Dituding Menimbun Beras, Ini Pembelaan Para Distributor di Batam

1198
Pesona Indonesia
Wali Kota Batam Ahmad Dahlan melakukan sidak beras ke gudang beras di Bengkong, Senin (26/10). Foto: Cecep Mulyana/Batam Pos
Wali Kota Batam Ahmad Dahlan bersama Disperindag dan anggota DPRD Batam sidak ke gudang beras UD Setia Kharisma milik Merry di Bengkong, Senin (26/10). Foto: Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Para distributor beras di Batam akhirnya angkat bicara terkait kelangkaan beras akhir-akhir ini. Mereka menyebut, kelangkaan terjadi karena seretnya pasokan beras impor, bukan karena aksi penimbunan oleh para distributor.

Diduga, para importir yang selama ini mendatangkan beras secara ilegal dari luar negeri mulai mengurangi aktivitasnya. Kondisi ini memaksa distributor harus mendatangkan beras lokal. Inilah yang kemudian membuat distribusi beras ke pasar menjadi tidak lancar sehingga seolah-olah terjadi kelangkaan.

“Sekarang pasokan (beras impor) memang berkurang, tak seperti dulu,” kata pemilik UD Setia Kharisma, Merry, salah satu distributor beras di Batam untuk wilayah Bengkong, saat dilakukan inspeksi mendadak (sidak) oleh jajaran Pemerintah Kota (Pemko) Batam dan DPRD Kota Batam, Senin (26/10).

Selain rantai distribusi beras lokal yang memakan waktu lebih lama, karena didatangkan dari Jawa dan wilayah Sumatera, biaya pengiriman beras lokal juga jauh lebih mahal. Hal inilah yang membuat harga-harga beras di Batam ikut melambung.

Merry menjelaskan, beras yang ia beli dari daerah Jawa rata-rata memang lebih mahal antara Rp 1.000 hingga Rp 2.000 per kilogram (Kg), dibanding beras impor yang dulu membanjiri Batam dengan kualitas yang hampir serupa.

“Dari sana (Jawa, red) saja sudah Rp 7 ribuan,” kata dia.

Belum lagi, ditambah biaya distribusi yang lebih mahal ketimbang mendatangkan dari luar negeri, membuat para distributor terpaksa menyesuiakan harga. Hal itu, kata ia, belum termasuk hitungan lamanya waktu kiriman beras sampai di Batam.

“Ini saya sudah pesan, tapi biasanya baru datang antara 10 hari sampa dua minggu,” ungkapnya.

Disinggung langkanya jumlah beras yang beredar di pasaran, Merry menegaskan bukan karena aksi penimbunan di gudang distributor. Ia mengaku mendistribusikan beras pada langganan yang datang membeli ke gudangnya tersebut.

“Kami tidak menahan barang, kami keluarkan (beras) jika ada permintaan,” kata dia.

“Saya (lepas beras dalam jumlah) normal saja ke pasaran, sehari bisa lepas antara 100-200 karung kemasan 25 kilogram,” bebernya.

Meski begitu, Merry mengatakan pihaknya tak keberatan jika warga yang mengeluh kekurangan pasokan beras untuk membeli langsung ke gudang distributor.

“Silahkan saja, tapi harus bayar cash (tunai) karena kan saya tak kenal,” kata dia.

Baca Juga: Pasokan Beras ke Pedagang Masih Seret, Imbauan Wali Kota Batam Tak Digubris

Sementara terkait beras impor yang juga masih terlihat di gudangnya di Komplek Green Town Bengkong itu, Merry mengatakan itu hanya beras sisa impor yang jumlahnya juga tak lagi banyak.

“Sudah sejak sebulan terakhir tak ada masuk lagi beras impor, itu paling sisa 1.000 karung,” kata dia.

Ia juga membantah mengoplos beras impor dengan beras lokal untuk mendulang untung. “Saya jual seperti ketika saya dapat, pakai karung yang itu (kemasan impor, red) juga kok,” terangnya.

Mahalnya harga beras dari lokasi asalnya di Jawa juga dibenarkan distributor beras lainnya, Aryanto, pemilik PT Srijaya Raya Perkasa di kawasan Tunas Industri, Batamcenter. Ia katakan, beras yang ia ambil dari Cipinang memang harganya sudah terpaut sekitar Rp 2 ribu dibanding beras impor dengan kualitas yang tak jauh berbeda.

“Karena dari sananya sudah segitu, kita mau bagaimana lagi,” kata dia.

Ia juga katakan, langsung mendistribusikan beras ke pedagang setiap kali kiriman datang. Aryanto juga membantah mencampur beras impor dengan beras lokal.

“Kami jual seperti yang kami dapat, mereknya juga sama seperti ketika kita datangkan dari Cipinang,” jelasnya.

Wali Kota Batam, Ahmad Dahlan mengintruksikan pemilik gudang untuk melayani semua masyarakat Batam yang membutuhkan beras. Sehingga, masyarakat tak perlu khawatir kekurangan stok beras.

“Mereka siap melayani masyarakat yang mau beli langsung,” kata dia.

Pihaknya juga berencana akan menggelar operasi pasar untuk membantu mengendalikan harga beras di pasaran. Adapun, beras yang akan dijual tetap beras milik distributor, namun diambil margin harga di tingkat distributor sehingga lebih miring.

“Operasi pasar bisa saja, kalau dibutuhkan segera kita lakukan,” ujar Wali Kota.

Sedangkan terkait impor beras, Wali Kota mengatakan pihaknya akan berupaya getol mendorong dan menyampaikan ke Gubernur, agar diteruskan ke pemerintah pusat.

“Nanti bersama DPRD Kota Batam dan BP Batam, kita akan terus minta ke pusat,” kata Dahlan.

Ketua Komisi II DPRD Batam, Yudi Kurnain mengatakan pihaknya ingin memastikan para distributor benar-benar memasok beras ke pasaran sehingga tak lagi langka.

“Yang penting stok yang ada bisa dilempar ke pasar,” kata Yudi yang didampingi anggota DPRD Komisi II lainnya, Mesrawati Tampubolon.

Dengan begitu, kata ia, tak akan ada lagi kekhawatiran stok beras menipis di pasaran. “Kita harus membuat masyarakat tenang,” kata dia. (rna/ceu/leo/hgt/she/cr16/cr20/cr14/bpos)

Respon Anda?

komentar