BI: Inflasi Batam Tinggi, Segera Bangun Pasar Induk

727
Pesona Indonesia
foto: dalil harahap / batampos
Seorang warga membeli barang kebutuhan di salah satu pasar tradisional di batam. Foto: dalil harahap / batampos

batampos.co.id – Deputi Kepala Perwakilan BI Kepri, Rino Is Triyanto, menjelaskan situasi ekonomi di China dan Amerika Serikat saat ini menyebabkan perlambatan ekonomi di Batam.

Tingkat inflasi di Batam juga tinggi mencapai 3,8 persen untuk September. Jauh lebih tinggi dari inflasi nasional senilai 2,8 persen.

Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Batam, kenaikan inflasi ini sudah terjadi sejak Desember tahun lalu dengan nilai 2,69 persen.

“Penyumbang terbesar tingkat inflasi Batam antara lain tarif angkutan udara, upah mandor dan pekerja bangunan, bayam, dan daging ayam ras,” kata Rino, Senin (19/10) di kantor Kamar Dagang Industri (Kadin) Kota Batam pada acara diskusi ekonomi antara Kadin JIta Batam, Bank Indonesia (BI), BP Batam, dan Serikat-Serikat Pekerja Kota Batam.

Namun, Rino tidak menjelaskan secara rinci mengapa keempatnya menyebabkan tingkat inflasi Batam menjadi tinggi. “Kalau untuk upah mandor, banyak buruh yang beralih jadi tukang bangunan karena banyak infrastruktur yang sedang dibangun di Batam,” kata Rino.

Sedangkan untuk bayam terjadi karena kelangkaannya di pasaran. Menurut data dari BPS, situasi gunung Sinabung di Sumatera Utara yang tidak menentu menghambat laju komoditi bayam ke Batam.

Rino menyarankan agar pemerintah segera membangun pasar induk. Karena dengan keberadaanya bisa menjadi patokan harga kebutuhan pokok di pasar lainnya.

Ia juga menjelaskan inflasi itu dibentuk dari tujuh komponen antara lain pangan, sandang, perumahan, kesehatan, pendidikan, transportasi, dan tabungan. “Dan perhitungannya akan dibagi lagi kedalam 300 komoditi dari tujuh komponen tersebut,” ungkap Rino.

Ide dari Rino juga disetujui oleh anggota Kadin Kota Batam yang juga seorang pengusaha, Rusmini Simorangkir. “Pemerintah tak bisa mengontrol harga sehingga banyak tengkulak yang bermain di pelabuhan,” ungkapnya.

Menurut Rusmini, Pemko kesulitan menjangkau tengkulak karena tidak serius menanganinya.

Sedangkan perwakilan dari BP Batam, Anggota V/Deputi Bidang Pelayana Umum, Fitrah Kamaruddin, mengatakan saat ini BP Batam tengah berupaya menciptakan situasi kondusif untuk meningkatkan tingkat investasi di Batam.

“Dimulai dari perizinan yang banyak dikeluhkan, akan dipersingkat,”katanya.

Sedangkan untuk kestabilan harga kebutuhan pokok, Fitrah mengatakan bahwa itu tugas dari Pemko Batam. Ia menyarankan Kadin Kota Batam dan Pemko Batam bekerja sama untuk mengontrol pasar.

Ketua Kadin Kota Batam, Jadi Rajagukguk berjanji untuk mengawal permintaan dari para buruh untuk bersinergi dengan pemerintah stabilkan harga pasar. “Stabilitas harga yang diperlukan untuk kenyamanan bekerja dan investasi,” tutupnya. (rna/leo/bpos)

Respon Anda?

komentar