Pasokan Beras ke Pedagang Masih Seret, Imbauan Wali Kota Batam Tak Digubris

895
Pesona Indonesia
Pemko Batam membantah menutupi distributor nakal penimbun beras usai inspeksi mendadak oleh Dinas Perindustrian, Perdagangan dan ESDM (Disperindag-ESDM) Kota Batam beberapa hari lalu. Tampak karyawan toko Multi Sari di Pasar Mega Legenda sedang menimbang beras yang akan dijual. Foto: Cecep Mulyana/ Batam Pos
Karyawan toko Multi Sari di Pasar Mega Legenda sedang menimbang beras yang akan dijual. Foto: Cecep Mulyana/ Batam Pos

batampos.co.id – Imbauan Wali Kota Batam, Ahmad Dahlan, agar distributor segera mendistribusikan beras ke pasaran ternyata ditanggapi dingin. Sebab hingga Minggu (25/10), para pedagang masih mengeluhkan seretnya pasokan komoditas pangan utama.

Akibatnya, para pedagang di pasaran terpaksa menaikkan harga beras antara Rp 2 ribu hingga Rp 3 ribu per kilogram (kg). Mereka mengaku, biasanya pasokan beras dari distributor seminggu sekali, namun akhir-akhir ini pasokan datang sebulan sekali.

“Biasanya paling lambat dua minggu sekali. Tapi ini hampir sebulan tak ada kiriman beras,” kata Ahmad, pedagang beras di Pasar Tibancenter, Batam, kemarin (25/10).

Disebutkannya, ada beberapa merek beras yang mengalami kenaikan harga seperti Suci dan Luwak dari harga awal Rp 8 ribu per kg menjadi Rp 11 ribu per kg. Sementara beras merek Rambutan dan Lonceng dijual Rp 10 ribu per kg dari harga sebelumnya Rp 8.500 per kg. Sedangkan harga beras merek Bumi Ayu masih stabil yakni Rp 12 ribu per kg.

Baca Juga:
> Anggota DPRD Batam Desak Kran Impor Beras Dibuka
> Kata Kadin Batam Beras yang Ditimbun Distributor untuk Kalangan Menengah ke Atas

Kenaikan harga beras ini juga terjadi di sejumlah minimarket. Hendri karyawan mini market Primart Tiban menuturkan, rata-rata beras mengalami kenaikan harga hingga Rp 3 ribu. Seperti beras merek Rambutan dijual dengan harga Rp 10.400 per kg dari harga Rp 8.700 per kg, beras Solok dijual dengan harga Rp 68 ribu per 5 kg dari harga sebelumnya Rp 66 ribu.

Pedagang beras di Pasar Cipta Puri Tiban juga menyampaikan hal senada. Mereka mengaku harus menaikkan harga karena stok sudah menipis menyusul seretnya pasokan dari distributor.

“Semua pada naik, bukan hanya beras saja, buah pun ikut naik,” ujar seorang pedagang kelontong di Pasar Cipta Puri, Tiban.

Sebelumnya, Wali Kota Batam melalui Asiseten Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Pemko Batam, Gintoyono Batong, mengatakan untuk mengatasi kelangkaan beras dan mahalnya harga, Pemko Batam memerintahkan Disperindag-ESDM Batam agar secepatnya menginstruksikan ke semua distributor beras di Batam untuk segera mengeluarkan stok beras yang ada di gudang dan dilempar ke pasaran.

“Itu instruksi langsung dari Wali Kota Batam, dan pemerintah memberi waktu sampai hari Minggu,” ucap Gintoyono, Sabtu (23/10) lalu.

Jika sampai hari Senin (26/10) diketahui beras belum keluar dari gudang, maka Wali Kota Batam bersama jajaran terkait akan turun langsung untuk memaksa para distributor mengeluarkan berasnya.

“Semua gudang akan dibuka, dan dikeluarkan semua berasnya,” ancam Gintoyono.

Sekretaris Komisi III DPRD Batam, Helmy Hemilton meminta Pemko Batam tegas terhadap para distributor beras agar tidak melakukan penimbunan di gudang. “Izin usahanya bisa saja dicabut jika benar ada penimbunan,” tegasnya.

Kata dia, saat ini harga beras terus naik. Padahal menurut dia selama ini tidak ada kendala suplai. Sehingga dia menduga, ada indikasi permainan kartel beras.

“Ini harus disikapi serius. Pemko Batam jangan kayak yoyo. Kemarin bilang ada penimbunan tapi buru-buru klarifikasi bahwa tidak ada,” ujar Helmy. (hgt/cr17)

Respon Anda?

komentar