Kata Kadin Batam, Beras yang Ditimbun Distributor untuk Kalangan Menengah ke Atas

844
Pesona Indonesia
Jadi Rajagukguk, Ketua Kadin Batam. Foto. dok Batampos
Jadi Rajagukguk, Ketua Kadin Batam. Foto. dok Batampos

batampos.co.id – Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Batam, Jadi Rajagukguk, menyebut tak ada kelangkaan beras di Kota Batam. Menurut dia, selama ini perhitungan pemerintah hanya terpaku pada jumlah stok beras di distributor dibandingkan dengan jumlah penduduk batam.

“Kalau itu yang dihitung, jangankan tiga hari, dua hari sudah habis,” ungkapnya.

Menurutnya dia, stok beras yang ada di gudang 15 distributor di Batam merupakan beras untuk kalangan menengah ke atas. Sementara masyarakat kalangan menengah ke bawah bisa mengandalkan stok beras dari Bulog yang saat ini mencapai 2.000 ton.

“Sebanyak 1.500 ton lagi masih dalam perjalanan,” ungkapnya.

Karenanya, kata Jadi, pemerintah diminta tidak mengeluarkan statemen yang bisa memicu keresahan masyarakat dan dunia usaha. “Tolong diluruskan, berikan pemahaman dengan baik dan benar,” ungkap Jadi lagi.

Kadin, lanjut Jadi, juga sudah meminta Bulog untuk memasarkan berasnya di pasaran. Namun ditolak, karena tidak akan laku. Sebab beras impor dari Thailand serta negara lain harganya lebih murah, kualitasnya juga lebih baik.

Dalam hal ini, Kadin akan memantau ke pasar. Apakah beras impor ini masih ada di pasaran atau tidak. “Kalau masih ada, buka saja kran impor. Toh dilarang (ilegal) juga masih masuk,” katanya.

Terpisah, Wakil Ketua Umum Bidang Hukum dan Mediasi Kadin Kepri, Ampuan Situmeang, meminta pemerintah menyamakan persepsi dan pemahaman soal isu beras ini.

“Satu bilang aman, yang lain bilang kritis, yang mana yang betul. Hal ini membingungkan masyarakat maupun pengusaha,” katanya.

Menurut Ampuan, daerah perbatasan seperti Batam lebih efisien menggunakan beras impor ketimbang lokal yang didatangkan dari daerah lain. Menurut dia, Batam sebagai daerah Free Trade Zone (FTZ) memiliki kewenangan khusus untuk impor, termasuk impor beras. (hgt/cr17/bpos)

Respon Anda?

komentar