Umat Islam Batam, Bantulah Saudara Kita Pencari Suaka di Taman Aspirasi Batam Centre

1920
Pesona Indonesia
18 imigran dari Timur Tengah berdialog dengan salah seorang warga Batam, Senin (19/10). Para imigran tersebut menggunkan Taman Apriasi yang berada di Batam Center untuk menginap. Foto: Cecep Mulyana/Batam Pos
18 imigran dari Timur Tengah berdialog dengan salah seorang warga Batam, Senin (19/10). Para imigran tersebut menggunkan Taman Apriasi yang berada di Batam Center untuk menginap. Foto: Cecep Mulyana/Batam Pos

Sejak 29 September lalu, Taman Aspirasi Batam menjadi ‘rumah’ bagi 18 warga asing pencari suaka asal Sudan, Somalia, Irak, Suriah, juga Afganistan. Bagaimana kehidupan mereka di ‘villa’ terbuka itu?

Penampilan Taman Aspirasi Batamcenter, Batam, agak berbeda sekarang. Koper-koper besar bertumpuk di kursi-kursi semen di pondok-pondok terbuka di sana. Bungkusan-bungkusan plastik tergeletak di sana-sini.

Enam pria mengobrol di satu sudutnya. Di sudut yang lain, tiga wanita tampak saling bercerita. Anak-anak mereka berada di sekitaran. Berlari-lari sambil menerbangkan pesawat kertas kesana-kesini.

Sebuah salam mengagetkan para pria yang duduk di sudut terdekat dari pintu masuk taman itu. Keenamnya segera saja membalas salam. Ketika menengok, tampaklah, mereka bukan warga Batam.

“Saya dari Irak,” kata pria yang duduk di paling ujung.

Ahmed nama pria itu. Wajahnya khas pria Timur Tengah. Hidungnya mancung. Sepasang matanya cekung ke dalam. Jambang tipis membingkai wajahnya yang lonjong.

Setelah Ahmed, masing-masing pria menyatakan daerah asalnya. Ada yang dari Suriah, Somalia, Sudan, dan Afganistan. Jumlah keseluruhan mereka di sana delapan belas orang. Sembilan pria, empat wanita, dan lima bocah – tiga laki-laki, dua perempuan.

Mereka mengaku sengaja pergi dari daerah asalnya karena perang. Daerah asal mereka tengah berkonflik. Dan mereka pergi dengan kapal-kapal. Menuju tempat manapun yang dilabuhi kapal itu.

Ketika Batam Pos bertanya sejak kapan mereka berada di Batam, Marwan, seorang pria asal Sudan, menunjukkan sobekan kardus. Di sobekan kardus itu, tertera angka 29 dan 30. Telunjuk Marwan menunjuk angka 29.

“Mereka sudah di sini sejak 29 September,” kata Robi Kurniawan, Wakil Kepala SMA Hang Tuah, Senin (19/10) sore itu.

Robi mendampingi sekaligus menjadi penerjemah bagi Batam Pos saat berbincang dengan para imigran tersebut. Ia menggunakan bahasa Arab. Sebagian besar mereka mengerti apa yang Robi katakan.

Imigran-Mencari-Suaka-3-F-CKetika pertanyaan sampai pada penyebab mereka berada di Taman Aspirasi, beberapa dari mereka menunjuk Kantor Imigrasi Kelas 1 Khusus Batam. Lokasi Taman Aspirasi itu memang berada di seberang Kantor Imigrasi itu. Tepatnya, di antara Kantor Kejaksaan Negeri Batam, Pengadilan Negeri Batam, dan Gedung Dewan.

“Imigrasi yang meminta mereka menunggu di sini,” jawab Robi setelah sebelumnya mempertanyakan hal itu kepada mereka.

Para imigran itu telah menghadap Kantor Imigrasi sejak mereka tiba di Batam. Pihak Imigrasi memotret wajah mereka satu per satu. Mengurusi segala macam dokumen. Mengecek dokumen mereka. Lalu meminta mereka meninggalkan Kantor Imigrasi.

