Aniaya Anak Panti, Pengelola Panti Asuhan Ditahan

807
Pesona Indonesia

batampos.co.id – Pengelola atau pemilik Panti Asuhan Rizki Khairunnisa, Ev yang menjadi tersangka dugaan penganiayaan dan kekerasan fisik terhadap anak, resmi ditahan, Kamis (22/10) lalu di Mapolda Kepri. Penahanan dilakukan setelah pihak kepolisian mendapatkan bukti kuat dan cukup meyakinkan untuk menahan Ev.

Wakil Direktur Ditreskrimum Polda Kepri, AKBP Totok Wibowo mengatakan tersangka Ev yang berprofesi sebagai bidan di Puskesmas Sekupang tersebut juga telah diperiksa selama beberapa hari ini. ”Sudah, kami telah menahan tersangka Ev pada Kamis (22/10) lalu,” kata Totok saat ditemui Batam Pos, kemarin.

Ia mengatakan, penahanan terhadap Ev sudah sesuai prosedur. Menurutnya, penyidik masih terus melakukan pemeriksaan intensif terhadap Ev. Mengenai statusnya sebagai seorang pegawai negeri sipil (PNS), Totok enggan berkomentar banyak. Sebab, menurutnya, bukanlah kapasitasnya berbicara mengenai bakal dipecat atau tidak.

”Kami hanya melakukan penyelidikan saja. Bila terbukti bersalah, maka undang-undang dan hakim yang menentukan hukumannya,” jelasnya.

Sebelumnya diberitakan pada Selasa (21/10) Polda Kepri melakukan penggerebekan di Panti Asuhan Rizki Khairunnisa di Jalan Bawal nomor 6 RT 04 RW 01, Kelurahan Batumerah, Batuampar.

Dari informasi yang didapat pihak kepolisian, di Panti Asuhan Rizki Khairunnisa terjadi dugaan praktik penganiayaan dan kekerasan fisik pada anak-anak panti asuhan.
Bahkan, kekerasan yang diduga dilakukan Ev tersebut, dilakukan di hadapan anak-anak yang berada di luar panti. ”Saya pernah lihat dipukul pakai kayu sama Bu Ev, tapi seringnya pakai hanger. Dipukul sampai nangis,” kata Zi, seorang anak di lokasi.

Bocah kelas I SD ini, mengaku hanya sesekali bermain bersama anak-anak panti tersebut. Setiap harinya, anak panti yang terdiri dari empat bayi dan sebelas anak itu, kebanyakan menghabiskan waktu di dalam dan pekarangan panti.

”Ketemu cuma sebentar saja. Kalau nangis dari dalam sering dengar,” tuturnya.

Sementara itu, Wati, warga Batumerah mengaku sudah lama mencurigai adanya tindak kekerasan terhadap anak-anak di panti tersebut. Ia kerap bertemu anak-anak panti yang melewati warungnya. ”Kadang anak-anak itu lewat, saya lihat badannya lebam,” sebutnya.
Kecurigaan Wati ditambah dengan tubuh anak kian menyusut dan tak bersemangat. Selain itu, dari pengakuan sang anak selalu lapar. ”Kalau ditanya, mereka jawab pasti belum makan. Kadang anak-anak yang baru masuk sana sudah langsung kurus,” tuturnya.

Menurut Wati, Ev hanya ingin meraup keuntungan dengan membuka panti asuhan. Sebab selama ini, panti tersebut kerap mendapatkan bantuan sembako hingga santunan kepada setiap anak.

”Sembakonya itu mungkin dijual kembali. Kalau santunan ke anak sering ada, kadang dari orang Singapura dan perusahaan sekitar,” terangnya.

Tak hanya itu, Wati pernah mendengar informasi anak-anak panti pernah diperjualbelikan dengan harga jutaan rupiah. Bahkan, Ev selalu meminta biaya saat anak masuk maupun dititipkan ke dalam panti. ”Kalau nitip saja per bulannya dia minta Rp 2,5 juta,” jelasnya. (opi/bpos)

Respon Anda?

komentar