Beras Langka dan Mahal di Batam, Kadin Tuding Disebabkan Ulah Kartel

977
Pesona Indonesia
Karyawan toko Sembako di Pasar Sei Harapan sedang menimbang beras.  Foto:  Johannes/ Batam Pos
Karyawan toko Sembako di Pasar Sei Harapan sedang menimbang beras.
Foto: Johannes/ Batam Pos

batampos.co.id – Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kepri, Makruf Maulana, mengatakan kelangkaan dan mahalnya harga beras di Batam diduga karena permainan para kartel atau kelompok usaha yang ingin mengendalikan harga komoditas tersebut. Tujuannya, mengeruk untung berlipat saat harga kebutuhan pokok itu meroket.

“Ini jelas dikendalikan oleh kartel-kartel tertentu,” ujar Makruf, Rabu (21/10).

Menurut Makruf, kecurigaan itu berdasar. Pasalnya, beberapa waktu lalu pihaknya mengaku mendapat laporan stok beras di Batam untuk beberapa bulan ke depan masih cukup.

“Karena itu saya yakin, sebenarnya beras masih ada kok,” kata dia.

Namun, kenyataan di pasaran berbanding terbalik. Beras malah kian langka dalam beberapa hari terakhir. Indikasi itu, kata ia, memunculkan kecurigaan adanya pihak-pihak yang menimbun beras di tengah permintaan yang tinggi. Nantinya, beras itu akan dilepas ke pasar jika harganya juga sudah melambung tinggi.

“Yang seperti ini, jelas ada permainan,” ujar mantan Ketua Kadin Batam itu.

Dengan kondisi itu, Makruf mempertanyakan peran pemerintah sebagai pengendali harga sekaligus penjamin ketersediaan bahan pokok itu bagi masyarakat.

“Peran pemerintah di mana, mau dibawa kemana Batam kalau dibiarkan begini terus,” keluh Makruf.

Lebih lanjut, ia juga menyatakan sebaiknya pemerintah menggesa agar impor beras ke Batam segera direalisasikan. Namun, harus dibatasi dengan pemberian kuota dan pengetatan pengawasan agar tak merembes ke daerah lain.

“Buka saja impor itu, sehingga para kartel juga tak memainkan beras seperti ini,” katanya.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan (Disperindag) ESDM Kota Batam, Rudi Sakyakirti menyatakan belum mengetahui adanya indikasi kecurangan terkait ketersediaan beras di pasaran. Termasuk, kecurigaan adanya penimbunan maupun permainan para kartel yang berniat mengendalikan harga.

“Saya gak ngerti (kalau) ada yang menimbun, karena sejauh ini pihak kami belum menemukan itu,” kata Rudi di Kantor Wali Kota Batam, Rabu (21/10) pagi.

Menurut dia, naiknya harga beras di pasaran dalam beberapa hari terkahir merupakan imbas tingginya permintaan beras. Ia katakan, sebelumnya Batam kebanjiran beras impor meski statusnya ilegal. Hal itu, kata Rudi, di satu sisi memberikan untung lantaran menjamin ketersediaan pasokan.

“Harga beras impor juga lebih murah ketimbang beras lokal yang didatangkan dari Jawa,” kata dia.

Namun, ia melanjutkan, semenjak aturan pelarangan impor diperketat, maka beras yang beredar di Batam mayoritas bersandar pada beras lokal yang harga jualnya lebih mahal, dikarenakan biaya distribusi logistik yang juga lebih mahal. Ia contohkan, harga beras lokal ketika sampai ke Batam mencapai sekitar Rp 9 hingga 10 ribu per kilogram.

“Padahal, beras impor yang kualitasnya sama atau bahkan lebih bagus, harganya malah hanya antara Rp 7 ribu sampai Rp 8 ribu saja,” bebernya.

Larangan impor itu, kata Rudi, membuat distributor beras di Batam seperti PT Era Cinta Indonesia, PT Srijaya Raya Perkasa, PT Mitra Abadi Kiat Perkasa, PT Sumber Karya Sejati, UD Setia Kharisma, PT Five Brothers, PT Prima Surya Sejahtera, UD Maju Jaya Sentosa, PT Panca Mitra Niaga, Namseng, Jaafar dan PT Mitra Mandiri Jaya Perkasa, fokus hanya mendatangkan beras lokal.

“Mereka tidak berani mengambil banyak, karena selain mahal, mereka juga antisipasi kalau tiba-tiba impor dibolehkan,” terang dia.

Disinggung adanya pengusaha yang memanfaatkan izin mendatangkan beras lokal, namun kenyataan di lapangan juga mendatangkan beras impor secara diam-diam untuk dicampur dengan beras lokal kemudian dijual dengan harga yang jauh lebih tinggi untuk mengeruk untung berlipat, Rudi menampik. Pasalnya, kata ia, para distributor rata-rata tak hanya mengantongi izin sebagai penyedia beras semata, tapi juga produk-produk lain dalam satu paket usaha distribusinya.

“Ada yang mendatangkan minyak goreng dan lainnya, jadi tak mungkin lah,” kata dia.

Terkait langkah pengendalian harga beras, Rudi mengatakan pihaknya terus memantau di pasaran. Bahkan, kata ia, tim dari Disperindag ESDM Kota Batam juga telah turun menginspeksi beberapa gudang logistik beras untuk memastikan beras yang beredar sesuai dengan yang semestinya.

“Sekali lagi, kami belum temukan adanya kecurigaan itu,” katanya.(ian/rna)

Respon Anda?

komentar