Bantuan Mulai Mengalir ke Anak Panti yang Diduga Jadi Korban Kekerasan Fisik

963
Pesona Indonesia
Fahri (baju merah) bersama istrinya Sadiah (jilbab) menemui dua anaknya di Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Permate Batam, Tembesi Kebun, Sabtu (24/10). Sebelumnya Fahri menitipkan dua anaknya di Panti Asuhan Rizki Khairunnisa dengan harapan bisa bersekolah karena ia kurang mampu. Foto: cr14/batampos
Fahri (baju merah) bersama istrinya Sadiah (jilbab) menemui dua anaknya di Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Permate Batam, Tembesi Kebun, Sabtu (24/10). Sebelumnya Fahri menitipkan dua anaknya di Panti Asuhan Rizki Khairunnisa dengan harapan bisa bersekolah karena ia kurang mampu. Foto: cr14/batampos

batampos.co.id – Sebelas dari lima belas anak yang dievakuasi oleh tim Polda Kepri dari Panti Asuhan Rizki Khairunnisa di Batu Merah, Batuampar, beberapa hari lalu karena diduga mengalami kekerasan fisik, ternyata rata-rata masih memiliki orangtua kandung. Beragam alasan mereka menitipkan anaknya di Panti. Salah satunya faktor ekonomi dan keinginan anaknya bersekolah. Pemerintah kemana?

Ya, 11 dari 15 anak dari panti itu kini dititipkan di Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Permate Batam,  Tembesi Kebun RT 01 RW O2, Sagulung. Empat lainnya yang masih balita dititipkan di rumah anak milik Yayasan Perlindungan Anak Batam (YPAB) di komplek Rumah Sakit Budi Kemuliaan Batam (RSBK).

Sabtu kemarin (24/10), beberapa orangtua kandung dan keluarga anak panti asuhan itu mengunjungi anak mereka. Ada juga warga Batam yang sengaja datang untuk memberikan bantuan.

Ketua Yayasan Permate, Suhar Manto membenarkan dari  sebelas anak tersebut sudah ada yang dikunjungi keluarganya. Tidak hanya itu kunjungan juga datang dari para relawan dari berbagai kalangan untuk memberikan bantuan makanan dan pakaian.

“Hari ini (Sabtu, 24/10) orang tua Halim, 12, dan Arif, 10 datang. Semalam orang tuan Majid, 8, dan Okta, 10. Yang belum datang orangtuanya Abdul 4, Yasin, 6, Sheila, 2, Rosid, 4, Asiah, 11, Fartan, 9, dan Dafa, 7,” ujar Suhar.

Suhar mengaku beberapa orangtua datang hendak mengambi anaknya, namun belum diberikan. “Kita jelaskan untuk mengambil anak belum waktunya, harus sesui prosedur (status titipan Polda dan Dinsos, red). Bukan kita nggak mau ngasih,” ungkapnya.

Dia berharap agar proses hukum secepatnya dapat diselesaikan, agar anak-anak bisa mendapatkan kejelasan, apakan pulang ke orangtua mereka atau menetap di LKSA.

“Kalau keputusan mereka menetap di sini tak masalah. Kalau orangtunya mau mengambil juga nggak apa-apa. Yang harus dipikirkan anak-anak ini butuh sekolah,” ujarnya.

Sementara itu, Fahri, 42, orang tua kandung Halim, dan Arif, saat di LKSA mengaku tidak ada niat menitipkan kedua anaknya itu ke Panti Asuhan Rizki Khairunnisa.

Awalnya Fahri mengidap penyakit asma. Fahri kerap membawanya berobat ke puskesmas Seipanas bersama istrinya, Sadiah, 40. Sewaktu berobat, Jumat (18/10) Fahri pun di tawarkan supaya menitipkan kedua anaknya di panti.

“Memang saya berasal dari keluarga yang kurang mampu,” jelas Fahri.

Senin (19/10/2015), Sadiah pun menitipkan kedua anaknya ke Panti tersebut.  Ia mengaku menitip anaknya lantaran ingin melihat kedua anaknya bisa bersekolah seperti anak-anak pada umunya.

“Sekolah paket. Satu sampai dua tahun sekolah.  Setelah itu bisa pulang. Gratis tanpa bayar,” ujar  Fahri, saat ditawarkan oleh Elvita, pemilik panti Rizki Khairunnisa.

Dia mengaku tidak mengetahui ada pegerebekan di Panti Asuhan Rizki Khairunnisa tempat ia menitipkan anaknya. Ia mengaku mengetahui ketika anaknya sudah berada di LKSA.

“Tahunya baca di koran, Makanya langsung ke sini,” ungkap Fahri. (cr14/bpos)

Respon Anda?

komentar