Lagi Tiga Kapal Asing Ditenggelamkan

486
Pesona Indonesia
Tiga kapal tangkapan PSDKP diledakan dan ditenggelamkan di perairan Pulau Momoi Batam, Selasa (20/10). Foto: Johannes Saragih/Batam Pos
Tiga kapal tangkapan PSDKP diledakan dan ditenggelamkan di perairan Pulau Momoi Batam, Selasa (20/10). Foto: Johannes Saragih/Batam Pos

batampos.co.id  – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) kembali menenggelamkan kapal ikan asing (KIA). Bersama dengan TNI AL, Polri, Kejari Batam, Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, menyaksikan penenggelaman tiga KIA di perairan Pulau Raja, Batam, Selasa (20/10).

Susi mengatakan, seharusnya kapal asing pelaku ilegal fishing yang ditangkap tagan langsung ditenggelamkan tanpa perlu melalui proses hukum. Karena kapal-kapal telah melanggar kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan seenaknya masuk ke perairan Indonesia tanpa memiliki dokumen yang sah.

“Itu dilakukan untuk memberikan efek gentar kepada para pelaku,” kata Susi usai penenggelaman kapal di Batam, kemarin.

Tak hanya melanggar batas wilayah, kata Susi, setiap kapal yang tertangkap juga melakukan penangkapan ikan secara ilegal. Parahnya lagi, kebanyakan KIA menggunakan alat tangkap terlarang seperti pukat harimau (trawl).

Menurut Susi, penggelapan kapal ilegal fishing secara langsung sangat dimungkinkan sebagai mana surat edaran Ketua Makamah Agung nomor 1 tahun 2015 tentang barang bukti kapal dalam perkara pidana perikanan. Dalam surat edaran itu dijelaskan bahwa menurut pasal 69 ayat 4 undang-undang nomor 45 tahun 2009 dalam melaksanakan fungsinya penyidik dan atau pengawas perikanan dapat melakukan tindakan khusus berupa pembakaran dan atau penenggelaman kapal perikanan yang berbendera asing berdasarkan bukti pemulaan yang cukup.

Tiga kapal yang ditenggelamkan di perairan Batam yaitu KM Sudita 15 ukuran 190 GT milik nelayan Thailand. Kapal ini ditangkap di laut Natuna beserta 13 orang anak buah kapal (ABK) pada 7 Maret lalu.

Dua kapal lainnya merupakan kapal berbendera Vietnam yang ditangkap di Natuna pada 22 Maret lalu. Masing-masing KM KG 92728 TS ukuran 127,8 GT dan KM KG 90540 TS ukuran kapal 109,15 GT. Sebanyak 26 ABK diamankan dari dua kapal asing ini.

Selanjutnya, kata Susi, masih ada 35 kapal asing yang juga akan ditenggelamkan. “Saya belum tahu, nanti tunggu saja waktunya,” ujar Susi.

Susi mengatakan, hingga saat ini sudah ada 103 KIA yang sudah ditenggelamkan dari 550 kapal yang terdata. Sementara 447 KIA sisanya masih dalam proses hukum.

Susi juga menuturkan ke depan untuk penyelesain pengadilan KIA ini bisa cepat lagi karena penahanan ABK yang lama bisa menyebabkan biaya membengkak, “Sudah kita dicuri, masih juga kita yang keluar biaya,” terangnya.

Untuk mempermudah dalam penanganan terhadap penindak hukum dan eksekusi sesuai undang-undang, Susi mengatakan akan membentuk satgas yaitu Poskodal. Satgas ini terdiri dari unsur TNI AL, kejaksaan, polisi, dan penegak hukum lainya.

“Semunya itu di bawah koordinasi Poskodal, semua bekerja bersama. Kalau dulu hanya internal KKP saja,” terang Susi

Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP), Asep Burhanudin, mengatakan selain di Batam, sebelumnya penenggelaman kapal juga terjadi di daerah lain. Totalnya ada 12 kapal.

“Delapan kapal dari KKP dan empat kapal dari TNI AL,” ujar Asep.

Asep mengatakan kegitan penenggelaman dilakukan di berbagai lokasi yang berbeda. Dimulai pada Senin (19/10), KKP sudah menenggelamkan empat kapal Vietnam di Pontianak, Kalimantan Barat. Sementara TNI AL menenggelamkan empat kapal Filipina di Tarakan, Kalimantan Timur.

“Hari ini, selain di Batam juga ada satu kapal lagi juga ditenggelamkan di Aceh,” ungkap Asep. (cr14/bpos)

Respon Anda?

komentar