Pemilik 10 Butir Amunisi Itu Ternyata Mengaku Pernah “Manjat” Kapal

433
Pesona Indonesia
Otong saat menjalani sidang pemeriksaan di PN Batam, Rabu (21/10). Foto: anggie/batampos
Otong saat menjalani sidang pemeriksaan di PN Batam, Rabu (21/10). Foto: anggie/batampos

batampos.co.id – Henry Alfree Bakari alias Otong, terdakwa kasus kepemilikan 10 butir amunisi plastik mengaku selain bekerja sebagai nelayan, ia juga pernah melakoni pekerjaan sebagai pemanjat kapal-kapal yang berlayar di laut.

Hal ini diakui oleh Otong dalam persidangan lanjutan di Pengadilan Negeri Batam, Rabu (21/10). Hakim Ketua Vera Yetti, didampingi Hakim Angota Syahrial dan Alvian, sempat mempertanyakan profesi panjat itu apa? Otong menjelaskan bahwa pekerjaan manjat yang ia lakukan merupakan kebiasaan ia dan kelompoknya di tengah lautan terhadap kapal-kapal yang sedang berlayar.

“Manjat itu naik ke kapal yang mulia, kapal yang lewat itu kami naiki. Biasa saya sama kelompok saya, tapi sekarang saya tidak tahu keberadaan mereka, ada juga yang sudah meninggal,” paparnya.

Manjat adalah salah satu istilah dalam dunia lanun alias bajak laut. Biasanya kawanan lanun yang akan merompak kapal naik ke kapal menggunakan sebilah satang, sejenis tangga yang terbuat dari kayu dengan bagian ujung diberi kaitan. Lewat satang inilah mereka memanjat untuk mencapai dek kapal.

Sejatinya persidangan kemarin mendengarkan kesaksian istrinya, Amah Handayani, terkait kasus yang membelitnya. Namun istrinya menolak untuk bersaksi karena keterangan yang pernah ia sampaikan dipersidangan sebelumnya dirasa cukup dan benar.

Sidang pun dilanjutkan dengan pemeriksaan terdakwa Otong. Saat pemeriksaan itulah Otong mengakui pernah melakoni profesia sebagai pemanjat kapal-kapal yang berlayar di laut. Meski ia tak menjelaskan dengan detail namun majelis hakim sudah bisa memahaminya.

Dalam pereiksaan itu juga, JPU Sigit (yang menggantikan JPU sebelumnya Johanes Mandowali) sempat menanyakan sejak kapan memiliki amunisi tersebut. Otong mengatakan, peluru itu ia simpan sejak tahun 2011 yang diberikan rekannya almarhum Wak Jek.

“Dari tahun 2011 peluru itu saya simpan yang mulia, dan saya rasa sudah tidak aktif lagi,” ujarnya.

JPU juga menanyakan untuk apa amunisi tersebut disimpan, sementara ia hanya seorang nelayan. Jawaban terdakwa yang sempat terbata-bata. Majelis hakim pun mengingatkan terdakwa untuk jujur. “Kamu jangan berkelit ya, kalau tidak jujur hukumanmu tambah berat,” tegas Vera.

Dengan tertunduk terdakwa kembali menjawab. “Sumpah yang mulia, saya tidak bohong, saya gak ada maksud apa-apa, cuma menyimpan barang pemberian dari teman saya saja, saya tidak bohong yang mulia,” ucap Otong.

Dirasa cukup dengan keterangan terdakwa, Majelis Hakim meminta JPU untuk membuat tuntutan. “Sidang ditutup, dan pekan depan dilanjutkan dengan sidang pembacaan tuntutan, Rabu (28/10),” kata Vera mengetuk palu.

Berdasarkan dakwaan dari JPU Johanes Mandowali lalu, terdakwa Otong didakwa melanggar Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Darurat Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 1951 tentang Kepemilikan Senjata Api, yang terancam pidana penjara minimal 12 tahun dan maksimal penjara seumur hidup.

Amunisi karet yang ia miliki itu, diketahui ia simpan di rak piring belakang rumahnya. Dan saat penggerebekan dilakukan pihak kepolisian, dengan mudah barang bukti tersebut ditemukan yang kemudian menggiring terdakwa hingga ke meja hijau. (cr15/nur/bpos)

Respon Anda?

komentar