Distributor Nakal di Batam Timbun Ratusan Ton Beras, Warga Tagih Janji Jaksa & Polisi untuk Menindak

Seorang pekerja Toko Multi sari di Pasar Mega Legenda sedang menimbang beras yang akan dijual, Rabu (21/10). Foto: Cecep Mulyana/Batam Pos
Seorang pekerja Toko Multi sari di Pasar Mega Legenda sedang menimbang beras yang akan dijual, Rabu (21/10). Foto: Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Dugaan aksi penimbunan beras yang memicu kelangkaan komoditas tersebut di Batam belakangan ini terbukti. Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan ESDM Kota Batam menemukan sejumlah gudang yang sengaja menahan distribusi beras ke pasaran.

Kepala Bidang Perdagangan Disperindag dan ESDM Kota Batam, Wan Muhammad Zein, mengatakan pihaknya sudah melakukan pengawasan ke sejumlah gudang distributor beras, dalam beberapa hari terakhir. Hasilnya, kata Zein, ada ratusan ton beras yang sengaja ditimbun sejumlah distributor.

“Bahkan ada yang menimbun lebih dari 250 ton. Itu tidak bisa,” kata Zein, Kamis (22/10).

Zein mengaku langsung memberikan teguran lisan kepada para distributor itu. Dia meminta mereka segera mendistribusikan beras ke pasaran guna menakan harga beras yang kini meroket.

Jika teguran lisan ini tak ditanggapi, pihaknya akan melanjutkan dengan teguran tertulis. Sebab, kata dia, menjaga kestabilan harga pangan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan juga harus ada peran pengusaha. Sayangnya, Zein enggan menyebut nama-nama distributor nakal yang menimbun beras itu.

“Gudangnya tak usahlah dipublikasikan, kurang pas,” katanya.

Zein hanya mengatakan, beras-beras yang ditimbun itu jenis dan mereknya beragam. Ada beras lokal yang didatangkan dari Jawa dan Sumatera, namun banyak juga yang merupakan beras impor.

Melihat kondisi ini, Zein menegaskan sebenarnya saat ini tidak terjadi kelangkaan beras. Namun yang terjadi adalah keterbatasan distribusi akibat ulah para distributor yang menimbun beras di gudang masing-masing.

“Beras itu ada, cuma memang pengusaha masih wait and see. Mereka melihat situasi di pasar,” katanya.

Zein mengakui, selama ini banyak beras impor ilegal yang beredar di pasaran. Modusnya, para importir mengubah kemasan dan merek di Batam. Bahkan ada beberapa merek beras hasil pengemasan ulang itu yang tak terdaftar.

Dia menyebut beras merek Naga Terbang. Kata dia, ini merupakan salah satu beras impor yang dikemas ulang dan di-labeli dengan merek baru.

“Memang tak banyak lagi, tapi masih ada,” katanya.

Ditanya jumlah konsumsi beras masyarakat Batam setiap bulannya, Wan Zein mengatakan sekitar 10 ribu sampai 12 ribu ton. Ini sudah termasuk beras dari Bulog.

“Termasuk besar kebutuhannya. Dan selama ini belum pernah ada keluhan kita kekurangan stok,” katanya.

Ia berharap kepada pengusaha untuk tidak menimbun beras hanya untuk mencari keuntungan yang sebesar-besarnya. Disperindag akan terus melakukan inspeksi ke sejumlah distributor.

“Kalau ditimbun, kami tegaskan akan kami paksakan untuk dijual langsung. Itu tidak boleh. Saya tak tahu berapa banyak distributor di sini,” katanya.

Anggota Komisi I DPRD Kota Batam yang membidangi hukum, Tumbur M Sihaloho, meminta Pemerintah Kota Batam menindak tegas para penimbun beras ini. Jika perlu, kata Tumbur, Pemko Batam berkoordinasi dengan penegak hukum dalam operasi ini.

“Harus tegas dan Pemko Batam harus turun ke lapangan setiap hari,” katanya, kemarin.

Soal maraknya beras impor di pasaran yang dipastikan merupakan beras selundupan, Tumbur meminta tak terlalu dipersoalkan. Sebab, kata dia, bagaimanapun kehadiran beras impor ini sangat membantu masyarakat. Karena harganya justru jauh lebih murah jika dibandingkan dengan beras lokal. Dari segi kualitas, beras luar negeri juga cenderung lebih baik.

“Karena biaya mendatangkan beras dari Jawa sangat mahal. Tetapi memang jangan sampai ada penimbunan,” katanya.

Ketua Komisi II DPRD Kota Batam, Yudi Kurnain juga meminta pemerintah dan penegak hukum menertibkan serta menindak mafia beras di Batam. Diharapkan Pemko Batam bisa mendatangi semua gudang beras dan memaksa pemiliknya untuk menjual beras ke masyarakat menstabilkan pasokan dan harga.

“Datangi saja gudang mereka. Kalau ada penimbunan, minta mereka segera mendistribusikan ke pasar,” katanya.

Sebelumnya, kelangkaan beras di Batam yang diduga terjadi akibat ulah para mafia membuat Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Kepri, Sudung Situmorang, ikut gerah. Dia berjanji akan menelusuri dugaan itu.

“Kami juga berharap ada informasi tentang dugaan permainan beras tersebut,” terang Sudung saat berkunjung ke Batam Pos, Senin (19/10) lalu.

Tak hanya Korps Adhyaksa, kelangkaan beras ini juga menarik perhatian jajaran Ditreskrimsus Polda Kepri. Wakil Direktur Ditreskrimsus Polda Kepri, AKBP Helmi Kwarta Rauf, menyebut ulah para mafia ini sangat merugikan masyarakat.

Selain itu, Helmi juga menyoroti dugaan aksi pengoplosan beras di Batam. “Jika terbukti dan ditemukan, pihaknya akan menindak tegas dengan menerapkan pasal berlapis,” kata Helmi Selasa (20/10) lalu.

Selain melakukan pengawasan, pihaknya berharap kerjasama dari masyarakat untuk memberikan informasi terkait aktivitas pengoplosan beras. “Bakal langsung kami tindak,” ujarnya.

Menurutnya, para pelaku dapat dijerat dengan sanksi dari beberapa aturan dan undang-undang. Seperti UU Pangan, UU Kesehatan, dan UU Perlindungan Konsumen.

Nah, distributor nakal yang menimbun beras sudah ketahuan, saatnya Kajati dan kepolisian membuktikan janjinya untuk menindak. Jangan hanya gertak sambal saja. Buktikan! (ian/rna/bpos/nur)

Respon Anda?

komentar