Beras Impor Ilegal di Batam Tiba-Tiba Langka

1079
Pesona Indonesia
Eti, 45, karyawan Toko Acen Fanindo melayani pembeli beras di Pasar Fanindo, Batuaji, Senin (26/10). Pasokan beras ke toko ini dari distributor seret akibat beras langka. Foto: Dalil Harahap/Batam Pos
Eti, 45, karyawan Toko Acen Fanindo melayani pembeli beras di Pasar Fanindo, Batuaji, Senin (26/10). Pasokan beras ke toko ini dari distributor seret akibat beras langka. Foto: Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Beras impor yang beredar di Batam selama ini bisa dipastikan ilegal. Pasalnya, dalam dua tahun terakhir ini, tidak pernah ada kuota impor dari Kementerian Perdagangan untuk para importir di Batam.

Sekadar mengingatkan, pada Rabu 14 Januari 2015, BP Batam melalui Direktur Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Humas Badan Pengusahaan (BP) Batam yang saat itu masih dijabat oleh Dwi Djoko Wiwoho menjelaskan, di tahun 2015 tidak ada kuota impor beras untuk Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam.

Bahkan bukan hanya beras, kuota impor gula juga tidak ada 2015. Menuirut Djoko saat itu, jika ada impor beras dan gula langsung ke Batam di 2015, seharusnya sudah ada pemberitahuan sejak akhir 2014. Mulai dari nama importir dan besaran kuota yang diberikan ke masing-masing importir. “Tapi faktanya tidak ada,” tegasnya.

Ketentuan impor untuk Kawasan Perdagangan dan Pelabuhan Bebas Batam diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) 10 tahun 2012 dan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) 27 tahun 2012.

Meski tidak ada kuota impor beras langsung ke Batam, namun faktanya di pasaran, beras impor ilegal itu tetap membajiri Batam di 2015 ini.

Memang, keberadaan beras impor ilegal itu cukup membantu masyarakat Batam. Selain harganya murah, kualitasnya juga lebih baik dari beras lokal. Bahkan masyarakat Batam tidak mempermasalahkan masuknya beras impor ilegal itu, yang penting stoknya ada dan harganya tetap lebih murah dengan kualitas yang lebih baik.

Namun sejak kelangkaan beras menjadi sorotan dan dugaan adanya pengoplosan beras impor ilegal itu dengan beras lokal dengan modus mengganti kemasan satu pekan terakhir, mendadak beras impor ilegal itu menjadi langka di Batam.

“Stoknya sih masih ada tapi sedikit,” kata Koko, pemilik toko sembako di Mega Legenda Batamcentre, Senin (26/10).

Koko menjelaskan, pengantaran beras impor mulai seret, seminggu belakangan. Agen-agen harus membagi stok beras tersebut ke sejumlah toko-toko sembako. Jumlahnya tidak sebanyak sebelumnya.

Ini yang membuat harga beras tersebut melambung. Kenaikan harga mencapai Rp 20 ribu per karung. Satu karungnya seberat 25 kilogram. Jika diecer, kenaikan harganya mencapai Rp 4 ribu per kilogram.

“(Beras merek) Horas, Anak Ajaib, Rambutan, segitu semualah (kenaikan harganya),” katanya.

Ketiga merek itu berisikan beras luar negeri, meski pakai merek lokal. Ketiganya favorit masyarakat. Koko mengatakan, beras tersebut banyak diminati lantaran harganya yang murah. Yakni, sekitar Rp 7 ribu hingga Rp 8 ribu per Kg. Selain itu, kualitasnya juga lebih bagus dari beras lokal.

Sementara beras lokal berharga mahal. Satu kilogram beras Bumi Ayu, misalnya, biasa dijual dengan harga Rp 12 ribu. Harga per karungnya mencapai Rp 300 ribu.

“Otomatislah orang suka karena harganya murah gitu,” katanya.

Namun, lantaran harga yang terus melambung, masyarakat mulai enggan membeli ketiganya. Harganya terlalu mahal. Sebagai gantinya, Koko mengambil beras Ramos yang tergolong beras murah. Harganya Rp 10 ribu per Kg. Namun, kualitasnya tidak sebagus beras merek Rambutan.

