Dijanjikan Kerja di Kedai, Nyatanya Dijadikan Penari Seksi

907
Pesona Indonesia
korban
Supina Wati menunjukkan paspornya saat membuat laporan penipuan di Mapolsek Batuaji, Jumat (23/10). Foto: Adiansyah/ Batam Pos

batampos.co.id – Supina Wati, 33, warga Perumahan Puri Pesona, Batuaji melaporkan Ellyana ke polisi lantaran pekerjaan yang dijanjikan oleh oknum guru Sekolah Dasar Negeri (SDN) 006 Sagulung itu, tidak sesuai dengan perjanjian.

Supina menuturkan, oleh pelaku dia dijanjikan bekerja di salah satu kedai, namun nyatanya dia bersama temannya dipekerjakan sebagai penari seksi atau sexy dancer di salah satu klub malam di bilangan Orchard Park, Singapura.

”Kami tidak tahu awalnya kalau di situ (klub malam) kerjanya. Disuruh nari-nari gantung, kalau tamu datang disuruh layani seperti dicium dan lainnya,” ujarnya.

Supina diberangkatkan ke Singapura pada 17 September 2015 lalu tidak sendirian, melainkan bersama keponakannya, Atik. Namun Atik tidak bertahan lama, karena langsung pulang setelah mengetahui pekerjaan tidak sesuai dengan yang diinginkan. Atik pulang pada 20 September, sedangkan Supina baru pulang pada 15 Oktober.

”Atik pulang duluan, sekarang dia sudah di Pekanbaru. Saya bertahan karena tidak ada uang buat pulang dan terpaksa menjalani pekerjaan itu dulu,” ungkapnya.

Dikatakan Supina, keduanya meminta bantuan Ellyana untuk pengurusan keberangkatannya ke Singapura setelah membayar Rp 5,6 juta. Karena merasa ditipu, sepulang dari Singapura, dia langsung mendatangi rumah Ellyana di Perumahan Puri Pesona pada Kamis (21/10) lalu sekitar pukul 23.00 WIB guna meminta kembali uangnya, setelah sebelumnya ditelepon pelaku.

Akan tetapi, dia kembali mendapatkan perlakuan tidak baik. Sesampai di rumah pelaku, dia malah diancam dengan parang.

”Saya ke sana (rumah pelaku) karena ditelepon. Tapi, saat masuk ke rumahnya, pelaku justru langsung ke dapur mengambil parang dan mengancam saya. Bahkan, dia bilang kalau gak dapat di situ, bisa di luar,” ungkapnya.

Takut diancam pelaku, korban lantas pulang ke rumahnya. Tapi tak sampai disitu, kata Supina, pelaku bersama anggota keluarganya terus saja mengikutinya. Tidak terima dengan sikap pelaku, dia lantas melaporkan tindakan pelaku ke Mapolsek Batuaji.

”Banyak keluarganya yang datang, makanya saya beranikan diri datang ke sini (Mapolsek Batuaji) membuat laporan,” ujarnya sembari mengaku masih menyimpan videonya menari di Singapura.

Sementara itu, Ellyana mengatakan tindakan mengambil parang di dapur lantaran untuk melindungi diri dan dilakukan secara spontan. Adapun terkait pekerjaan Supina dan Atik di Singapura, Ellyana berdalih lantaran kedua korban telah meminta bantuan kepadanya untuk dipekerjakan walau tidak melalui jalur resmi.

”Mereka yang minta bantu, makanya saya bawa,” ujarnya.

Dia mengaku tidak tahu menahu perihal pekerjaan korban yang menjadi penari dan dia mengaku menyesal dengan kejadian tersebut.

”Saya tidak tahu masalah nari-nari itu, saya menyesalkan karena gak tahu mereka kerja seperti itu,” tutur Ellyana.

Tidak hanya Supina dan Atik yang jadi korban. Yeni, 35, warga Perumahan Gurindam Raya, Batuaji juga dijanjikan untuk bekerja di Singapura setelah memberikan uang tunai kepada pelaku sebanyak Rp 2 juta. Tetapi, setelah dua kali berangkat selalu ditolak pihak Imigrasi Singapura.

”Dua kali ditolak Imigrasi Singapura. Terakhir tanggal 15 Oktober lalu,” kata Yeni.

Yeni mengaku datang ke Polsek Batuaji setelah ditelepon korban lainnya agar beramai-ramai memenjarakan pelaku. Dia menuturkan mengenal pelaku dari teman-temannya, karena butuh pekerjaan diapun langsung menemuinya. Setelah gagal dapat pekerjaan dia meminta uangnya kembali, namun pelaku hanya mengembalikan sekitar Rp 900 ribu.

”Dia baru kembalikan 100 dolar Singapura atau sekitar Rp 900 ribu,” jelasnya.

Kapolsek Batuaji, Kompol Andy Rahmansyah mengatakan pelaku melanggar Undang-Undang Nomor 39 tahun 2004 tentang penempatan dan perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri, khususnya pasal 4. Jika terbukti bersalah pelaku diancam pidana penjara minimal dua tahun penjara dan maksimal 10 tahun penjara, serta denda minimal Rp 2 miliar dan maksimal Rp 15 miliar.

”Orang perseorangan dilarang menempatkan warga negara Indonesia untuk bekerja di luar negeri,” ujar Kapolsek menyebut isi pasal 4 Undang-undang tersebut. (cr13)

Respon Anda?

komentar