Warga-warga asing itu pun bingung. Mereka hanya ditunjukkan lokasi Taman Aspirasi itu. Mereka diminta menunggu. “Menunggu kabar dari IOM (International Organization for Migration),” ujar Marwan, pria asal Sudan.

Tak ada satupun dari mereka yang memiliki paspor. Namun, mereka mengantongi sertifikat pencari suaka dari Komisi Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa Urusan Pengungsi (UNHCR) Kantor Perwakilan Indonesia. Sertifikat tersebut dibuat pada tanggal 28 September 2015 dan berlaku hingga 1 April 2016 mendatang.

“Semuanya punya surat ini,” kata Ahmad, pria lain dalam rombongan tersebut.

Ahmad menunjukkan sertifikat miliknya dan keluarganya. Pria yang bernama lengkap Ahmad Hamid Hasan Al Zihewawee itu beristrikan Raghda Iyad Flaih Al Fartoosi. Mereka memiliki sepasang anak laki-laki dan perempuan.

Sertifikat itu menyatakan dirinya adalah warga negara Irak yang tengah mencari suaka. Kasusnya kini tengah ditangani UNHCR. Ia dan semua pemegang sertifikat itu dilindungi secara khusus dari ancaman deportasi paksa ke negara asal. Sebab, kehidupan dan kebebasan mereka terancam di sana. Setidaknya, sampai muncul keputusan atas status kepengungsiannya dari UNHCR.

“Segala bantuan yang diberikan kepada yang bersangkutan akan dihargai,” bunyi sertifikat UNHCR tersebut.

***

Bocah cilik itu menggaruk-garuk kakinya. Menyisakan guratan-guratan merah di kulit putih itu. Tapi kulit itu tak lagi mulus. Bulatan-bulatan kecil menyebar ke sekujur tangan, kaki, bahkan wajahnya.

“Ini muncul sejak tinggal di sini,” kata Ahmad, sambil menunjukkan tangan dan kaki anak lelakinya.

Pria asal Irak itu kemudian memanggil istrinya mendekat. Wanita bergamis hitam dengan jilbab biru tua itu mendekat. Bocah perempuan kecil, yang umurnya sekitar tiga tahunan, berlarian menyusul.

Ahmad menunjukkan dagu bocah perempuan itu. Dagu itu penuh bintil kecil. Seperti jerawat, tapi tidak merah. Sementara di tangan dan kakinya, bentol-bentol merah baru kentara sangat jelas.

“Nyamuk,” kata Raghda, istri Ahmad.

Setiap malam, nyamuk-nyamuk mulai berdatangan. Menggigiti kulit-kulit mereka yang polos tanpa pelindung. Alhasil kaki-kaki mulai bengkak.

Ke-18 imigran itu memang telah menjadikan Taman Aspirasi sebagai ‘villa’. Mereka enggan berpindah karena hanya tempat itu yang disarankan oleh Kantor Imigrasi Batam. Kursi dan meja semen dijadikan sebagai alas tidur. Tak ada kasur. Hanya ada sedikit selimut.

Pagi hari, mereka akan berpencar ke Kantor Imigrasi atau Masjid Agung Batam. Untuk mandi ataupun buang air, juga menunaikan salat lima waktu.

“Kalau tidak di Masjid ya salat di sini,” kata Naiyat, wanita asal Sudan, sambil menunjuk hamparan rumput di Taman Aspirasi.

Sebagian pria kemudian akan kembali ke Kantor Imigrasi untuk menanyakan perkembangan dokumen mereka. Tapi setiap hari, mereka hanya menerima perlakuan yang sama. Para petugas itu mengusir mereka.

Ahmad mengibas-ngibaskan tangannya tanda adanya pengusiran. Bahkan, karena ia ngotot mendekat, petugas imigrasi itu melotot dan mengacungkan tongkat besinya. Seperti hendak memukul.

Ahmad tak lagi berniat mendekat. Takut kena pukul. Anaknya hampir kena pukul. “Tapi sampai saat ini, tidak ada yang kena pukul,” tuturnya dalam Bahasa Arab.

