketakutan warga efek samping obat tersebut.

”Capaian baru 54 persen. Seharusnya 65 persen dari jumlah penduduk yang meminumnya,” kata drg Sri Rupiati, Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinkes Batam, kemarin.

Obat anti penyakit yang biasa disebut filariasis itu tersedia di setiap posyandu dan puskesmas di Batam. Jika tidak ada, warga boleh datang ke kantor Dinkes untuk mendapatkannya. Obat itu, kata Sri Rupiati, justru tidak dijual bebas di pasaran.

”Karena ini program pemerintah. Makanya obat itu tidak dijual,” ujarnya.

Bulan Oktober ini merupakan Bulan Eliminasi Kaki Gajah. Kini, seluruh puskesmas se-Kota Batam tengah menggelar sosialisasi terkait penyakit tersebut. Kecuali, puskesmas di Kecamatan Lubukbaja, Batuaji, Bengkong, dan Kelurahan Seilangkai. Keempatnya sudah lebih dulu menggelar sosialisasi tersebut sejak September lalu.

”Karena puskesmas kami ini termasuk puskesmas yang padat pasien. Satu kecamatan itu hanya satu saja puskesmasnya,” kata dr Harry Fajri, Kepala Puskesmas Batuaji yang masih terus menggelar sosialisasi itu ke tingkat posyandu di Kecamatan Batuaji.

Penyakit kaki gajah atau yang biasa disebut filariasis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh cacing filaria. Penularannya melalui semua jenis nyamuk. Namun, efeknya tidak langsung terlihat saat itu juga. ”Sifatnya jangka panjang,” jelas dr Harry lagi.

Cacing itu akan beranak-pinak di dalam tubuh manusia. Hingga bertahun-tahun kemudian, efeknya baru terlihat dengan menggembungnya bagian-bagian tubuh tertentu. Seperti, misalnya, kaki atau tangan.

Satu-satunya cara untuk menangkal penyebaran cacing filaria dalam tubuh itu dengan meminum obat anti-filariasis. Obat ini boleh diminum masyarakat dalam rentang usia 2 hingga 75 tahun.

”Semua harus minum, biar nggak nular. Biar kakinya nggak besar kayak gajah,” sambung drg Sri Rupiati lagi. (ceu/bpos)

Respon Anda?

komentar