Beras Impor Ilegal Beredar di Batam, Bea Cukai Mengaku Dikelabui Pengusaha

1253
Pesona Indonesia
Karyawan toko Minimarket Victoria Pasar Fanindo, Batuaji melintas di tumpukan stok beras tempat dia bekerja, Senin (26/10). Beras saat ini langka dipasarn akibat ada yang melakukan penimbunan beras. Foto: Dalil Harahap/Batam Pos
Karyawan toko Minimarket Victoria Pasar Fanindo, Batuaji melintas di tumpukan stok beras tempat dia bekerja, Senin (26/10). Beras saat ini langka dipasarn akibat ada yang melakukan penimbunan beras. Foto: Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Beras impor sebelum langka satu pekan terakhir merajai pasaran beras di Batam. Padahal, Kementerian Perdagangan tidak pernah memberikan izin maupun kuota impor langsung kepada para importir di Batam. Loh, kok bisa masuk?

Kepala Seksi Bimbingan Kepatuhan dan Layanan Informasi (BKLI) Bea dan Cukai (BC) Batam, Emi Ludiyanto, mengakui banyak beras impor beredar di Batam. Kata dia impor beras ilegal masuk melalui pelabuhan tikus serta pelabuhan resmi. Hal tersebut diperkiran terus berlangsung hingga saat ini.

Dia berdalih, impor beras ini bisa masuk melalui pelabuhan resmi karena pengusaha mengelabui petugas dengan menggunakan perusahaan (importir) yang sudah masuk jalur hijau. “Bisa saja dokumennya besi, tapi isinya beras,” ungkap Emi.

Importir yang sudah masuk jalur hijau, haram hukumnya untuk diperiksa oleh petugas pabean seperti BC. “Tangan kita ibarat diborgol, tak bisa ngapa-ngapain. Kalau diperiksa kita dianggap merusak dunia industri,” beber Emi.

Menurutnya, harus ada alasan kuat petugas BC Batam yang hendak memeriksa kontainer yang masuk ke jalur hijau. “Kalau tak menemukan hasil, dianggap kinerja kita buruk,” ungkapnya.

Dari total perusahaan yang ada di Batam, 98 persen diantaranya masuk jalur hijau. Hanya dua persen yang masuk jalur merah. “Biasanya perusahaan (importir) baru,” katanya.

Dalam jangka waktu tertentu, perusahan baru ini bisa mengajukan masuk ke jalur hijau. “Bila tak memiliki masalah, dokumen yang diberikan selalu sesuai,” tuturnya.

Menurut Emi pemberlakuan jalur hijau ini, bukan hanya rentan terhadap penyelundupan barang ilegal. Namun juga penyelundupan barang larangan seperti narkoba. “Kalau barang ilegal seperti beras imbasnya masih positif, kalau narkoba, itu yang kami khawatirkan,” ucapnya.

Apalagi BC di Batam tak memiliki alat pemindai untuk kontainer. Sehingga petugas kesulitan mendeteksi muatan barang dalam kontainer, untuk memastikan apakah sesuai dengan manifes atau tidak.

“Tak mungkin kita periksa satu persatu,” katanya. (bpos)

Respon Anda?

komentar