Kasus Panti Asuhan Rizki Khairunnisa, KPPAD Sebut Ada Unsur Trafficking

1227
Pesona Indonesia
Fahri (baju merah) bersama istrinya Sadiah (jilbab) menemui dua anaknya di Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Permate Batam, Tembesi Kebun, Sabtu (24/10). Sebelumnya Fahri menitipkan dua anaknya di Panti Asuhan Rizki Khairunnisa dengan harapan bisa bersekolah karena ia kurang mampu. Foto: cr14/batampos
Fahri (baju merah) bersama istrinya Sadiah (jilbab) menemui dua anaknya di Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Permate Batam, Tembesi Kebun, Sabtu (24/10). Sebelumnya Fahri menitipkan dua anaknya di Panti Asuhan Rizki Khairunnisa dengan harapan bisa bersekolah karena ia kurang mampu. Foto: cr14/batampos

batampos.co.id – Pengelola atau pemilik Panti Asuhan Rizki Khairunnisa, Ev, tak hanya tersandung kasus penganiayaan dan kekerasan terhadap anak. Bidan yang berstatus pegawai negeri sipil (PNS) ini juga diduga pernah melakukan human trafficking.

“Memang ada indikasi terjadi human trafficking anak. Saya juga terima laporan dari masyarakat,” kata Erry Syahrial, komisioner Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Kepri, Sabtu (24/10) siang.

Erry bahkan menyebut, indikasi human trafficking anak itu juga diketahui beberapa warga yang berdomisili di sekitar panti di Jalan Bawal nomor 6 RT 04 RW 01, Batuampar.
Erry menambahkan pihaknya turut mendesak pihak kepolisian untuk mengusut kasus dugaan trafficking ini. “Kita harapkan polisi segera menyelidikinya,” tegasnya.

Menurut Erry, kasus penganiayaan yang terjadi di panti asuhan disebabkan lemahnya pengawasan dari Pemerintah khususnya Dinas Sosial (Dinsos). Padahal sebelumnya, Panti Asuhan Rizki Khairunnisa juga dilaporkan dengan kasus dugaan serupa pada tahun 2013 lalu.

“Akibatnya, kasusnya terulang lagi,” jelasnya.

Dijelaskan Erry, seharusnya Dinsos melakukan pengawasan dan memberikan edukasi kepada pengelola dan pemilik panti asuhan yang tersebar di Batam. Edukasi itu berupa penjelasan tentang panti asuhan yang ramah dan layak anak.

“Jadi tidak bisa sembarangan saja di panti asuhan itu. Harus ramah dan layak anak,” tegas Erry lagi.

Erry juga menyayangkan tindakan Ev yang menjalankan panti asuhan dengan tujuan meraup keuntungan. Ev diduga mendapatkan keuntungan dari santunan yang diberikan para donatur. Selain itu, sembako yang diberikan dari para donatur turut di jual.

“Saya sendiri sangat prihatin dan diharapkan polisi bisa menyelidiki semuanya,” tutupnya.

Sementara itu, salah seorang pengasuh panti asuhan yang dicoba hubungi Batam Pos enggan berkomentar terkait kasus penganiayaan dan traifficking tersebut.

“Biar sama ibuk (Ev) atau pengacaranya saja,” ujar pria yang enggan menyebutkan namanya tersebut. (opi/bpos)

Respon Anda?

komentar