Polda Kepri Evakuasi 15 Anak Panti Asuhan di Batuampar

1021
Pesona Indonesia
Ilustrasi derita anak.
Ilustrasi derita anak.

batampos.co.id – Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Kepolisian Daerah Kepulauan Riau menggerebek Panti Asuhan Rizki Khairunnisa yang berlokasi di Batuampar, Selasa (21/10) sore.

Penggerebekan ini dilakukan atas laporan warga yang menduga adanya praktik penganiayaan dan kekerasan fisik pada anak-anak panti asuhan tersebut.

“Kami mengevakuasi anak-anak dulu dan meminta saksi-saksi dari sana,” kata AKBP Edi Santoso, Kasubdit IV Ditreskrimum Polda Kepri.

Polisi, hingga kini, telah memeriksa tujuh orang dalam dugaan kasus penganiayaan dan kekerasan fisik ini. Termasuk di dalamnya, pengelola panti, dua orang pengasuh, tetangga, juga pihak dinas sosial. Pengelola dan dua pengasuh di panti tersebut hingga kini masih berada di Mapolda Kepri untuk menjalani pemeriksaan.

“Sekarang kami sedang dalam proses penyidikan lanjutan. Apakah memang benar ada kekerasan atau tidak, belum bisa dipastikan,” ujarnya lagi.

Proses evakuasi tersebut dilakukan bersama Dinas Sosial dan Pemakaman Batam, Pekerja Sosial, Lurah Batu Merah, serta Ketua RW 01, dan Ketua RT 04.

AKBP Edi Santoso mengatakan, panti asuhan tersebut ternyata tidak lagi mengantongi izin dari Dinas Sosial. Ini sebab, proses evakuasi itu segera dilakukan sehari setelah adanya pelaporan.

“Kami berkoordinasi dulu dengan Dinsos, ternyata, panti itu sudah tidak berijin,” katanya.

Masalah perizinan panti itu kemudian diserahkan ke Dinas Sosial. Termasuk juga anak-anak yang tinggal di dalamnya. Tercatat, ada lima belas anak yang berhasil dievakuasi dari panti asuhan tersebut.

Ke-15 anak tersebut terdiri dari empat bayi dan sebelas anak-anak. Mereka dititip sementara ke panti asuhan lain di luar wilayah Batuampar.

“Kami merekomendasikan ke Dinas Sosial untuk mengantarkan anak-anak itu kembali ke rumah orang tuanya, jika orang tuanya masih ada. Atau dititip ke panti asuhan lain untuk dititip sementara,” ujar Eri Syahrial, Ketua Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Kepulauan Riau.

Eri mengatakan, KPPAD sesungguhnya telah menerima laporan yang sama jauh sebelum laporan itu sampai ke polisi. Pekerja sosial telah mendatangai panti asuhan tersebut untuk mengecek kebenaran laporan dugaan penganiayaan itu.

Benar adanya. Sejumlah anak memiliki luka lebam di beberapa bagian tubuhnya. Mereka bahkan telah dibawa berobat ke rumah sakit.

“Visum masih kami mintakan. Cuma masalahnya, jangka waktu antara laporan dan pemeriksaan rumah sakit itu lama,” tutur Eri.

Namun demikian, kasus tersebut bukan baru sekali terjadi di Panti Asuhan Rizki Khairunnisa. Menurut Eri, tahun 2013 lalu, Panti Asuhan ini juga sempat dilaporkan dengan dugaan serupa. Ketika dicek, kekerasan itu memang ada. Seorang anak dirantai.

“Pengelolanya bilang, dia dirantai karena hiperaktif. Kan bukan begitu cara penanganan anak hiperaktif,” ujarnya.

Kasus tersebut melahirkan rekomendasi dari KPPAD kepada Dinsos dan Pemakaman untuk memantau kegiatan panti asuhan tersebut. Ternyata, dalam kurun waktu dua tahun ini, izin panti asuhan tersebut tidak diperpanjang. Meskipun tidak mengantongi izin, panti asuhan itu nyatanya tetap beroperasi.

“Sekarang kami merekomendasikan kepada Dinas Sosial untuk menutup panti asuhan itu,” ujar Eri.

Panti Asuhan Rizki Khairunnisa berlokasi di Jalan Bawal nomor 6 RT 04 RW 01, Kelurahan Batumerah. Ia menempati bangunan tiga lantai bercat kuning di tengah-tengah pemukiman warga.

Tidak ada yang berubah dari penampilan bangunan tersebut. Baju-baju, anak dan dewasa, bergantungan di teras setiap lantainya. Lima hingga enam kasur tipis dijemur di dinding di lantai dua. Suara orang mengobrol di teras bangunan terdengar dari jalan raya.

Ti, satu warga RT 04 RW 01, mengaku tidak tahu menahu dengan penggerebekan, Selasa (20/10) lalu itu. Ia hanya mengetahui ada keramaian. Namun, enggan mencari tahu.

“Saya baru bangun tidur lihat orang ramai-ramai di depan situ. Tapi saya tak tahu itu apa,” tuturnya.

Ketika ditanyai tentang Ev, pengelola panti asuhan tersebut, Ti mengaku mengenalnya. Ev adalah teman masa kecilnya. Rumah mereka berdekatan. Namun, kedekatan mereka terpisah lantaran kesibukan masing-masing.

Ti memilih membuka usaha sarapan pagi. Lokasinya tepat di seberang panti asuhan tersebut. Sementara Ev menjadi bidan di Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) Batuampar yang berlokasi sepuluh meter dari panti asuhan tersebut. Ia mengerti kesibukan Ev.

Namun, Ev tak lupa menegur Ti ketika berpapasan di jalan. Ia sekedar bertanya kabar lalu berlalu pergi. Ev tidak banyak keluar rumah sekembali dari poskesdes. Ia jarang bersosialisasi.

Begitu juga dengan anak-anak panti asuhan yang diasuh Ev. Anak-anak panti tersebut tidak banyak yang keluar rumah. “Mereka pergi kalau ke sekolah, pulang, lalu main-main biasa saja. Kadang keluar kadang tidak. Saya tidak terlalu perhatikan bagaimana mereka,” akunya.

Ketika ditanyai, apakah sering terdengar adanya tindak kekerasan di rumah tersebut, Ti menggeleng. Ia bahkan tidak yakin jika Ev diduga sebagai pelaku kekerasan di panti tersebut.

“Suaranya saja lembut begitu. Tidak mungkinlah kalau dia yang melakukan kekerasan,” ujarnya. (ceu/bpos)

Respon Anda?

komentar