Tanggapan dan Permintaan Buruh di Batam Soal Penghitungan Upah

665
Pesona Indonesia
Suprapto. Foto: dok.batampos
Suprapto. Foto: dok.batampos

batampos.co.id – Sekretaris Konsulat Cabang Federasi Serikat Pekerja Metal (FSPMI) Kota Batam, Suprapto, mengatakan pihaknya tak bisa serta merta menerima usulan formula pengupahan tersebut. Pasalnya, ia menilai data inflasi maupun pertumbuhan ekonomi tak bisa jadi acuan utama penghitungan kenaikan upah.

“Pertumbuhan ekonomi kadang tidak sinkron dengan kebutuhan riil di lapangan, karena harga pokok di lapangan mengalami kenaikan,” kata dia.

Ia katakan, indikasi inflasi yang tinggi dan melemahnya daya beli masyarakat dalam beberapa bulan terakhir sudah semestinya jadi acuan untuk menaikkan UMK, guna menggairahkan daya beli masyarakat.

“Kalau kebutuhan tinggi tapi UMK tak naik, tentu masyarakat akan keberatan,” kata dia.

Sementara itu, serikat pekerja di Batam menilai Badan Pengusahaan (BP) Batam dan Pemerintah Kota (Pemko) Batam tidak berniat untuk menjadikan Batam sebagai rumah yang nyaman bagi para pekerja.

“Saya lihat memang tak ada niat, realisasinya tak ada, hanya sekadar usulan diatas kertas saja,” ungkap Ketua Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI), Setia Tarigan, Senin (19/10) di kantor Kamar Dagang Industri (Kadin) Kota Batam pada acara diskusi ekonomi antara Kadin JIta Batam, Bank Indonesia (BI), BP Batam, dan Serikat-Serikat Pekerja Kota Batam, kemarin (19/10).

Setia mencontohkan banyak terjadi praktek monopoli pasar yang menyebabkan tingkat inflasi tinggi. Saat ini, harga beras, cabai dan bawang meningkat tajam seakan-akan tidak ada mekanisme atau kontrol dari pemerintah yang bisa mencegah ataupun mengawasinya.

Senada dengan Setia, Ketua Federasi Serikat Pekerja Logam, Elektronik & Mesin Batam, Masmur Siahaan mengatakan ada kenaikan luar biasa pada harga kebutuhan pokok sehingga nilai kebutuhan hidup layak (KHL) naik. Kata dia, UMK saat ini Rp 2,6 juta, namun KHL sekarang Rp 2,8 juta, artinya terjadi defisit Rp 200 ribu.

“Sehingga banyak buruh yang utangnya menumpuk,” katanya.

Masmur melanjutkan banyak buruh mempertanyakan survey KHL, karena pada kenyataannya dilakukan di pasar besar saja. “Perlu diketahui, harga di pasar berbeda dengan harga di pemukiman buruh, mengapa tak survei sampai kesana,” ujarnya.

Menurut Masmur, sebenarnya berapapun gaji buruh tetap akan mencukupi, namun dengan catatan harga kebutuhan di pasar tetap stabil. Pria berkacamata ini kemudian menyampaikan mungkin suatu saat nanti Batam tidak menarik bagi para buruh. Dan jika itu terjadi pengusaha akan sulit untuk berinvestasi.

“Saya berharap keinginan buruh untuk hidup layak bisa diakomodir,” harapnya. (rna/leo)

Respon Anda?

komentar