Harga Beras di Batam Melambung

765
Pesona Indonesia
Mengingat stok beras di Kepri sudah menipis. Pengusaha di Batam meminta agar kran impor beras segera dibuka sebab diperkirakan dalam waktu satu bulan mendatang, stok beras akan segera habis. Tampak karyawan toko Sembako di Pasar Sei Harapan sedang menimbang beras.  Foto:  Johannes/ Batam Pos
Stok beras di Kepri sudah menipis dan harganya melambung . Pengusaha di Batam meminta agar kran impor beras segera dibuka. Foto: Johannes/ Batam Pos

batampos.co.id –  Dinas Perindustrian, Perdagangan dan ESDM (Disperindag-ESDM) Kota Batam menyalahkan pembatasan impor beras ke Batam yang mengakibatkan komoditas itu langka sejak beberapa hari terakhir. Selain itu, harga beras di pasaran juga melambung.

Plt Kepala Disperindag-ESDM Batam, Rudi Sakyakirti, mengatakan selama ini Batam sangat tergantung dengan beras impor yang dinilai efektif menekan harga beras. “Stoknya menipis dan akibatnya mahal,” ujar Rudi, Senin (19/10).

Menurut dia, ketika impor beras ke Batam masih lancar meskipun menyalahi aturan lantaran belum dilegalkan, namun hal itu dinilai membantu mengendalikan harga beras di kota berbentuk kalajengking ini. Sebaliknya, ketika importasi beras dibatasi, harga kebutuhan pokok itu juga meroket.

Belum lagi, indikasi adanya penimbun beras yang sengaja memanfaatkan situasi untuk mengeruk untung ketika harga beras melambung.

“Kami akan melakukan sidak, tapi waktunya belum kami tentukan,” kata Rudi.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Perdagangan Dalam Negeri Disperindag ESDM Kota Batam, Muhammad Zein, mengatakan mahalnya harga beras dikarenakan beras yang beredar merupakan barang dari daerah lain di dalam negeri. Ini lantaran biaya distribusi beras itu malah lebih mahal ketimbang beras impor.

“Harga tinggi karena pengendalian ada di pusat,” ujar dia.

Sejauh ini, kata ia, belum mendapati distributor yang sengaja menimbun beras untuk menaikan harga. Meski demikian, pihaknya akan melakukan sidak untuk memastikan hal itu.

Terpisah, Ketua Komisi II, DPRD Batam, Yudi Kurnain, menilai tingginya harga beras di Batam lantaran kran impor belum dilegalkan. Di sisi lain, ketika mengandalkan beras dari dalam negeri, biaya logistik pengirimannya malah lebih mahal.

“Pak (Presiden) Jokowi sendiri mengakui, harganya lebih mahal 300 persen ketimbang mengimpor,” ujar Yudi.

Jika pemerintah pusat bersikeras melarang impor beras, ia katakan sebaiknya pemerintah pusat memastikan ketersediaan beras nasional dengan harga rendah. Sebaliknya, kalau impor dibuka, harus ada pengawasan yang ketat.

“Sehingga tidak merembes ke daerah lain,” kata politikus PAN itu.

Sementara Anggota Komisi II, Mulia Rindo Purba mengungkapkan, secara hitung-hitungan nasional, setiap penduduk membutuhkan 0,3 kilogram beras per hari. Sementara Batam saat ini jumlah penduduk kurang lebih 1,2 juta jiwa.

“Dari hitungan itu setidaknya Batam butuh 10.800 ton per-bulan,” kata Rindo.

Sedangkan untuk pengawasan, pihaknya juga akan terjun ke lapangan untuk ikut menginspeksi dan melakukan sidak jika dibutuhkan. (rna/bpos)

Respon Anda?

komentar