Gagal Jadi PNS, Uang Habis Rp 700 Juta

1033
Pesona Indonesia
Suasana sidang terdakwa Dona Saputra, honorer Pemko Batam yang menipu dua warga yang kebelet ingin jadi PNS, Kamis (22/10) di PN batam. Foto: anggie/batampos
Suasana sidang terdakwa Dona Saputra, honorer Pemko Batam yang menipu dua warga yang kebelet ingin jadi PNS, Kamis (22/10) di PN batam. Foto: anggie/batampos

batampos.co.id – Impian Irfredyna Dika dan Bernando Deskara menjadi pegawai negeri sipil (PNS) hancur setelah ia ditipu oleh Dona Saputra bin Safei, honorer di lingkungan Pemerintah Kota (Pemko) Batam yang berkantor di Sekupang. Padahal keduanya sudah menggelontorkan uang hingga Rp 700 juta.

Kasus ini kemudian bergulir ke ranah hukum. Sang penipu, Dona Saputra pun disidang. Kamis (22/10) kemarin, ia kembali dihadirkan di depan majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Batam.

Dalam sidang yang dipimpin Budiman Sitorus, didampingi Juli Handayani dan Alvian dengan agenda mendengarkan keterangan saksi itu, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Wawan Setyawan menghadirkan dua orang saksi korban, yakni kakak dan adik Irfredyna Dika dan Bernando Deskara, serta ibu korban.

Dalam persidangan terungkap, sang penipu mulai meminta uang pelicin masuk PNS sejak Desember 2013 hingga Juli 2015. Totalnya mencapai Rp 757.350.000. Sayangnya, meski sudah merogoh kocek hingga ratusan juta rupiah, Irfredyna dan Bernando tetap juga gagal menjadi PNS.

Dalam keterangannya, saksi mengaku percaya kepada terdakwa karena selain bekerja di Pemko, dia juga diyakinkan setelah dikenalkan pegawai pemerintahan oleh terdakwa.

”Saya dan adik saya dijanjikan menjadi PNS di Dinas Kesehatan Tanjungbalai Karimun, saya di bagian kantor dan adik saya di lapangannya,” terang Dyna.

Ia mengungkapkan, sangat tergiur dengan tawaran itu dan terus berusaha meyakinkan orangtuanya untuk memberikan biaya-biaya yang dibutuhkan sesuai permintaan terdakwa.

”Mau setiap hari dia minta duit terus ke saya, katanya untuk bayar KPK lah, DPR lah, kantor Bupati, dan untuk izin surat ini itu lah. Kami ya percaya-percaya saja, makanya dikasih terus. Cuma sudah mau dua tahun belum jelas juga, makanya saya laporkan ke kepolisian,” lanjut Dyna.

Sementara itu, ibu dari korban mengatakan sudah tidak ada lagi barang berharga duniawi yang mereka miliki, semuanya sudah habis terjual untuk memenuhi permintaan terdakwa.

”Sudah tidak ada lagi harta duniawi kami yang mulia, hanya tinggal kesehatan yang kami punya untuk menjalani hidup,” tuturnya.

Hakim Ketua Budiman yang telah mendengarkan keterangan saksi-saksi tersebut, kemudian bertanya kepada terdakwa kemana dan untuk apa uang itu. Tanpa ada rasa penyesalan ia menjawab, dana tersebut telah habis ia gunakan untuk main jackpot dan minum-minum.

Mendegar itu, tidak hanya para korban yang geram, melainkan seisi ruangan sidang II sore itu. ”Orang susah-susah ngumpulin harta, kamu enak-enak dengan gampang menghabiskannya,” ujar Budiman.

Selanjutnya, sidang terhadap terdakwa Dona akan dilanjutkan Kamis (29/10) pekan depan dengan agenda pemeriksaan terdakwa. (cr15/bpos)

Respon Anda?

komentar