Baca Juga: Dituding Timbun Beras, Ini Pembelaan Distributor

Imroatun, pengusaha makanan sarapan pagi, mengaku kesulitan mencari beras, akhir-akhir ini. Sebab, beras yang biasa ia gunakan sudah naik harga. Harganya tak sesuai dengan harga menu sarapan pagi yang ia jual.

Biasanya, warga Legenda itu menggunakan beras merek Rambutan. Awalnya, sekarung beras Rambutan dihargai Rp 170 ribu. Namun, satu minggu belakangan, harganya naik menjadi Rp 265 ribu.

“Kalau harganya segitu, buat nasi lemak juga nggak masuk,” kata wanita yang akrab disapa Im itu lagi.

Ia tengah mencari beras yang murah namun kualitasnya tetap baik. Sebab, ia pernah membeli beras yang murah namun, begitu dimasak, beras itu cepat basi. Dimasak pagi, sore hari sudah basi. Padahal, nasi tersebut masih berada di dalam mesin penanak nasi.

“Kalau yang rambutan ini enak. Sampai besok pun, walau pun tak dicolok ke listrik, dia nggak akan basi,” imbuhnya.

Kenaikan harga beras ini juga membuat pedagang toko kelontong berpikir dua kali untuk membeli beras. Seorang warga Mediterania mengatakan, ia tak lagi menjual beras sejak harganya naik seminggu yang lalu. Ia tak ingin mengambil resiko dengan membeli beras yang murah. Karena kualitasnya tak terjamin.

“Kalau mau ambil beras lokal juga tak mau. Karena katanya sudah dioplos juga,” kata wanita yang enggan menyebutkan namanya itu.

Hal senada disampaikan Zainal, pemilik toko kelontong di Pasar Botania, Batamcenter. Menurut dia, belakangan ini peredaran beras impor makin sedikit.

“Beras lokal saja susah, apalagi impor,” kata Zainal.

Dia mengatakan, dirinya kerap menjadi sasaran kemarahan pembeli yang mengeluhkan tingginya harga beras. Namun Zainal mengaku lega dengan pemberitaan di media yang menyebut kenaikan harga beras ini dipicu aksi penimbunan oleh para distributor.

Pedagang beras di Pasar Pancur, Apin, mengatakan hal serupa. Menurut dia belakangan ini banyak pelanggannya yang mengeluhkan kenaikan harga beras.

Dia menyebut, beras merek Anak Ajaib kemasan 25 Kg sebulan yang lalu harganya Rp 180 ribu naik menjadi Rp 270 ribu, merek Rambutan 25 Kg sebulan lalu Rp 180 ribu sekarang menjadi Rp 275 ribu, merek Kijang naik dari Rp 190 ribu menjadi Rp 275 ribu, merek Cap Salmon naik dari Rp 180 ribu menjadi Rp 260 ribu. Demikian juga dengan beras merek Cap Merpati kemasan 25 Kg yang sebelumnya hanya Rp 180 ribu kini menjadi Rp 250 ribu.

Ketua Komisi II DPRD Batam Yudi Kurnain mengatakan, daripada beras impor masuk secara ilegal, lebih baik kran impor beras dibuka untuk Batam. “Itu solusi paling cepat untuk mengatasi kelangkaan beras di Batam saat ini,” ujar Yudi.

Hal senada dikatakan Wakil Ketua Umum Bidang Hukum dan Mediasi Kadin Kepri, Ampuan Situmeang. Menurutnya, sebagai kawasan FTZ beras impor sebenarnya bebas masuk. Bahkan, harusnya tidak disebut sebagai beras impor karena masih wilayah perdagangan dan pelabuhan bebas.

Sebelumnya Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Batam Jadi Rajagukguk mengatakan, daripada beras impor ilegal masuk, lebih baik dilegalkan. “Buka saja kran impor. Toh dilarang (ilegal) juga masih masuk,” katanya. (rna/ceu/leo/hgt/she/cr16/cr20/cr14/bpos/nur)

Respon Anda?

komentar