Anak Sering Membuli atau Dibuli, Ini Kata Psikolog

1066
Pesona Indonesia
Psikolog Ilma Martono saat memberikan materi dalam Parenting Workshop tentang bahaya dibuli dan membuli serta bahaya pedhopilia bagi anak di Sekolah Islam Nabilah, Sabtu (24/10). Foto: anggie/batampos
Psikolog Ilma Martono saat memberikan materi dalam Parenting Workshop tentang bahaya dibuli dan membuli serta bahaya pedhopilia bagi anak di Sekolah Islam Nabilah, Sabtu (24/10). Foto: anggie/batampos

batampos.co.id – Praktisi dan pemerhati anak, Johanes Alamsyah menilai, kebiasaan anak membuli atau dibuli, tidak terlepas dari faktor lingkungan dalam keluarganya.

“Anak itu ya cerminan orangtuanya. Seperti apa tingkah anak, tergantung pola asuhnya,” ujar Johanes saat tampil sebagai pembicara dalam parenting workshop bertema: “Dampak Media Terhadap Bullying di Sekolah dan Permasalahan Pedhopilia”, yang digelar oleh Sekolah Islam Nabilah, Sabtu (24/10) pagi.

Dalam seminar yang dihadiri wali muridnya dari tingkat SD, SMP dan SMA itu, Johanes memaparkan, terkait kecenderungan anak dibuli atau membuli, salah satu penyebabnya karena kurangnya perhatian dari orangtua.

Johanes yang juga seorang psikolog, anak yang dibesarkan dengan materi tanpa perhatian orang tua yang sibuk dengan pekerjaan, pada umumnya menjadikan mereka anak yang sombong dan bersifat membuli. Sebaliknya, anak yang dikatakan kurang mampu dengan ketidakberdayaan orang tua, atau broken home, cenderung menjadi anak yang acap kali dibuli.

Oleh karenanya, masing-masing orang tua harus tahu dan menyadari apa yang terjadi pada anak. “Berkacalah pada diri kita sebagai orang tua,” ungkap Johanes.

Sebagai pembelajaran pertama dari keluarga, lanjutnya, ketika anak menjadi pembuli atau dibuli maka sikap orang tua haruslah menanggapinya dengan tidak atraktif.

“Jika anak membuli, cari tau penyebabnya dan solusinya dengan komunikasi yang baik, begitu juga jika anak dibuli, coba terus ajak bicara agar mereka bisa lebih terbuka dengan orang tuanya sendiri,” terangnya.

Sementara itu, terkait maraknya kasus pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur yang dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kecendrungan orientasi seksual pada anak-anak (pedhopilia), Ilma Martono yang merupakan Ketua Autism Batam dari Dinas Pendidikan, yang juga Psikolog mengatakan pedhopilia sudah ada dimana-mana. Mereka bisa datang secara langsung maupun melalui situs-situs online atau media sosial.

“Dari survei yang sudah saya coba lakukan melalui kuesioner di sekolah Islam Nabilah, 95 persen memiliki jaingan internet baik itu melalui ponsel maupun wifi, dan 96 persen dari mereka memiliki media sosial facebook dan line,” sebutnya.

Perlu diketahui sambung Ilma, internet memang punya dampak positif dan negatif, sehingga orang tua dituntut lebih peka.

“Orang tua juga harus tahu internet, harus tahu media sosial agar bisa mengimbangi dan memantau anak-anak, apalagi mereka yang tidak bisa lepas dari kebutuhan internet itu,” ujarnya.

Saat mendampingi anak itulah, harus ditanamkan pada anak bahwa jangan sembarangan menerima pertemanan di jejaring seosial. Jangan mudah menerima tawaran bertemu dengan orang yang dikenal lewat internet.

Hal-hal yang terkait bahaya jika menerima pertemanan dari jejaring sosial perlu ditanamkan. Salah satunya, bisa jadi mereka yang menawarkan pertemanan atau pertemuan yang berawal dari jejaring sosial adalah sindikat pedhopilia yang mencari mangsa lewat jejaring sosial.

“Terus gigih pantau anak-anak kita agar tidak gampang mereka di pengaruhi orang lain terutama yang baru dikenal. Mafia pedhopilia bisa terelakkan jika orang tua tidak lepas menjaga anak-anaknya,” kata Ilma.

Sikap acuh tak acuh orangua yang anaknya keranjingan internet sangat berbahaya. Anak-anak bisa menjadikan internet, khususnya situs jejaring sosial sebagai tempat curhat terhadap berbagai hal yang dialami yang tak bisa dikomunikasikan dengan orangtuanya.

Akibatnya, pelaku pedhopilia bisa saja awalnya menawarkan solusi terhadap masalah-masalah yang dialami sang anak. Padahal itu jebakan. “Banyak modusnya, jadi orangtua harus mawas diri, jangan cuek, perhatikan buah hati, ajak bicara tentang berbagai hal. Jadilah orangtua sebagai teman curhat anak-anak anda,” ujar Ilma.

Pimpinan Sekolah Islam Nabilah, Sarmini mengatakan parenting workshop ini sengaja digelar sekolah Nabilah guna mengingatkan orangtua atau wali murid untuk mawas diri terhadap berbagai kejahatan terhadap anak yang berawal dari media, khususnya media jejaring sosial.

“Tidak bisa dipungkiri, pola pergaulan anak-anak zaman sekarang yang didukung dengan kemajuan teknologi seperti internet, sangat berpengaruh besar terhadap tingkah laku mereka yang cenderung sulit untuk diatur. Oleh karena itu, harus dipahami betul oleh masing-masing orang tua tentang bagaimana pola hidup anak-anaknya,” ujarnya.

Parenting wokshop yang berlangsung dari pagi hingga siang tersebut, ternyata sangat dirasa berarti dari para wali murid hadir.

“Saya sangat bersyukur sekali ya, dengan adanya seminar ini mengingatkan saya untuk lebih bisa menjaga dan mendidiknya dengan perhatian, walaupun cukup terpukul tapi setidaknya membuat saya sadar sebagai orang tua,” ungkap salah satu wali murid, Ani.

Sarmini juga berpesan, diharapkan untuk wali murid  bisa lebih peduli dengan kegiatan seperti ini karena penting dalam mendidik anak.

“Cukup disesalkan atas banyaknya wali murid yang tidak hadir, semoga ke depannya para wali murid bisa memahami maksud baik kita dan bisa lebih peduli,” imbaunya. (cr15/bpos)

Respon Anda?

komentar