Ketika sebagian pria menuju Kantor Imigrasi, sebagian lainnya bertandang ke kantor-kantor yang ada di wilayah itu. Tujuannya satu: mencari makan.

Sejauh ini, ada dua institusi yang memberi mereka makan. Pengadilan Negeri dan DPRD. Naiyat menunjuk gedung-gedung tempat dua instansi itu berada.

Makan satu kali sehari sudah untung bagi mereka. Kadangkala, mereka harus menahan lapar. Tepatnya, ketika akhir pekan tiba. Sebab, kantor-kantor pemerintahan itu tutup.

Padahal, ada lima bocah di sana. Bukan hanya itu, dua dari empat perempuan di sana tengah hamil. Naiyat, perempuan asal Sudan, sedang hamil empat bulan. Satu perempuan lainnya hamil delapan bulan. Perempuan itu berasal dari Afganistan.

Perempuan itu lebih senang duduk di pondok di pojokan taman. Berada di tempat yang jauh dari keramaian. Hanya ketika dipanggil, ia mendekat.

Perut buncitnya tak nampak. Wajah putihnya mungil berbingkai jilbab hitam bermotif polkadot perak yang menjuntai menutupi tubuh. Hanya ketika jilbab itu tersibak, perut buncit itu nampak. Tak satupun dari dua wanita itu yang memeriksakan kandungannya ke dokter.

Jangankan memeriksakan kandungan, periksa kesehatan saja mereka tak bisa. Ahmad yang hendak memeriksakan kondisi kesehatannya ditolak rumah sakit. Sebab, “Mereka tahu kami tidak punya uang,” kata Ahmad lagi.

Ahmad mengaku memiliki sakit di kepalanya. Ia mengantongi surat-surat dokter tentang kondisi kepalanya. Surat-surat dokter itu semua berbahasa Arab. Ia menunjukkan surat-surat itu.

“Lihat, ada ini di kepala saya,” katanya menunjuk sebuah gambar otak dengan warna hijau, kuning, dan oranye.

Ahmad tak lagi memiliki obat. Persediaan obatnya telah lama habis. Hanya tersisa empat pil berwarna putih saja. Pil yang katanya, untuk meringankan sakit kepala.

Tak ada yang mereka inginkan selain mendapatkan perlakuan yang layak. Seperti tempat menginap, makanan, juga obat-obatan. Mereka ingin pihak Imigrasi lebih peduli pada mereka.

Para perempuan selalu menangis setiap malam. Mereka teringat kampung halaman. Tapi tak mungkin untuk pulang. Mereka tak pernah terbayang sampai tiba di Batam.

“Kami ingin masih berada di sini (Batam). Tapi jangan kami tinggal di sini (Taman Aspirasi),” ujar Ahmad.

Kepala Bidang Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian (Kabid Wasdakim) Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Batam, Rafli, mengatakan pihaknya tidak dapat berbuat banyak. Para imigran itu berada dalam wewenang UNHCR. Kantor Imigrasi telah menyampaikan keberadaan mereka ke Organisasi Migrasi Internasional (IOM). Organisasi itulah yang kemudian akan menentukan di mana mereka akan ditempatkan.

Sayangnya, keputusan itu tak kunjung datang. Kantor Imigrasi tak bisa memberikan waktu pasti kapan keputusan itu muncul.

“Kalau ada yang mau menampung, silakan saja. Datang ke Kantor Imigrasi dan berbicara dengan pimpinan kami,” katanya.

Kantor Imigrasi memang meminta mereka tinggal di taman itu. Karena tak ada tempat penampungan lagi. Semua rumah detensi migrasi (rudenim) telah penuh. Namun demikian, para imigran itu tetap berada dalam pengawasan Kantor Imigrasi Batam.

“Kami menunggu IOM. IOM tengah mencari, rudenim mana nih yang sedang kosong,” kata Rafli. (WENNY C PRIHANDINA)

Respon Anda?

komentar