Kelompok Beresiko HIV/AIDS di Batam Didata Ulang

1975
Pesona Indonesia
Sosialisasi Pemetaan Kelompok Beresiko HIV/AIDS Kota Batam. Foto: Wenny/batampos
Sosialisasi Pemetaan Kelompok Beresiko HIV/AIDS Kota Batam. Foto: Wenny/batampos

batampos.co.id – Kelompok manusia yang kegiatan-kegiatan kesehariannya beresiko tinggi tertular HIV/AIDS atau yang biasa disebut dengan ‘populasi kunci’ sekota Batam akan didata. Jumlahnya akan dihitung. Kondisinya akan disurvei.

“Batam menjadi satu dari 500 kabupaten/kota di Indonesia yang menjadi tempat pemetaan untuk mengukur sejauh mana dan berapa jumlah populasi kunci di Indonesia,” kata Pieter P Pureklolong, Ketua Komisi Penanggulangan HIV/AIDS (KPA) Batam.

Pemetaan itu akan dilakukan untuk tiga populasi. Yakni populasi wanita pekerja seks (WPS) – baik langsung maupun tak langsung, laki-laki seks laki-laki (LSL), dan waria. Kegiatan ini akan dikerjakan oleh tim dari lintas instansi. Seperti, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial dan Pemakaman, Satuan Polisi Pamong Praja, Puskesmas Batuaji, Puskesmas Lubukbaja, Kecamatan Batuaji, Kecamatan Sagulung, Kecamatan Batuampar, dan Kecamatan Lubukbaja.

Yayasan peduli HIV/AIDS juga akan dilibatkan. Seperti Yayasan Lintas Nusa, Yayasan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) Batam, Yayasan Gaya Batam, dan Himpunan Waria Batam.

Pieter mengatakan, pemetaan ini akan dilakukan segera setelah tim mendapatkan pelatihan. Sebelumnya, mereka telah mendapatkan sosialisasi, berupa pembentukan tim dan penentuan titik-titik lokasi yang akan dipetakan. Pemetaan itu nanti meliputi wawancara mendalam, diskusi grup terbatas, dan pemetaan potensi sumber daya.

“Pemetaan potensi sumber daya itu seperti ada populasi yang beresiko tapi apakah sumber dayanya mampu mengakses kesehatan atau tidak,” katanya lagi.

Pemetaan itu berbatas waktu. Dalam waktu 45 hari, pemetaan itu diharapkan sudah selesai. Hasil pemetaan kemudian akan dikirimkan ke KPA nasional untuk kemudian dikaji dan ditelaah lebih lanjut.

Dari pemetaan itu kemudian akan ditentukan program KPA di tahun 2016. Program itu biasanya sama untuk di tiap daerahnya. Namun, akan dilaksanakan dengan pendekatan yang berbeda.

“Batam, terakhir, melaksanakan pemetaan ini November tahun 2011. Pemetaan ini idealnya dilakukan setiap tahun. Masalahnya ada di dana,” ujarnya. (ceu/bpos)

Respon Anda?

komentar