Waspada! Modus Penipuan Makin Beragam

1238
Pesona Indonesia
Kombes Asep Safrudin, Kapolresta Barelang. Foto: johanes saragih/batampos
Kombes Asep Safrudin, Kapolresta Barelang. Foto: johanes saragih/batampos

batampos.co.id – Berbagai cara dilakukan pelaku kejahatan untuk bisa mendapatkan harta korban. Belakangan, masyarakat Batam kembali diteror dengan banyaknya aksi penipuan. Mulai dari telpon yang mengatas namakan orang dekat atau aparat kepolisian, pesan pendek korban memenangkan hadiah hingga undian berhadiah ratusan juta dari sebuah produk terkenal.

Iwan, misalnya, warga Tiban yang bekerja diwilayah Batamcenter tiba-tiba mendapat telpon dari nomor tak dikenal. Saat dijawab, seorang pria mengaku kenal dekat dengannya dan sudah lama tak ketemu. Pria itu tak menyebutkan nama hingga Iwan menebak nama temannya dan dibenarkan oleh pria dibalik telpon itu.

Singkat kejadian, pria itu mengaku telah menemukan sebuah dompet yang berisi emas. Namun, di dalam dompet itu ia tak menemukan alamat sang pemilik. Pria yang mengaku teman Iwan itu akhirnya menawarkannya dompet. Tapi, Iwan harus menstranfer sejumlah uang untuk biaya penganti menemukan dompet.

“Orang itu seperti sok akrab dengan kita. Dia bilang kasih saya dompet itu karena tak tahu cara jual emas. Namun saya diminta tranfer uang Rp 1 juta,” kata Iwan.

Dari awal Iwan mengaku sudah tahu jika pria itu seorang penipu. Karena ketika Iwan menanya dimana ia bekerja, pria itu tak bisa menyebut dan malah mengalihkan pembicaraan. Parahnya lagi, pria itu marah jika Iwan kembali menanyakan nama temannya yang sempat disebut tadi.

“Aneh saja, ditanya namanya ia marah. Dari awal telpon saya sudah yakin itu penipuan, tapi iseng-iseng saya layani saja. Tapi menurut teman saya, sudah ada yang tertipu dengan cara pelaku merayu korban,” terang Iwan.

Hal yang relatif sama juga dialami keluarga Rudi, warga Batam Centre. Sang penelepon tiba-tiba menelepon keluarganya di Jambi dan mengatakan kalau Rudi, keluarganya yang ada di Batam menemukan dompet saat masuk ke toilet di SPBU. Sang penelepon mengaku sekuriti SPBU. Ia mengetahui Rudi menemukan dompet dari CCTV SPBU.

Penelepon yang mengaku sekuriti ini menjelaskan kalau ia dan dua rekannya mau mengambil dompet temuan Rudi yang berisi uang Rp 6.300.000. Ia hanya akan memberikan Rudi Rp 300 ribu. Sisanya akan ia bagi dengan dirinya dan dua sekuriti SPBU lainnya.

Namun penelepon mengatakan kalau Rudi menolak pembagian tersebut karena merasa Rudi yang menemukan. Akhirnya penelpon ini mencari jalan tengah dengan meminta ditrasferkan pulsa dua kali Rp 100 ribu. Jika tidak, sekuriti ini mengancam akan melaporkan Rudi ke polisi.

Mendapat telepon seperti itu keluarga Rudi di Jambi panik. Apalagi tiba-tiba penelepon tadi mengatakan Rudi mau menelepon. Nah, saat penelepon yang kedua ini mengaku Rudi itu bicara, suaranya sangat mirip, sehingga keluarga Rudi di Jambi kian panik.

Keluarga Rudi sempat mentransferkan pulsa ke dua nomor yang disebutkan, masing-masing sebesar Rp 50 ribu. Namun berhubung di Jambi mati lampu penjual pulsa ini gagal mentransfer pulsa karena hape yang dia pakai untuk jualan pulsa elektrik lupa dicas saat listrik masih menyala.

Keluarga Rudi pun menjanjikan jam dua siang baru bisa ditransfer pulsanya. Kemudian keluarga Rudi di Jambi menghubungi keluarga lainnya di Batam. Meminta membantu menyelesaikan masalah tersebut. Namun saat keluarga Rudi di Batam menyuruh menanyakan alamat SPBU tempat Rudi ditahan sekuriti, penelepon yang mengaku mengaku sebagai Rudi meminta keluarganya di Jambi tidak menelepon Rudi karena posisi hape speakernya dibesarkan, takut terdengar penelepon yang mengaku sekuriti tadi.

Merasa ada yang janggal, keluarga Rudi di Jambi menelepon ipar Rudi yang tinggal di dekat kosan Rudi. Ipar Rudi bernama Wati ini terkejut saat mendapati kakak iparnya lagi istirahat di kosannya. Ia tidak sedang di SPBU dan tidak sedang menemukan dompet seperti yang dikatakan penelon pertama tadi.

Sadar itu penipuan, keluarga Rudi di Jambi cepat-cepat memberitahukan ke penjual pulsa agar membatalkan transfer pulsa ke kedua nomor yang dimaksud. Untunglah mati lampu dan cepat sadar kalau ternyata itu modus penipuan, sehingga pulsa belum sempat ditransfer.

“Kok bisa tahu dan suaranya mirip suara saya kata tante saya di Jambi,” ujar Rudi, menirukan ucapan tantenya yang nyaris tertipu.

Senada dengan Iwan, Anton yang warga Batamcenter mengaku pernah ditelpon oleh pria yang mengaku sebagai anggota polisi Polresta Barelang. Pria bersuara yang dibuat-buat itu memintanya mengisikan pulsa Rp 100 ribu. Alasannya, ia butuh pulsa untuk menelpon korban yang telah membuat laporan, sementara dia tak bisa meninggalkan sentral pelayanan kepolisian (SPK) Polresta Barelang. Pria itu bahkan membentaknya dengan suara keras agar secepatnya mengisikan pulsa.

“Saya merasa tak ada masalah. Jadi saya tak layani permintaan itu. Lagian tak mungkin polisi meminta pulsa maksa gitu,” terangnya.

Sementatara itu, warga sekitar Batuaji mendapatkan undian berhadiah ratusan juta dari sebuah produk ternama di depan rumahnya. Anehnya, undian itu ada di setiap rumah warga di perumahannya.

“Saya bingung dengan undian itu. Soalnya di undian itu juga ada nama Bareskrim Mabes Polri yang mengetahui proses pengundian,” sebut Eli warga Batuaji.

Kapolres Barelang Kombes Asep Safrudin menghimbau warga agar tetap selalu waspada dan lebih berhati-hati. Ia juga tak menapik, banyaknya modus yang digunakan pelaku penipuan untuk memperdaya korbannya. Apalagi yang mengatasnamakan aparat keamanan dan undian berhadiah ratusan juta yang sengaja diletakan di depan rumah warga.

“Sudah jelas itu penipuan. Saya mengingatkan kepada warga Batam agar tak mudah tergiur dalam siatuasi-situasi sulit seperti ini. Warga harus cermat membedakan penipuan dengan yang asli,” jelas Asep.

Ia juga berharap warga tak mudah percaya dengan orang yang baru dikenal apalagi pura-pura akrab. “Banyak cara yang dilakukan pelaku kejahatan, karena itu saya himbau warga lebih berhati-hati,” tekan Asep lagi. (she/bpos/nur)

Respon Anda?

komentar